
~Kabar tak mengenakan~
Inka dan Daxon masuk kedalam ruangan dokter SpOG. Mereka berkonsultasi tentang kesehatan rahim dan keinginan Inka yang ingin segera hamil.
Dokter itu tampak mendengarkan dengan seksama tentang kondisi tubuh Inka yang baru saja mengalami kecelakaan dan baru saja bisa berjalan kembali.
Inka juga menunjukkan beberapa obat-obatan yang harus di konsumsi nya setiap hari agar bisa kembali berjalan. Dan dokter tampak memeriksa obat-obatan itu.
" Apa obat-obatan itu mempengaruhi kesehatan rahim ku, Dokter? karena sampai saat ini aku belum juga hamil," kata Inka.
Dokter itu tampak tersenyum dan meletakkan kembali obat itu.
" Kita akan langsung memeriksa kondisi rahim mu," sahut dokter itu.
Lalu dokter menyuruh Inka untuk berbaring di ranjang yang ada di ruangan itu. Dokter itu tampak mengangkat kaos yang di kenakan Inka dan mengoleskan sedikit gel di permukaan kulit perut Inka.
Lalu dia mulai menggunakan alat untuk bisa melihat kondisi rahim Inka. Dokter tampak menggerakkan alat itu di sekitar perut Inka yang rata.
Wanita itu juga memperhatikan apa yang ada di layar monitor dan dia melihat dengan jelas bahwa ada satu titik yang cukup besar disana.
Dokter itu tampak sangat serius menatap kearah monitor kecil itu. Lalu dia menoleh kearah Daxon yang masih duduk di kursinya.
Daxon yang menyadari tatapan tak biasa dari dokter itu langsung menghampiri ranjang dimana Inka sedang di periksa.
" Kalian lihat ini?" tanya Dokter itu sambil menunjuk kearah sebuah titik di layar monitor.
Daxon dan Inka melihat kearah layar dan tangan mereka saling bertautan.
" Inilah penyebab nya, Kenapa Nona Inka tidak hamil sampai saat ini," lanjut Dokter itu.
" Memang nya itu apa, Dokter? aku kira itu adalah bakal janin kami," sahut Inka yang sudah mulai gelisah.
" Bukan. Karena ini berada di tengah jalan rahim, ini adalah kista," kata Dokter itu yang cukup membuat Inka dan Daxon terkejut.
Bahkan raut wajah Inka berubah menjadi sangat khawatir.
" Kista ini tumbuh di tengah-tengah jalan rahim dan ukuran nya cukup besar hingga menghalangi ****** untuk masuk dan tak bisa membuahi sel telur." Kata dokter itu menjelaskan.
Inka dan Daxon hanya terdiam mendengar kan penjelasan dari dokter.
" Apakah Anda sering merasakan nyeri saat mendapatkan tamu bulanan mu?" tanya Dokter itu.
" Ya, Dokter. Aku sering merasakan nyeri saat datang bulan, dan anehnya darah yang keluar tidak seperti biasanya," kata Inka.
" Itu karena darah kotor itu juga terhalang oleh kista ini dan menumpuk disini hingga membuat kista itu tumbuh semakin besar," sahut dokter itu.
" Lalu apa itu cukup berbahaya, Dok?" tanya Daxon.
Inka dan Daxon tampak saling menatap dan Daxon mengusap lembut puncak kepala Inka.
" Lalu apa tindakan selanjutnya, Dokter? bagaimana penyembuhan nya," tanya Daxon lagi.
" Kita harus segera melakukan tindakan operasi untuk mengangkat kista ini agar tak semakin membesar."
Dokter itu tampak mengusap sisa gel di perut Inka dengan tisu dan menutup kembali perut Inka.
Inka tampak shock dan belum beranjak dari ranjang. Dia berpikiran bahwa dia tak akan bisa memberikan keturunan untuk sang suami.
Bahkan dia berpikir bahwa Daxon pasti akan meninggalkan nya. Daxon menyadari bahwa Inka pasti sangat shock dan dia membantu Inka untuk beranjak dari ranjang.
Kini mereka duduk di kursi yang ada di hadapan dokter. Dokter tampak memegang foto hasil USG itu.
Pandangan Inka tampak kosong dan Daxon masih memegang tangan nya.
" Kita harus melakukan operasi ini, jika kalian setuju makan tanda tangani berkas ini," kata dokter sambil memberikan berkas persetujuan pelaksanaan operasi pada Daxon.
Daxon menerima berkas itu dan membawanya dengan seksama.
" Dok. Adakah jalan lain selain operasi?" tanya Inka akhirnya membuka suara nya.
Daxon menoleh dan melihat raut wajah gelisah Inka.
" Sebenarnya ada. Tapi itu tak bisa dilakukan pada kasus mu, Nona Inka. Karena ukuran dari kista yang tumbuh di rahim Anda cukup besar. Dan kita hanya bisa melakukan tindakan operasi untuk pengangkatan kista," sahut Dokter itu.
Inka tampak menghela nafasnya yang berat dan Daxon hanya mengusap punggungnya.
" Lakukan apapun dan berikan pengobatan yang terbaik untuk istri ku, Dokter," kata Daxon sambil memberikan berkas yang sudah dia tandatangani.
" Baik, Tuan. Aku akan mengurus semuanya dengan cepat agar kita bisa melakukan tindakan operasi ini dengan segera," sahut dokter itu.
" Tapi ... apa setelah itu aku masih bisa hamil, Dok? apa rahim ku tidak akan terjadi masalah jika aku di operasi?" tanya Inka dengan suara yang bergetar dan tak terasa buliran bening menetes dari sudut matanya.
Daxon menarik bahu sang istri dan membawa ke pelukannya.
" Aku ingin sekali hamil dan memberikan keturunan untuk suami ku, Dok." Lanjut Inka dengan isakan nya.
Daxon terus memeluk sang istri sambil mencium puncak kepalanya. Dia begitu terharu saat Inka begitu menginginkan benih nya tumbuh di rahim nya dan itu membuat Daxon semakin mencintai wanita itu.
Dokter pun tersenyum pada Inka namun hatinya juga ikut tersentuh.
" Bisa. Sangat bisa!" kata Dokter dengan tegas.