Forced Wedding

Forced Wedding
34 ( Honey moon)



Arga masuk kedalam kamar nya. Dia menutup pintunya dan berjalan kearah sofa dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.


" Aku harus melakukan ini, Er. Aku tak mau terjebak dengan perasaan yang mulai tumbuh diantara kita," gumamnya sambil memegang kepalanya.


Entah kenapa Arga seakan menolak perasaan yang mulai tumbuh di hati nya untuk sang istri.


Dia takut, jika dia melibatkan perasaan nya dalam pernikahan paksa ini akan membuat dirinya kembali patah hati.


.


.


Ke esokan harinya. Er terbangun dari tidurnya yang tak terlalu nyenyak. Wanita itu beranggapan bahwa pernikahan adalah pembawa sial.


Dan itu yang dia rasakan saat ini. Pernikahan toxit yang dia jalani, dia harus pura-pura menjadi istri yang bahagia di luar sana.


Kini Er sudah rapih dan cantik. Wanita itu berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni tangga untuk makan pagi.


Dia tak melihat siapa pun di ruang makan. Hanya ada makanan yang sudah tertata rapi disana.


Wanita itu duduk dan langsung mengambil makanan nya. Dia tak menunggu siapapun dan langsung menyantap makanannya.


Saat dirinya sedang fokus dengan makanannya. Arga berjalan menuruni tangga dan menatap kearah nya.


" Ehem ... Ehem. Kau tak menunggu tuan rumah ini dulu?" kata Arga menghampiri Er.


Wanita itu tak menjawab. Dia terus fokus untuk segera menghabiskan makanan nya yang hampir habis.


Arga duduk di seberang meja yang berhadapan dengan Er. Pria itu menatap ekspresi datar Er.


' Bahkan dia semakin cantik dengan ekspresi datar nya itu,' batin Arga.


Lalu Erlina beranjak dari kursi nya setelah menghabiskan makanannya. Tanpa melihat kearah Arga yang tengah menatapnya.


" Kau tak ingin menemani suami mu ini makan? Bahkan kau makan sendiri dan tak menunggu ku," kata Arga dengan tatapan datar nya pada Er.


Er mengehentikan langkahnya.


" Apa aku harus melakukan hal itu? Bukan kah disini tidak ada orang yang akan melihat kita? sehingga aku harus bersandiwara menjadi istri yang baik untuk suami kontrak ku?" ucap Er tanpa menoleh pada Arga yang mematung di tempatnya.


Lalu Er kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu dan naik keatas dimana kamarnya terletak.


Arga tersenyum miring mendengar perkataan Er. Lalu dia menyantap makanannya sendiri di ruang makan yang terlihat luas itu.


.


.


Kini Arga dan Erlina sedang dalam perjalanan menuju resort yang sudah di rencanakan oleh Almer serta Audie.


Mereka langsung berangkat setelah mendapatkan pesan dari temannya itu. Dan mereka sudah sepakat untuk langsung bertemu di sana.


Dalam perjalanan menuju resort. Er terus menatap kearah jalanan, sementara Arga terus fokus dengan kemudinya.


Tak ada obrolan sama sekali di antara mereka. Mereka seakan enggan untuk memulai pembicaraan di dalam mobil yang tampak hening itu.


Hingga mereka sampai di sebuah resort mewah yang ada di daerah perbukitan.


Er melepaskan sitbelt nya dan akan keluar dari mobil dengan membuka pintunya.


Tapi Arga menahan tangan nya.


" Ingatlah kau harus __"


" Melakukan sandiwara menjadi istri yang bahagia di depan orang-orang!" kata Er tegas dengan memotong perkataan dari Arga.


Arga menatap netra indah Er tanpa melepaskan tangan nya.


" Bisakah kau melepaskan tangan ku? Aku janji kau akan puas dengan aktingku nanti."


Er langsung menghempaskan tangan Arga dan langsung keluar dari mobil. Dan disusul oleh Arga.


" Heiii ... kalian baru datang!!" teriak Audie yang berdiri di beranda depan resort itu.


Er menyunggingkan senyumnya dan menoleh pada Arga yang menghampiri nya dengan tangan yang di ulurkan kearahnya.


Er langsung melakukan sandiwara nya dan membalas uluran tangan Arga.


Mereka berjalan kearah pintu masuk resort dengan bergandengan tangan.


Er melihat tangannya yang di genggam dengan begitu erat oleh Arga, lalu menatap pada Arga.


Er tersenyum pada Audie. Dan Arga merangkul bahu Erlina. Mereka masuk kedalam resort itu bersama.


" Kamar ku berada di lantai dua. Kalian di lantai bawah, tak masalah kan?" kata Audie.


" Ya. Tak masalah. Dimana pun kamar kita berada asalkan kita tak tidur terpisah. Iya kan, Honey?" kata Er sambil tersenyum pada Arga.


Arga yang mendapatkan senyum cantik dari Er membuatnya sedikit salah tingkah.


" Iya ... Asalkan kita tak terpisah," sahut Arga dengan meremas tangan Er yang di genggamannya.


" Woow ... Pengantin baru sudah datang?" kata Almer meniru tangga.


" Ya. Baru saja," sahut Arga.


" Kita istirahat dulu sebelum memulai aktivitas nanti, agar tubuh kita bugar," kata Almer sambil merengkuh pinggang Audie dan mengecup keningnya.


Er melihat kemesraan mereka dengan ekspresi datar nya. Arga melihat ekspresi Er dan langsung mencium kening nya hingga Er tersadar dari lamunan nya.


" Ya. Aku akan membawa istri ku istirahat terlebih dahulu, bye." Arga langsung merangkul bahu Er dan membawanya menuju kamar mereka.


Almer dan Audie melihat kearah mereka yang berjalan menjauh dari mereka.


" Apa mereka sedang bersandiwara di depan kita?" kata Audie pelan agar tak terdengar oleh Arga dan Erlina.


" Ya. Aku tahu mereka sedang bersandiwara," sahut Al.


" Lalu apa yang akan kita lakukan, Honey?" tanya Audie sambil mendongakkan kepalanya menatap sang kekasih.


" Serahkan semuanya padaku," sahut Al lalu mengecup kening Audie.


" Sekarang waktunya kita bersenang-senang berdua," kata Al yang langsung menggendong tubuh Audie dan membawanya naik untuk masuk ke kamarnya.


" Kau tak lelah?" tanya Audie sambil mengalungkan tangannya di leher Al.


" Aku tidak pernah lelah untuk bercinta dengan mu," sahut Al yang terus melangkah kan kakinya menuju kamar nya.


Lalu mereka masuk kedalam kamar dan langsung melakukan percintaan panas di siang bolong itu.


Mereka membuat kamar yang semulanya hening, kini ramai dengan suara lenguhan yang bersahut-sahutan di dalam kamar itu.


.


.


Di dalam kamar Er dan Arga.


Hanya ada keheningan disana, Arga larut dengan pekerjaan nya. Sedangkan Er langsung tertidur pulas di atas ranjang.


2 jam berlalu. Arga menutup laptopnya lalu melihat kearah Er yang masih tertidur pulas di atas ranjang dengan posisi yang telungkup.


Arga mendekati Er dan membenarkan posisi tidur Er. Er terbangun karena merasakan pergerakan Arga.


Wanita itu mulai mengerjakan matanya dan langsung mendorong tubuh Arga yang sangat dekat dengan nya.


Er bangkit dan langsung berjalan menuju kamar mandi tanpa satu kata pun pada Arga.


Arga menatap punggung Er yang menjauh darinya. Lalu pria itu berjalan kearah jendela raksasa yang langsung terhubung dengan taman.


Arga menatap kearah luar jendela yang kini mulai basah karena hujan yang turun.


Erlina keluar dari kamar mandi dan langsung membuka koper nya.


Arga terus melihat gerak gerik Er hingga wanita itu membuka bajunya di hadapan nya.


" Kau mau menggodaku?" kata Arga dengan senyum miring nya.


Er tak menjawab. Dia terus membukakan bajunya hingga hanya tersisa bra dan cd-nya.


Sementara Arga terus menatap tubuh seksi Er dengan dada yang mulai bergemuruh.


Pria itu menelan saliva nya dengan susah payah karena melihat pemandangan indah di depannya. Dia menatap benda bulat yang ada di dada Er yang tampak sangat menggoda imannya.


Lalu Er memakai celana Jogger dan sweater nya karena udara yang mulai dingin. Tanpa memperdulikan tatapan tajam Arga pada tubuhnya.


Setelah itu dia langsung keluar dari kamar setelah selesai memoles sedikit wajah nya.


" Dia sepertinya sedang mempermainkan ku," gumam Arga yang terus menatap kepergian Er dari kamar itu.