Forced Wedding

Forced Wedding
51. Pesta



Wanita itu terus menatap tajam kearah Er yang sedang memilih beberapa gaun yang ingin dia beli untuk di kenakan nanti malam.


Sampai saat Erlina memilih gaun pesta berwarna merah maron. Wanita itu menghampiri Erlina dan ingin mencoba mengambil gaun yang ada di tangan Erlina.


" Aku mau yang ini, tolong," kata wanita itu menerobos Er sambil menunjuk gaun yang ada di tempat Erlina.


Erlina mengerutkan keningnya menatap heran pada wanita itu.


" Tapi gaun itu limited edition, Nona. Dan hanya tinggal satu," kata pegawai itu.


" Aku berani membayar 2x lipat gaun itu," sahut wanita itu lagi.


" Wait ... Kau ingin mengambil gaun yang sudah ada di tangan ku? jangan harap kau bisa memilikinya," kata Er sinis.


" Aku kaya dan memiliki banyak uang. Jadi aku pasti bisa memiliki gaun itu," sahut wanita itu tak kalah sinis.


" Jadi kau mengira aku tak punya uang?" sahut Erlina sambil tertawa dalam hati.


' Aku bahkan bisa membeli butik ini jika aku mau,' batin Erlina.


Lalu salah satu manager dari butik itu melihat keributan yang terjadi di depan kasir. Dia menghampiri asal dari keributan itu.


" Ada apa ini?" tanya manager itu.


" Aku ingin membeli gaun yang di pegang wanita ini dengan harga 2x lipat," kata wanita tadi.


Lalu manager itu menatap kearah Erlina. Betapa terkejutnya dia saat melihat mantan model dari brand ambassador dari butik itu.


" Nyonya Erlina. Senang bertemu kembali dengan mu, apa yang anda lakukan disini? Apakah anda sedang berbulan madu?" tanya manager itu sopan.


Dia bahkan menyenggol wanita sombong tadi dan mengambil gaun yang ada di tangan Erlina dan memberikan nya ke kasir.


" Bungkus itu sekarang untuk tamu kehormatan kita ini," kata manager itu sambil memegang lengan Erlina.


" Wait ... WHATT!!! Heyy kau mengabaikan ku!!" bentak wanita sombong itu.


Namun manager itu tak menggubris nya, dia malah asik bercengkrama dengan Erlina.


" Inka ... Keluar kan kartu ku," kata Erlina pada Inka.


Inka pun menuruti perintah Erlina dengan mengeluarkan kartu hitam milik Arga.


" Aku ingin membeli gaun itu dengan harga 3x lipat!" tegas Erlina sambil melirik kearah wanita sombong itu.


" Ooohh terimakasih atas ke dermawanan mu, Nyonya Erlina. Kau memilih gaun yang pas, itu gaun keluaran terbaru dan limited edition. Tapi aku akan memberikan gaun itu secara gratis pada tamu spesial ku ini," kata manager itu.


Hal itu membuat wanita sombong itu melongo. Karena manager itu berani memberikan gaun itu secara gratis pada Erlina.


" Tidak. Aku merasa tidak enak jika harus mendapatkan gaun cantik itu secara gratis, aku akan membayar nya saja," sahut Erlina.


" Baiklah kalau Nyonya maunya begitu."


Lalu pegawai itu mengambil kan 3 potong gaun terbaru nya dan langsung menyuruh pegawai nya untuk membungkusnya.


" Ku harap kau tak akan menolak pemberian dari kami. Kami sangat berterima kasih karena kau sudah mau menjadi model kami dulu, hingga kami langsung menerima banyak pesanan gaun karena mu," kata manager itu memberikan paperbag itu.


" Ini terlalu berlebihan, kau bisa rugi karena ini," sahut Erlina tak mau menerima nya.


" Ini tak seberapa, Nyonya. Terimalah, ini tanda terima kasih dari kami karena dengan anda menjadi model kami membuat produk kami di kenal dan diminati oleh banyak orang," sahut manager itu.


" Baiklah. Aku akan menerima nya, dan untuk ucapan terima kasih ku, aku akan memprosikan gaun-gaun ini untuk mu," sahut Erlina menerima paperbag itu.


Lalu mereka berpelukan. Sementara wanita tadi langsung merasa malu dan pergi dari butik itu.


.


.


Kini Erlina dan Inka sudah ada di apartemen nya. Erlina mencoba semua gaungnya dan Inka langsung memotret nya.


Sesuai dengan perkataan Erlina tadi. Inka langsung memposting foto-foto Erlina dan mempromosikan gaun-gaun itu.


Sementara itu, Erlina tengah terbaring di ranjang nya. Dia mengingat kejadian di butik tadi.


" Siapa wanita sombong tadi? kenapa dia seolah sengaja ingin membeli gaun yang aku pilih," gumam Erlina.


" Sejak kau masuk, dia sudah menatap tajam kearah mu, Er. Aku mengawasi nya" sahut Inka.


" Benarkah? apa maksudnya, aku tak mengenal wanita itu," sahut Er.


" Sudahlah ... jangan pikirkan masalah itu. Toh kau juga yang menang banyak," kata Inka sambil berlalu keluar dari kamar Er.


Inka menghentikan langkahnya. Dia langsung menoleh dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


" Boleh aku memilihnya?" sahut Inka berlarian kecil kearah ranjang.


" Hmmm ... pilihlah yang kau suka," sahut Erlina bangkit dari ranjang.


" Baiklah, aku memilih yang ini." Inka langsung mengambil satu gaun yang berwarna putih selutut dengan belahan di dada yang cukup rendah.


" Kau yakin pilih yang itu?" tanya Er.


" Hmmm ... aku akan memakai nya nanti malam ke pesta yang ingin kau datangi. Aku ada janji dengan seseorang disana, bye ... Muuach." Inka langsung membawa gaun itu keluar dari kamar Er.


Er hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah asistennya itu. Lalu dia masuk kedalam kamar mandi dan berendam di bathtub.


.


.


Ponsel Erlina berbunyi saat wanita itu tengah memakai aksesoris nya.


" Hallo ..."


" Honey ... aku sudah ada di depan lobby. kau keluarlah dan bawa kan aku jas yang baru," kata Arga dari seberang telepon.


" Baiklah ...," sahut Erlina.


" Apa kau sudah siap?" tanya Arga.


" Ya. Aku akan turun bersama Inka sebentar lagi," sahut Erlina.


" Inka? dia mau ikut ke pesta itu?" tanya Arga.


" Ya. Dia ada janji dengan pria di sana. Jadi aku mengajak nya untuk berangkat bersama kita saja," sahut Er.


" Baiklah." Lalu mereka sama-sama mematikan panggilan itu.


Erlina keluar dari apartemen nya dengan membawa jas yang diminta sang suami di tangannya.


" Woow ... penampilan mu luar biasa, Er," kata Inka yang kebetulan juga keluar dari apartemen nya.


" Ya. Pak suami yang meminta nya," sahut Er.


Lalu mereka berjalan beriringan menuju lift dan turun ke lantai lobby.


Ting ...


Pintu lift terbuka. Er dan Inka keluar dari lift.


Semua melihat kearah dua wanita cantik yang berjalan beriringan itu.


Arga menatap kagum kearah sang istri yang terlihat sangat cantik. Senyum nya tersungging dan dia berjalan kearah Erlina.


Erlina memasang kan jas pada tubuh Arga. Dia langsung memasang kan kancing jas untuk membungkus tubuh kekar Arga.


Cup


Pria itu mengecup kening Erlina.


" Your so beautiful. Bisakah kita ke kamar dulu? aku ingin mencicipi mu," bisik Arga dan Erlina tertawa mendengar nya.


" Tidak bisa. Kau akan merusak penampilan ku yang sudah terlihat perfect," sahut Erlina.


" Ehhemm ... bisa kita berangkat sekarang?" kata Inka.


Er dan Arga hanya tertawa. Dan mereka langsung masuk kedalam mobilnya.


Setibanya di tempat acara berlangsung. Inka turun di gerbang gedung itu dan tak mau ikut masuk bersama mobil Arga.


Dia masuk melalui pintu samping. Sementara Arga dan Erlina masuk dari pintu utama pesta yang sudah ramai oleh para wartawan yang meliput acara itu.


Arga keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu sebelah nya. Dia membuka kan pintu itu.


Lalu Erlina keluar dari pintu mobil yang di buka kan oleh Arga. Pria itu mengulurkan tangannya pada Er dan wanita itu menerima uluran tangan dari Arga.


Para wartawan tampak memotret pasangan yang tampak serasi itu. Lalu Er mengapit lengan Arga dan mereka berjalan menuju pintu masuk acara itu.