Forced Wedding

Forced Wedding
24 ( Drama pernikahan )



Arga mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju pant house milik Er.


Tak sampai 10 menit, Arga sampai di gedung yang tinggi menjulang dimana pant house Er terletak.


Arga langsung masuk kedalam dengan langkah cepat. Dia langsung naik melalui lift dan langsung menuju pintu pant house milik Er.


CEKLEK


Pintu kamar itu terbuka, semua tampak serentak menoleh pada seseorang yang muncul dari balik pintu.


" Arga ...," panggil Tita lirih.


Arga masuk dan langsung melihat Er yang masih tak bergeming di atas ranjang. Wanita itu masih setia memejamkan matanya bak putri tidur.


" Bagaimana ini, Ar. Sudah hampir satu jam kita membangun kan nya tapi dia tetap tak bangun," kata Tita mulai khawatir.


" Hubungi daddy, Mom. Minta pada daddy agar memundurkan jadwal pernikahan," kata Arga.


" Tapi. Bagaimana jika Uncle Erlando marah?" tanya Tita.


" Aku yang akan menghadapi kemarahan kakek. Sekarang cepat mommy hubungi daddy."


Tita langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Thoy.


Sementara lintang, dia terus terisak sambil mengguncang bahu Er Agar terbangun.


" Aunty jangan khawatir, aku tahu cara membangun kan seseorang yang sudah meminum Obat itu," kata Arga.


Lintang hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya.


" Inka, tolong isi bathtub dengan air dingin," kata Arga.


Inka langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan kran air dingin untuk mengisi bathtub.


Sementara itu, Arga menggendong tubuh Er kearah beranda. Arga membaringkan tubuh Er di sofa dan menghadap kan wajah Er pada sinar matahari.


Semua melihat kearah Er yang mulai bereaksi akibat cahaya sinar matahari yang langsung mengenai wajahnya.


" Er ... bangun Er. Erlina!!" Lintang terus memanggil nama Er dan mengguncang tubuh nya.


Er menggerakkan kepala nya dan mengangkat tangan nya untuk menutupi wajahnya dari cahaya sinar matahari.


" Eenghh ... Inka matikan lampu nya," kata Er lirih dengan suara seraknya.


" Eerr ... Bangun!!" teriak lintang.


Er mengerjapkan matanya, karena cahaya sinar matahari yang langsung mengenai matanya dia langsung mengalihkan pandangannya.


" Kenapa aku di sini?" kata Er lirih.


Dia melihat beberapa orang yang berdiri menatap nya.


" Ck, kenapa selalu ada yang mengganggu tidur panjang ku."


Er bangkit dan duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya.


Lintang yang melihat sang putri kini sudah terbangun, langsung memeluknya.


" Ada apa ini, Mom? kenapa Momy menangis?" tanya Er masih tak mengerti situasi ini.


" Jangan pernah meminum obat itu lagi, Er. Jangan!! aku takut jika kau tak bisa bangun lagi Er," kata lintang melepaskan pelukannya.


" Aku hanya ingin tidur nyenyak Mom. Aku tak bisa tidur semalam jadi aku meminum obat itu, siapa tahu setelah meminum obat itu aku terbangun langsung ada di surga," celetuk Er dengan enteng nya.


PLAK ...


Lintang memukul lengan kanan Er dengan sangat keras.


" Kau pikir itu sebuah lelucon, Er?"


PLAK ...


Lintang memukul lengan kiri Er.


" Apa kau tahu perasaan Momy saat kau tak kunjung bangun, Er. Kau tak memikirkan perasaan Momy?" kata lintang emosi.


" Sakit Mom ...," kata Er mengelus kedua lengan nya.


" Cepat mandi, dan kau harus bersiap!!" tegas lintang.


Dia langsung pergi dari tempat itu bersama Tita dan memilih untuk menunggu Er di ruang tengah.


Arga menatap tajam pada Er. Dia menghampiri Er lalu menundukkan badan nya.


Cup


Arga langsung mencium bibir Er yang sangat dekat dengan bibirnya dengan sedikit menyesapnya sekilas. Lalu pergi dari tempat itu.


Er terbelalak dengan apa yang di lakukan Arga.


" Kau mungkin bisa menikahi ku, tapi kau tidak akan bisa menyentuh ku!!" teriak Er kesal.


Arga menghentikan langkah dan menoleh. Ada seringai tipis di bibirnya dan berkata.


" Kau yakin dengan hal itu, Er? Kau akan meminta nya lagi ketika sudah merasakannya.


" Never ever. Dan aku tidak akan membiarkan kau menyentuh ku sedikit pun!!" teriak Er.


" Kita lihat saja nanti," kata Arga sambil melangkah kan kakinya menuju pintu kamar.


" Aaaarrggh ... MOMIIII ... KENAPA KAU MAU MENIKAH KAN KU DENGAN PRIA BRENGSEKKK INI!!!! I HATE YOU AARR ... I HATE YOUU !!!" teriak Erlina frustasi.


Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang selain pasrah dengan pernikahan itu.


Arga tersenyum miring mendengar teriakkan Er dari balik pintu.


" Ar ... apa yang kau lakukan pada Er?" tanya Tita mendengar teriakkan Erlina.


" Aku hanya sedikit menggodanya, Mom. Jangan khawatir," sahut Arga.


" Ku harap kau bisa menjinakkan nya, Ar," kata lintang sambil tertawa pelan.


" Ah ya. Kau akan langsung ke hotel, Ar?" tanya Lintang.


" Ya, Aunty. Aku yang akan menjelaskan drama kecil ini pada Daddy dan kakek," sahut Arga.


Lalu dia pergi dari pant house itu setelah berpamitan dengan Tita dan lintang.


.


.


Erlina keluar dari dalam kamar mandi dengan badan yang bergetar karena kedinginan.


" Kenapa air di bathtub dingin sekali, Inka," kata Er melangkah kan kakinya dengan perlahan.


" Tuan Arga yang menyuruh ku mengisi bathtub dengan air dingin, Er. Aku pikir dia akan langsung memasukkan mu kedalam bathtub itu tadi," kata Inka menghampirinya Er.


" Huuuft. Dingin sekali, Inka. Dia Ingin aku mati kedinginan seperti nya," kata Er duduk di tepi ranjang.


Inka tertawa pelan mendengar ocehan Er.


" Ini tidak lucu sehingga kau bisa tertawa, Inka," kata Er sambil memeluk tubuhnya sendiri.


" Ini minumlah," kata Inka memberikan gelas yang sudah berisi minuman yang bisa menghangatkan Er.


" Terimakasih." Er langsung meminumnya.


Benar saja, setelah Er meminum minuman itu tubuhnya sedikit merasa hangat.


Lalu Inka membantu Er mengganti bajunya dengan kemeja sebelum para perias merias wajah Er.


Kini Er sudah selesai dirias. Inka membantu Er mengganti bajunya dan mengenakan gaun pernikahannya.


Er memutar tubuhnya di depan cermin tanpa senyuman di wajahnya.


" Huuuft ... kenapa harus secantik ini?" kata Er mencebik.


" Kau ini aneh, Er. Kau selalu ingin tampil perfect di depan kamera. Dan sekarang hari pernikahan mu tapi kau malah tak ingin terlihat perfect," celetuk Inka sambil menggelengkan kepalanya.


Lalu Inka membantu menyingkapkan gaun panjang itu agar Er bisa berjalan tanpa menginjak gaunnya.


CEKLEK


Pintu kamar Er terbuka. Lintang dan Tita melihat kearah pintu bersamaan.


Mereka melihat Er muncul dari pintu itu dengan penampilan yang sangat memukau dan sangat cantik.


" Sayang, kau sangat sangat cantik," kata Tita menghampiri Er.


Er hanya menanggapinya dengan tersenyum. Dan itu semakin membuat dirinya terlihat sangat cantik.


" Ayo, kita langsung berangkat. Para tamu sudah menunggu di sana," kata lintang.


Lalu mereka berjalan beriringan menuju lift untuk turun dan keluar dari gedung itu.