Forced Wedding

Forced Wedding
28 Erlina Arga



Pesta telah berakhir. Kini Er sedang berada di kamar hotel yang berada di lantai paling atas, di kamar presiden suite karena hotel itu milik keluarga Mahardika.


Wanita itu duduk di depan meja rias yang terdapat cermin besar disana. Dia melihat pantulan dirinya di cermin dengan ekspresi datar nya seakan sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.


CEKLEK


Arga keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Pria itu melihat kearah Er yang termenung di depan meja rias dengan menopang dagunya.


" Aku tidak akan memaksa mu melakukan nya jika itu yang kau pikirkan," kata Arga lalu berjalan menuju walkin closet.


Er tak menjawab. Dia hanya terus menatap kearah cermin. Entah apa yang sedang dia pikirkan.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia langsung mengangkat nya tanpa melihat siapa yang telah menghubungi nya.


" Hallo."


" Hallo ... gadis kecil. Selamat atas pernikahan mu," kata Airin dari seberang telepon.


Er langsung tersadar dengan wajah yang terkejut.


' Oke. Aku harus mulai melawannya,' batin Er.


" Ya. Terimakasih. Aku senang kau masih ingat pada ku," sahut Er memberanikan diri.


Airin tertawa sinis di seberang sana.


" Mana mungkin aku melupakan gadis kecil yang dulu sudah melihat pertunjukan vulgar ku dengan ayah nya. Itu akan membekas di ingatan ku," ucap Airin sinis.


" Ya. Aku juga sangat mengingat hal itu. Dan tak akan pernah melupakan nya," sahut Er sambil berjalan menuju beranda kamar.


" Hah. Kau mulai berani rupanya," kata Airin sinis.


" Ya. Aku tidak takut pada siapa pun, karena aku bukanlah gadis kecil lagi. Jika kau menghubungi ku hanya untuk mengingat kan ku tentang hal yang menjijikkan itu, maka berhentilah. Aku sangat mengingatnya dan tak akan pernah melupakan nya!" kata Er tegas lalu langsung memutuskan panggilan itu.


Tut ... Tut.


Terdengar suara panggilan yang terputus.


" Sial. Berani sekali dia memutuskan panggilan ku," geram Airin.


" Huuuft."


Er menghembuskan nafasnya kasar. Lalu membalikkan tubuhnya. Dia tampak terkejut saat melihat Arga sudah berdiri di ambang pintu kaca pembatas kamar dengan beranda.


" Sejak kapan kau disitu?" tanya Er dengan nada dingin nya.


" Sejak kau berada di sana," sahut Arga dengan tatapan tajam nya.


Er tak lagi menjawab. Dia langsung berjalan untuk masuk kedalam kamar. Namun saat Er melewati Arga tangan nya di tarik oleh Arga hingga menempel pada tubuh kekarnya yang tak mengenakan baju.


Posisi mereka sangat dekat hingga membuat Er harus mendongakkan kepalanya untuk menatap pria itu.


" Siapa yang menghubungi mu barusan?" tanya Arga.


" Bukan urusan mu," sahut Er masih menatap mata tajam Arga.


" Itu sudah menjadi urusan ku mulai saat ini," sahut Arga.


Er tertawa pelan.


" Karena aku istri mu? lucu sekali," kata Er sinis dan hendak pergi dari hadapan Arga.


Namun lagi-lagi Arga menahan tangan nya. Pria itu perlahan menghampiri nya hingga dadanya menempel dengan bahu Er yang terbuka.


" Katakan padaku siapa yang menghubungi mu," kata Arga sambil mengecupi bahu halus Er yang masih wangi.


Er merasakan darahnya berdesir dan dadanya mulai bergemuruh.


" Katakan lah," ucap Arga lagi yang kini beralih mengecupi tengkuk leher Erlina. Dengan tangan yang memegang pinggang ramping Er.


Er menikmati apa yang di lakukan Arga dan tak berontak. Itu sangat bertolak belakang dengan kata hatinya yang menolak tapi tubuhnya menikmati itu.


" Wanita yang dulu berselingkuh dengan Daddy," jawab Er akhirnya.


Arga menyunggingkan senyumnya saat merasa sudah tahu kelemahan Er.


Wanita itu akan berkata jujur ketika dia menerima sentuhan lembut dari dirinya, dan Arga akan memanfaatkan hal itu jika Er tak kunjung berbicara jujur padanya.


" Untuk apa dia menghubungi mu?" tanya Arga yang kini beralih menciumi area kuping Er.


Hal itu membuat Er meremang dan nafasnya yang mulai tak teratur. Lalu mengangkat kedua bahunya tanda dia tak tahu apa tujuan wanita itu menelpon nya.


" Kau menikmatinya?" tanya Arga sambil memijat lembut tengkuk leher Er.


Er hanya menganggukkan kepalanya tanpa membuka matanya yang semenjak tadi sudah tertutup karena menikmati sentuhan lembut dari seorang pria yang tak pernah dia rasakan.


Lalu Arga membalik tubuh Er hingga menghadap kearah nya dan langsung ******* bibir Er yang terbuka.


Pria itu menekan tengkuk lehernya sambil melingkarkan tangan yang lain ke pinggang Er dan sedikit menekan nya hingga menempel sempurna pada tubuhnya.


Er menikmati ciuman itu dan membalas nya. Tangan yang semula menahan dada bidang Arga kini beralih melingkar ke leher kokoh pria yang kini menjadi suami nya itu.


Arga seakan melupakan rencana awalnya yang ingin menyelidiki rahasia yang di sembunyikan Er dari keluarga nya.


Dia kini seolah tersihir oleh pesona cantik Er dan bibir manisnya yang entah sejak kapan sudah menjadi candu nya.


Tangan nya meraba seluruh tubuh Er yang masih tertutup gaun. Dia seolah mencari sesuatu di gaun itu agar bisa membukanya.


Er menyadari hal itu, namun dia membiarkan nya. Dia sedang dalam mode penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kini Arga sudah menemukan resleting dari gaun itu yang ternyata ada di bagian samping pinggang Er. Tanpa meminta izin pada Er, Arga langsung membuka resleting gaun itu.


Gaun itu pun langsung terjatuh ke lantai. Dan kini terlihat lah tubuh molek Er yang hanya mengenakan CD yang berwarna nude dan terlihat samar dengan kulit nya.


Lalu Arga menggendong tubuh Er dan berjalan menuju ranjang dengan bibir yang masih saling bertautan.


Arga menurunkan Er di ranjangnya dan langsung menindihnya. Bibirnya masih saling memagut tanpa henti seakan ada lem yang perekat di bibir mereka.


" Aku menginginkanmu," lirih Arga dengan bibir yang masih menempel di bibir Er yang memerah akibat ciuman nya.


Er menatap mata Arga. Dia tampak berpikir namun tiba-tiba di terpekik saat tangan Arga yang langsung menerobos masuk di balik kain yang tersisa di tubuhnya.


Arga menatap mata Er dengan seringai tipis di bibirnya.


" Aku tidak suka menunggu lama dan tak suka penolakan," kata Arga lalu langsung menciumi leher jenjang Er yang terlihat menggoda dengan tangan yang masih berada di bawah.


Er mendesah saat Arga beralih bermain di area dadanya dengan tangan yang masih betah di bagian bawahnya.


" Aaahh ... aku sudah gila," kata Er dengan suara indah nya dan terdengar seksi di telinga Arga hingga mampu membuat pria itu semakin bergairah.


Arga menghentikan ciumannya dan kini hanya menatap wanita yang kini menggeliat nikmat dibawah tubuhnya.


" Ooohh ... aku benar-benar gila," kat Er lagi dengan tangan yang menggenggam sprei yang kini sudah tak rapih lagi.


Arga terus menatap wajah Er yang terlihat semakin cantik jika seperti itu. Lalu terdengar Er mengerang panjang saat sudah mendapatkan puncaknya hanya dengan permainan tangan dari Arga.