
Pesta pertunangan yang berlangsung meriah kini sudah berakhir. Semua tamu sudah pulang termasuk Arga dan Erlina.
Inka naik kelantai 2 dimana kamarnya berada. Wanita itu masuk kedalam kamarnya dan langsung membuka gaun yang melekat di tubuh nya.
Dia masuk kedalam kamar mandi dan berendam di bathtub karena dirinya memang sangat lelah.
Tiba-tiba pikiran nya tertuju pada pria yang sudah berhasil mengobrak Abrik perasaan nya.
" Apa aku sudah jatuh dalam pesonanya?" gumam Inka sambil memejamkan matanya.
" Ya. Wanita mana yang tak jatuh dalam pesona pria tampan seperti nya."
Inka melanjutkan kegiatannya. Dia sedikit menggosok tubuh nya dengan spons yang di penuhi bisa sabun yang wangi.
Dia sangat menikmati hal itu karena dia memang sangat jarang melakukan nya. Bukan karena apa, tapi melainkan di rumah nya tidak ada bathtub.
Dia biasanya bisa berendam seperti itu disaat dirinya menginap di apartemen Erlina yang kini sudah di tempati oleh ibu dan adiknya.
.
.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di dalam kamar Daxon yang ada di sebelah kamar nya.
Pria itu sedang mondar mandir tak karuan.
" Ini tidak mungkin. Aku yakin itu bukanlah benih ku!" gumamnya.
Ya. Daxon baru saja menerima telepon dari seorang wanita yang tiba-tiba mengaku mengandung anak dari Daxon.
Hal itu membuat pria itu cemas dan gelisah. Namun dia membantah dengan yakin bahwa janin yang di kandung oleh wanita itu bukanlah anaknya.
" Tak mungkin dia hamil anak ku. Aku selalu bermain aman jika sedang melakukan hal itu dengan seorang wanita. Tak mungkin benih ku tumpah di rahim wanita murahan seperti dia!"
Daxon menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan mencengkeram kuat rambutnya. Kepalanya serasa mau pecah karena memikirkan hal itu.
Pria itu sangat yakin jika anak itu bukanlah anaknya. Karena dia selalu menggunakan pengaman saat berhubungan dengan wanita, terlebih lagi, dia selalu menyemburkan benihnya di luar.
Dia tak mau jika hal itu sampai ke telinga orang tua nya. Apa lagi ke telinga Inka.
Wanita yang sudah resmi menjadi calon istri nya.
Wanita yang biasa dan sederhana yang mampu menarik perhatian nya dan membuat dirinya berjanji akan setia padanya.
Bukan karena cinta. Karena Daxon tidak pernah merasakan cinta pada salah satu wanita sebelumnya.
Dia hanya merasa nyaman dan wanita sederhana itu mampu membuat hidup nya yang flat dengan para wanita. Kini lebih berwarna dan ada tantangan tersendiri saat Inka selalu menolaknya.
" Aku harus menyelidiki hal ini. Aku harus menyelesaikan ini sebelum orang-orang tahu tentang masalah ini."
Daxon beranjak dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi. Dia hanya membasuh wajahnya dan langsung mengganti bajunya setelah keluar dari kamar mandi.
Setelah itu dia mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Lalu keluar dari kamar nya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sepertinya semua penghuni mansion itu sudah terlelap karena kelelahan dengan pesta yang baru saja usai.
Daxon melangkah kan kakinya dengan cepat menuruni tangga. Tanpa dia sadari, ada seseorang yang berdiri menatap nya.
Pria itu tak menyadari kehadiran seseorang yang menatapnya karena memang kondisinya sudah sedikit gelap dan remang-remang.
Daxon melangkah kan kakinya menuju pintu mansion dan keluar. Dia langsung masuk kedalam mobilnya dengan segera. Dia masih tak menyadari seseorang yang mengikutinya dan menatap kearah nya.
" Mau kemana dia malam-malam begini? apa dia mau ke club dan bermain dengan seorang wanita lagi?" gumamnya.
Inka melihat kunci mobil yang menggantung di samping pintu. Dia mengambil kunci itu dan memutuskan untuk mengikuti kemana mobil Daxon pergi.
Ya. Ternyata Inka yang sedang menatap dan mengikuti Daxon. Dia tadi sedang mengambil air putih ke dapur karena air minum di kamar nya habis.
Dia mendengar langkah kaki seseorang menuruni tangga dengan terburu-buru dan dia memutuskan untuk mengintip siapa malam-malam begini yang keluar dari kamarnya.
Dan disitu dia melihat Daxon yang berjalan tergesa-gesa menuju pintu mansion. Karena penasaran, Inka akhirnya memutuskan untuk mengikuti pria itu.