
_( Mataku terkunci pada mu )_
Erlina sampai di pant house mewah miliknya menjelang malam.
Wanita itu masuk kedalam pant house nya melepas high heels lalu meletakkan tasnya dan langsung menuju kamar mandi.
Er mengisi air di bathtub untuk merendam tubuhnya yang terasa lelah.
Dia langsung merendam tubuhnya di dalam bathtub yang sudah terisi dengan air hangat dan busa sabun.
" Ahh ... Akhirnya ...." Er menyandarkan kepalanya di bathtub dan memejamkan matanya, seraya merilekskan tubuhnya.
Setelah beberapa menit memejamkan matanya, Er mengingat sesuatu dan langsung membuka matanya.
" Oh my, aku menandatangani kesepakatan itu tanpa membaca isinya terlebih dahulu. Kenapa aku bodoh sekali." gumam Er sambil menepuk jidatnya.
Er langsung buru-buru menyelesaikan kegiatan mandinya lalu keluar dari kamar mandi.
Wanita itu berhamburan mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Ting ... Nong ...
Bel pintunya berbunyi, Er langsung berjalan menuju pintu dengan tubuh yang hanya terlilit handuk dan menutupi separuh paha nya.
" Ck, Pasti itu Inka." gumamnya sambil berjalan menuju pintu.
CEKLEK
Terdengar suara pintu di buka.
" Ck, kau ini mengganggu saja, cepat masuk dan tutup pintunya." Er langsung meninggalkan pintu yang sudah dia buka tanpa melihat kearah seseorang yang masih berdiri menatap dirinya.
Arga tersenyum miring, dan melangkah kan kakinya masuk lalu menutup pintunya. Persis seperti apa yang disuruh oleh Er.
Pria itu terpaku, matanya seakan terkunci pada sosok wanita cantik yang sedang berdiri membelakangi nya.
Arga berdiri di belakang Er yang sedang asik memakai pakaian dalamnya dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya.
Lalu menjatuhkan handuk nya ke atas lantai setelah memakai CD dan branya.
Er merasa aneh saat dirinya tak mendengar Omelan yang biasa keluar dari mulut sang asisten karena memakai pakaian nya di sembarang tempat.
" Tumben sekali kau tidak mengomel, biasanya kau ___" perkataan Er terpotong saat membalikkan tubuhnya dan melihat seorang pria tampan yang sedang terpaku menatap tajam kearah nya.
" KAU !!!" teriak Er membelalakkan matanya melihat Arga.
Lalu Er mengambil handuk yang terjatuh di lantai dan melilit kannya lagi ke tubuhnya.
Arga tersenyum miring melihat tingkah Erlin yang tampak salah tingkah.
" Tak perlu menutupi nya lagi, Karena aku sudah melihatnya," kata Arga berjalan mendekati Er.
Er tampak gugup dan malu, lalu Er berlari menuju kamar mandi tapi Arga dengan cepat menarik tangannya dan merengkuh pinggangnya.
" M_ mau apa kau d_datang kemari?" tanya Er gugup dengan posisi wajah yang sangat dekat dengan wajah tampan Arga.
" Kenapa? Apa aku harus punya alasan tertentu untuk menemui calon istri ku?" sahut Arga dengan suara bass nya.
Er memundurkan wajah nya saat Arga memajukan wajahnya.
" Kau takut padaku?" kata Arga dengan hidung yang sudah menyentuh hidung mancung Er.
Er merasakan detak jantung nya begitu kencang. Dan nafas Arga yang menerpa wajahnya.
" Benarkah?" sahut Arga menyentuh bibir Er dengan jarinya.
Er menjauhkan tangan Arga yang menyentuh bibirnya sambil menatap lekat manik mata pria itu.
" Apa mau mu, Tuan? Ada hal apa yang membuat mu mendatangi ku kemari?" tanya Er menyipitkan matanya.
Arga tertawa lalu melepaskan tangan nya yang melingkar di pinggang ramping Er.
" Bukankah kau sudah menandatangani kesepakatan kita diatas kertas?" jawab Arga duduk di sofa besar nan lebar itu dan melihat kearah Erlina.
" Ah ya, kau sepertinya belum membaca isi dari kesepakatan itu kan? Akan aku jelaskan," kata Arga tersenyum licik.
" Hanya ada 3 point di dalam berkas itu. Yang pertama, kita akan menjadi sepasang suami istri yang bahagia di hadapan keluarga maupun di luar."
Er mendengarkan nya dengan seksama sambil menganggukkan kepalanya.
" Yang kedua, Kau harus menuruti apapun perintah ku, termasuk aku berhak mengatur kehidupan mu."
" What ... Itu tidak bisa. Aku tidak mau di atur dan aku tidak akan patuh pada perintah mu, Tuan!!" tegas Er tak terima.
Arga tak memperdulikan komentar Erlina dan terus menjelaskan isi dari surat itu.
" Dan yang terakhir, tidak akan ada kata perceraian sampai kapanpun."
" What ... Kau menjebak ku dengan kesepakatan ini, Ar!! Aku tidak mau, aku tidak menyetujuinya!!" bantah Er menghampiri Arga.
Lalu Arga menarik tangan Er hingga terjatuh di atas sofa lebar itu, dan Arga langsung menindih nya.
" Kau sudah menandatangani nya, sayang." bisik Arga di telinga Er dengan posisi Er yang tengkurep di atas sofa dan membelakangi nya.
Er berontak dan ingin membalikkan tubuhnya tapi Arga sudah terlebih dulu mengunci tubuhnya.
" Lepaskan aku, Ar!!" pekik Er.
" Kesepakatan itu hanya menguntungkan bagimu, tapi tidak untuk ku!!" kata Er berontak.
" Kita sama-sama di untungkan, sayang." jawab Arga.
" Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!! aku jijik mendengarnya!!" bentak Er.
" Sampai jumpa di hari pernikahan kita, sayang." Bisik Arga di telinga Er lalu mengecup tengkuk leher wanita cantik itu.
Lalu pergi dari sana.
" Aaaarrgghhhh, Arga brengsek !!!" teriak Er.
Arga yang baru keluar dari pintu mendengar teriakkan dari Er dan hanya tertawa dengan penuh kemenangan.
' Aku memang terpaksa menikahi mu Er, tapi di balik itu keuntungan yang besar menanti ku. Termasuk memilikimu," batin Arga sambil berjalan menjauh dari pintu.
Sementara itu di dalam pant house itu terdengar Er sedang mengumpat Arga.
" Dasar pria brengsek, Kenapa kakek begitu percaya pada pria brengsek itu." Er berjalan mondar mandir di dalam kamar nya.
" Tunggu," Er menghentikan langkahnya.
" Dia tidak menjelaskan bahwa aku tidak harus memenuhi kewajibannya ku, kan? itu artinya kita tidak akan berhubung badan selama pernikahan ini." gumam Er lega lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
" Lalu akan seperti apa pernikahan ini nantinya?" gumam Er sambil menatap langit-langit kamar itu.
" Aahh ... what ever." Er langsung menutup tubuh nya dengan selimut lalu menutup matanya.