
Kini mobil yang di tumpangi Er dan Arga sudah tiba di mansion mereka. Begitu pun juga dengan mobil Daxon.
Mereka memutuskan untuk makan siang bersama di mansion Arga. Dan Daxon menyetujui hal itu.
Semuanya tampak berkumpul di halaman samping mansion yang terdapat kolam renang yang berukuran besar disana.
Er meminta pelayan nya untuk menyiapkan makan siang nya disana. Mereka mengobrol ringan sembari menikmati makan siang nya.
" Apa kepala mu benar-benar tak pusing, Beby?" tanya Arga saat melihat Erlina tampak sangat menikmati kebersamaan itu.
" Tidak. Jangan khawatir kan aku, aku baik-baik saja dan ini hanya luka kecil," sahut Er memegang tangan Arga.
" Lalu bagaimana dengan kontrak kerja mu, Er?" tanya Inka.
" Hampir selesai. Dan aku hanya tinggal menunggu kontrak itu berakhir karena aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku. Ah ya. Hanya tinggal 3 acara catwalk saja," sahut Er sambil menyuapkan makanan ke mulut Arga.
Ya. Begitulah kemesraan Er dan Arga, mereka akan menyuapi satu sama lain. Apapun makanannya dan meskipun selera makan mereka yang berbeda. Mereka akan tetap saling menyuapi.
" Syukurlah ... lalu apa kau sudah tak meminum pil itu?" tanya Inka dan hampir membuat Er tersedak.
" Inka !!! aku sudah lama membuang pil itu," sahut Erlina.
Inka tertawa saat melihat ekspresi wajah Erlina yang seakan cemas.
" Lalu bagaimana dengan wanita itu?" tanya Daxon menyela pembicaraan dua wanita itu.
Erlina tampak berpikir dan menatap kearah Arga.
" Aku menyerahkan itu pada mu, dan yang pasti aku tak ingin wanita itu bisa berkeliaran bebas di kota ini," sahut Er sambil menyuapkan dessert ke mulutnya.
" Aku akan menyerahkan wanita itu pada pihak yang berwajib," sahut Arga.
" Ya. Dan bilang ke pengacara mu untuk bisa memberatkan hukuman nya karena wanita itu sepertinya memilki gangguan jiwa," sahut Inka.
" Yup. Dia cukup berbahaya untuk bisa berkeliaran bebas di luaran sana," lanjut Daxon.
Arga tampak menganggukkan kepalanya beberapa kali dan menyetujui saran itu.
Mereka melanjutkan obrolan nya hingga acara makan siang pun berakhir. Inka dan Daxon langsung pamit pulang.
Sementara Er langsung mengistirahatkan tubuh nya di ranjang empuk nya. Arga langsung bertindak cepat dan menghubungi pengacara nya untuk menyelesaikan kasus wanita yang sudah menyerang Erlina.
.
.
3 bulan berlalu.
Inka sudah tak duduk di kursi roda nya. Kaki sebelah kanannya sudah bisa bergerak lebih leluasa dan dia hanya menggunakan satu tongkat untuk membantunya berjalan.
Wanita itu kini sedang di sibukkan dengan semua bunga yang ada di halaman belakang. Dia sangat menyukai bunga dan Daxon sengaja menyulap separuh dari halaman belakang untuk tanaman sang istri.
Inka masih rutin ke rumah sakit untuk melakukan terapi nya. Karena dia ingin segera bisa lepas dari tongkat dan bisa bergerak lebih leluasa lagi.
*
Sore itu. Inka sedang merangkai bunga-bunga yang baru dia petik. Ada pesanan buket bunga dan dia langsung merangkai nya.
Daxon tampak baru datang dari perusahaan nya. Dia berjalan masuk kedalam mansion dan tak melihat siapa pun disana.
Lalu dia bertanya pada salah satu pelayan yang kebetulan lewat.
" Dimana istriku, Bibik?" tanya Daxon.
" Nyonya sedang merangkai bunga nya di halaman samping, Tuan."
" Terimakasih, Bik. Ah ya, buatkan minuman untuk ku dan bawa ke halaman samping," sahut Daxon.
" Baik, Tuan." sahut pelayan itu dan langsung berjalan menuju dapur.
Daxon memutuskan untuk menemui sang istri lebih dahulu sebelum dirinya ke kamar.
Pria itu berjalan perlahan ke tempat dimana Inka berada.
Dia bahkan tak menimbulkan suara saat melangkah kearah Inka yang tampak sedang sibuk dengan bunga nya.
Dengan gerakan perlahan, Daxon menghampiri Inka dan langsung menutup kedua mata Inka dengan tangan nya.
Inka mencium aroma parfum sang suami dan dia menyadari kehadiran pria itu.
" Aku tahu ini, Kau Dax. Jadi singkirkan tangan mu," ucap Inka.
" CK. Kau selalu saja bisa menebak ku," sahut Daxon melepaskan tangan nya yang menutupi mata Inka dan langsung memeluk nya dari belakang.
" Ini masih Sore, kenapa kau sudah datang?" tanya Inka mengusap pipi Daxon yang berjambang.
Daxon melepaskan pelukannya dan duduk di kursi yang ada di samping Inka.
" Aku merindukan istriku, tapi sepertinya dia tak merindukan ku karena sibuk dengan semua bunga-bunga nya," sahut Daxon mencebik.
Inka terkekeh dan mencubit kedua pipi Daxon karena merasa gemas dengan sang suami.
" I Miss you to, Beby. Setelah ini kita akan ke kamar, oke!"
Wajah Daxon kembali bersemangat dan dia langsung menghujani ciuman di seluruh wajah Inka.
" Aku akan mandi dulu, setelah ini aku akan membantumu," kata Daxon dan langsung pergi dari tempat itu.
Inka terkekeh sambil menggeleng kan kepalanya.
" Tuhan, semoga rumah tangga kita bisa seterusnya seperti ini," gumam Inka.