Forced Wedding

Forced Wedding
29. ( Erlina Arga )



Arga menatap wajah Er yang terlihat sangat cantik ketika dia mendapat puncaknya.


Senyumnya tersungging seakan dia sudah menang dan bisa menaklukkan wanita itu hanya dengan permainan tangan nya.


Lalu Arga dengan cepat membuka kain terakhir yang menempel di tubuhnya. Er yang melihat hal milik Arga yang sudah siap untuk bertempur menutup matanya.


" Tidak ... Jangan ... Jangan!!! aku tidak mau aku tidak mau!! Wanita itu ... Dan Daddy __ Aku tidak mau melakukan hal yang menjijikkan itu!! TIDAAKK!!" teriak Er histeris dan langsung berlari ke kamar mandi serta mengunci pintunya.


Arga tampak kesal karena hal itu membuat kegiatannya terhenti dan melihat Er yang kembali histeris saat melihat miliknya, pria itu tampak berpikir.


" Apa karena kejadian percobaan pemerkosaan yang menimpa pada nya waktu itu dia histeris seperti itu? apa karena ada hal lain?" gumam Arga.


Lalu dia mendengar Er berteriak histeris di kamar mandi dengan melemparkan segala benda di dalam sana.


" WANITA ******!! WANITA BRENGSEK!! AKU SEPERTI SUDAH GILA KARENA MU!!! AKU AKAN MENCARI MU. AKU AKAN MEMBUNUH MU!! AAAARRGGH!!!"


teriak Er dari dalam kamar mandi.


Dia seakan begitu trauma melihat senjata milik seorang pria karena mengingat kan nya pada masa lalunya.


Arga menghampiri Er. Dia mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Er.


" Buka pintunya, Er. Aku tidak akan melakukan nya jika kau belum siap! ayo keluar!!" teriak Arga dari luar pintu.


" Tidak ... Pergi dari sana!! Pergi!!" sahut Er dari dalam sambil berteriak.


" Shiiittt. Aku harus menelpon psikiater," gumam Arga.


Dia langsung mengenakan celana training panjang dan kaosnya. Lalu dengan cepat dia mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter psikiater yang dia kenal.


" Hallo. Dokter aku membutuhkan bantuan mu sekarang juga," kata Arga setelah panggilan itu terjawab.


" Ya. kirimkan lokasimu. Aku akan kesana segera, Ar," sahut dokter wanita dari seberang telepon.


" Baiklah. Ku mohon cepatlah Dokter. Ini darurat." Arga langsung mengirimkan lokasinya setelah mematikan panggilan itu.


Er masih histeris di dalam kamar mandi. Lalu Er menyalakan air keran untuk mengisi bathtub nya.


Arga hanya mendengar kan apa yang di lakukan Er dari balik pintu kamar mandi.


Sekitar 10 menit berlalu, Arga tak mendengar suara dari dalam kamar mandi.


" Apa dia sudah tenang?" gumam Ar yang kini hanya mendengar gemericik air yang penuh dan tumpah.


" Atau dia malah ...." Perkataan Arga menggantung saat terbesit hal buruk yang terjadi pada Er di dalam sana.


" Er ... buka pintunya!!" teriak Arga sambil mendobrak pintu kamar mandi.


" Er ... Kau dengar aku!!" teriak Ar lagi sambil terus berusaha mendobrak pintu itu.


" Shiiittt. Apa yang dia lakukan di dalam," umpat Arga saat tak bisa mendobrak pintu.


Lalu Arga mengambil sebuah alat. Mencoba merusak gagang pintu itu agar bisa terbuka.


BRAAKK


Arga mendobrak pintu dengan begitu keras setelah berhasil merusak pintu itu. Dia tak melihat keberadaan Er disana.


Namun dia hanya melihat Air dari bathtub yang meluap dan membanjiri lantai. Arga dengan cepat menghampiri bathtub.


Dia begitu terkejut saat melihat Er yang sudah tak sadarkan diri di dasar bathub.


" Er ..."


Arga mengangkat tubuh Er yang hanya mengenakan CD dari dalam bathtub.


Pria itu membawa Er keluar dari kamar mandi dan membaringkan nya di atas ranjang. Air terlihat menetes dari tubuh Er dan membuat lantai nya basah.


Arga dengan cepat mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Er. Dia mencoba membuka kain terakhir yang menempel di bagian tubuh Er paling bawah.


" Huuuft ... ujian yang berat," kata Arga.


Pri itu menarik CD itu dengan perlahan.


Fokus nya mulai terpecah saat melihat milik Er yang ranum. Dia mengingat apa yang tadi dia lakukan pada wanita itu hingga membuat wanita itu mendesah.


Lalu terlepas lah kain yang basah itu. Dia menutupi tubuh polos Er dengan selimut dan meletakkan CD nya di keranjang baju kotor.


Arga bergegas mengambil pakaian yang sudah tersedia di dalam lemari secara acak. Dan memakainya pada tubuh polos Er.


" Huuuft ... Done," kata Arga setelah selesai memakaikan pakaian pada tubuh Er.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu di ketuk. Arga bergegas membuka pintu itu.


" Dimana dia?" kata dokter Rini to the poin.


Arga mempersilahkan dokter Rini masuk.


Mereka berjalan menuju Er yang terbaring di atas ranjang.


" Dia tak sadarkan diri. Dia histeris di dalam kamar mandi dan berakhir dengan menenggelamkan diri di bathtub," kata Arga menjelaskan.


Dokter Rini melakukan serangkaian pemeriksaan pada Er.


" Apa yang membuatnya histeris, Ar?" tanya dokter Rini.


Arga tak langsung menjawab. Dia berpikir akan menjelaskan seperti apa pada dokter Rini karena Er histeris saat melihat miliknya yang menegang.


" Kenapa, Ar? katakan saja agar aku bisa menganalisis permasalahan nya," kata dokter Rini lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Arga.


" Dia histeris saat aku mencoba bercinta dengannya. Karena ini malam pertama kami. Dia semakin histeris saat melihat milikku," kata Arga akhirnya menjelaskan apa yang terjadi.


Deg


Dokter Rini merasa jantungnya akan berhenti berdegup mendengar Arga mengucapkan ini malam pertama mereka.


Dia sebenarnya menyimpan perasaan pada Arga semenjak di universitas.


Dokter Rini adalah salah satu teman Arga saat kuliah dulu. Hanya saja mereka berbeda jurusan. Rini di fakultas kedokteran dan Arga di fakultas ekonomi dan bisnis.


" Kau sudah menikah tapi tak mengundang ku?" tanya Rini mengalihkan pembicaraan.


" Aku hanya di jodohkan dengan nya. Jangan membahas hal itu sekarang. Cepat tangani dia," sahut Arga tak suka dengan pertanyaan menyimpang dari Rini.


' Di jodoh kan? tapi kau berusaha menidurinya,' batin Rini kecewa.


" Aku tidak bisa memutuskan apapun untuk saat ini karena dia tak sadarkan diri. Tapi yang pasti, dia memiliki trauma berat. Apakah dia korban pelecehan?" tanya Rini mencoba fokus meskipun hatinya seperti teriris sembilu.


" Ya. Dia pernah akan di perkosa," sahut Arga.


" Ya. mungkin itu penyebab nya." Lalu Rini berdiri dan menghampiri Arga.


" Kau mencintai nya, Ar?" tanya Rini.


Arga mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Rini.


" Pertanyaan yang tak penting," sahut Arga.


" Ini penting bagiku, Ar. Kau tahu sejak dulu aku sangat mencintaimu, kan?" kata Rini.


" Lupakan tentang itu. Lupakan perasaan mu padaku karena hanya sakit hati yang kau dapatkan," sahut Arga.


" Katakan padaku, apa kau mencintai nya, Ar?" tanya Rini sekali lagi sambil menggenggam tangan Arga.


Arga tak menjawab. Dia hanya memalingkan wajahnya dan melihat kearah Er yang masih tak sadarkan diri.


" Jika kau tak mencintai nya. Aku akan terus menunggu mu sampai kau bosan padanya dan datang lan padaku. Aku memiliki cinta yang besar untuk mu," kata Rini mengungkapkan keinginannya.


" Jangan membuang-buang waktu mu, Rini. Carilah pria yang bisa mencintai mu dengan tulus. Bukankah dicintai lebih baik dari mencintai?" sahut Arga menatap manik mata Rini yang mulai berair.


" Pergilah. Aku tidak akan menghubungi mu lagi," kata Arga melepaskan tautan tangan Rini dari tangan nya.


Lalu tiba-tiba Rini mencium bibirnya sekilas dengan sambil menyesapnya.


" I love you," kata Rini melepaskan ciumannya dan memeluk tubuh Arga.


Dan disaat wanita itu mencium Arga. Er tersadar dan melihat adegan itu.