Forced Wedding

Forced Wedding
S2 Inka - Daxon 44



2 bulan kemudian.


Daxon tengah mengantarkan sang istri ke rumah sakit untuk memeriksa kan kakinya. Wanita itu sering berlatih untuk tak menggunakan tongkat ketika berada di mansion.


Dan hari ini adalah kali terakhir Inka melakukan terapi nya karena dia sudah bisa bergerak lebih leluasa tanpa tongkat lagi.


Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Inka hanya menatap kearah jendela dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.


Wanita itu seolah sedang memikirkan sesuatu dan Dixon menyadari hal itu. Pria itu memegang tangan Inka dan mengusap nya.


" Beby ..." panggil Daxon.


Inka menoleh dan tersenyum pada sang suami.


" Hhmmm?"


" Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Daxon.


" Tidak. Aku sedang tidak memikirkan apapun," sahut Inka.


" Tidak perlu menyembunyikan sesuatu dariku, Beby. Aku sangat tahu kau sedang memikirkan sesuatu," ucap Daxon sambil fokus dengan jalanan yang padat.


Inka terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia meremas tangan nya sendiri dan terlihat gelisah.


" Katakan padaku, apa yang kau pikirkan? aku tidak suka jika melihat kau seperti ini," sahut Daxon lagi.


Inka melihat kearah Daxon yang tengah fokus dengan kemudi nya.


" Aku ... aku hanya berpikir, kenapa sampai saat ini aku belum hamil," ucap Inka lirih.


Mendengar ucapan dari sang istri, Daxon langsung meminggirkan mobilnya dan menghentikan nya.


Pria itu melihat kearah sang istri yang berwajah sendu. Dia mendekati Inka dan menangkup pipi nya lalu mengecup kening nya.


" Jadi kau ingin segera hamil, begitu?"


Inka langsung mengangguk kan kepalanya sambil menatap mata Daxon.


Daxon tertawa kecil dan membawa sang istri ke pelukannya karena mungkin itu yang saat ini sedang dia butuhkan.


Inka tersenyum saat ada di pelukan hangat sang suami karena pria itu seperti sangat tahu apa yang sedang dia butuhkan.


" Kita akan ke dokter SpOG setelah kau memeriksa kan kondisi kakimu, Hmmm?" kata Daxon dengan nada yang lembut sambil mengusap punggung sang istri.


Inka menganggukkan kepalanya dan semakin memeluk erat tubuh sang suami. Daxon mencium puncak kepala sang istri dan tetap memeluk nya.


Setelah cukup lama berpelukan dan Inka merasa lebih tenang. Mereka melanjutkan perjalanan nya menuju rumah sakit yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi.


*


Inka keluar dari dalam mobil dan Daxon mengulurkan tangannya. Mereka berjalan bergandengan tangan memasuki rumah sakit itu dan langsung menuju ke ruangan dokter yang selama ini melakukan perawatan pada kaki Inka.


Inka sudah tak menggunakan tongkat nya karena dia sudah bisa berjalan dengan normal. Kedatangan nya ke rumah sakit hanya karena permintaan Daxon yang ingin memastikan kondisi kaki sang istri.


Dan berkonsultasi dengan dokter apakah Inka sudah benar-benar tak membutuhkan tongkat nya lagi. Meskipun kini Inka sudah bisa berjalan dengan normal, pria itu masih khawatir jika dokter belum memeriksanya.


*


Kini Dokter tengah memeriksa kondisi kaki Inka. Dokter itu juga memeriksa kondisi tulang kaki Inka apakah keadaannya sudah benar-benar pulih atau tidak.


Daxon terus memperhatikan dan menemani sang istri di ruangan itu. Hingga dokter selesai memeriksa kondisi Inka dan dia duduk di kursinya.


" Nona Inka, Coba kau bangun dan beranjak sendiri dari ranjang dan berjalan kemari," ucap dokter itu.


Inka tersenyum dan dia bangkit secara perlahan dari ranjang. Dia menurunkan kakinya secara perlahan dan turun dari ranjang itu secara perlahan dan dokter pun memperhatikan nya.


" Bagaimana, Dokter? aku sudah tak membutuhkan tongkat itu lagi, kan?" tanya Inka sambil berjalan kearah kursi yang ada di seberang meja dokter.


Dokter itu tampak tertawa kecil.


" Istri Anda benar-benar memiliki semangat yang luar biasa untuk segera sembuh, Tuan. Biasanya akan butuh waktu yang cukup lama dan sekitar satu tahu jika di lihat dari kondisi tulang kaki nya yang patah. Tapi ini tidak, dia sudah bisa berjalan dengan normal hanya dalam waktu beberapa bulan dan tidak sampai satu tahun."


Ucapan dari dokter itu langsung membuat senyum Inka mengembang. Wanita itu duduk di kursi yang ada di seberang meja dokter yang sudah ada Daxon disampingnya.


" Benarkah? jadi aku sudah tak membutuhkan tongkat itu, kan? Tongkat itu membatasi gerak gerik ku, Dokter." Kata Inka.


Dokter itu tampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Lalu bagaimana dengan kondisi tulang kakinya, Dokter? apa kondisinya sudah benar-benar kuat untuk berjalan lagi?" tanya Daxon.


" Beby ... Dokter sudah mengatakan bahwa kakiku sudah baik-baik saja!" kata Inka mencebik.


" Kita tunggu hasil foto ronsen nya dulu, setelah itu aku bisa memastikan keadaan tulang kakinya," sahut Dokter itu.


Lalu seorang perawat masuk kedalam ruangan dokter itu dengan membawa hasil dari pemeriksaan Inka.


Perawat itu memberikan map berwarna coklat pada dokter dan dokter itu menerima nya. Dia langsung membukanya dan mengeluarkan isi dari map itu.


Daxon dan Inka tampak memperhatikan saja, dan tidak menanyakan sesuatu pada dokter yang terlihat sedang berkonsentrasi melihat hasil pemeriksaan itu.


Karena tak sabar menunggu penjelasan dari dokter, akhirnya Inka membuka suara untuk bertanya.


" Bagaimana hasilnya, Dokter?"