
Semua pria tampak berkumpul di kantin rumah sakit. Mereka terlihat sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat serius.
" Apa yang ingin daddy lakukan pada wanita itu?" tanya Daxon.
" Aku akan langsung mengatakan hal ini pada Tuan Glen," sahut Kenta.
" CK. Seharusnya aku saja yang langsung memberikan nya hukuman, Dad. Dia sudah sangat keterlaluan!!" tegas Daxon yang masih terlihat kesal.
" Lalu apa yang akan kau lakukan padanya, Dax?" tanya Kenta.
" Aku tak yakin dia kan menghukum nya, Uncle. Mungkin lebih tepatnya dia akan merenggut kehormatan nya saja," sahut Arga yang sudah sangat mengerti jalan pikiran sahabat nya itu.
Daxon meninju keras lengan atas Arga.
" Ereksi ku bahkan tak menegang sekali pun dia bertelanjang di hadapan ku," sahut Daxon yang membuat Arga terkekeh.
" Benarkah? apa dia pernah melakukan hal itu di depan mu?" sahut Arga.
" CK. Berkali-kali dia menawarkan tubuhnya pada ku. Tapi entah kenapa aku sangat tak Sudi untuk menyentuh nya," sahut Daxon dan langsung mendapatkan pukulan yang cukup keras dari Kenta.
" Biar aku yang akan mengurus gadis itu," sahut Kenta lalu bangkit dari kursinya.
Diikuti oleh Daxon dan Arga. Mereka berjalan kembali menuju ruang perawatan Inka.
CEKLEK
Kenta membuka pintu ruangan itu dan melihat seorang dokter tengah memeriksa kondisi Inka.
" Bagaimana keadaan nya, Dokter?" tanya Kenta.
Arga dan Daxon hanya berdiri di ambang pintu dan membuat pintu itu tetap terbuka.
" Dia mengalami koma," sahut Dokter itu dan membuat semua orang kembali terkejut.
" Kita hanya bisa menunggu dia tersadar agar bisa mengetahui kondisi kaki nya," lanjut dokter itu dan langsung pergi dari ruangan itu setelah melakukan pemeriksaan pada Inka.
Rinda tampak menangis mendapati kondisi sang putri yang seperti itu.
" Kau baru saja mendapatkan keberuntungan dengan bertunangan dengan seorang pria baik dan dari keluarga yang baik. Tapi ternyata tuhan merencanakan hal lain di balik itu semua," kata Rinda sambil mengusap lembut puncak kepala Inka.
Daxon mengepalkan tangannya mendengar kondisi Inka saat ini.
BRAKK
Pria itu memukul pintu hingga membuat semua orang tersentak. Dia meninggal kan ruangan itu dengan wajah yang terlihat frustasi.
Lebih tepatnya dia emosi pada dua wanita yang muncul dan mengacaukan segalanya. Daxon yang memang sudah berniat serius memulai hubungan dengan Inka.
Sejenak menjadi sirna karena masalah itu.
Dia terus berjalan keluar dari rumah sakit dan langsung masuk kedalam mobil nya.
Arga yang sangat khawatir dengan kondisi mental Daxon memutuskan untuk mengikuti kemana Daxon pergi.
Daxon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah kemana dia akan mengarah kan mobilnya dengan keadaan yang sangat emosi.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Daxon langsung mengambil earphone dan memasangkan di telinga nya.
" Hallo."
" Bos. Kita sudah membereskan masalah Heli, wanita itu di kenai pasal berlapis karena kita juga berhasil menyelundupkan narkoba ke dalam sakunya beserta beberapa transaksi jual beli nya," kata seorang anak buah Daxon.
Senyum licik terpancar dari bibir nya.
" Good. Kerja yang bagus, dan aku ada satu pekerjaan lagi untuk kalian," sahut Daxon.
Lalu dia mengatakan rencana selanjutnya pada salah satu anak buahnya itu.
.
.
Kini Daxon sudah berada di depan sebuah mansion yang tak terlalu besar. Dia memarkir kan mobilnya dan langsung keluar dari mobil itu.
" Selamat datang, Tuan Daxon," kata seorang pelayan dengan ramah.
" Aku ingin bertemu dengan Tuan Glen. Bisa kau panggil kan dia untuk ku?" sahut Daxon sambil berjalan menuju pintu mansion.
" Baik, Tuan. Silahkan masuk," sahut Pelayan itu.
Daxon masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Wajah nya terlihat sangat menyeramkan dan itu membuat seorang wanita yang mengintip menjadi kalut dan takut.
' Sial. Dia pasti ingin menemui ku,' batin Gris.
Lalu tampak Glen datang menuruni tangga. Pria paruh baya itu sudah mengerti akan kedatangan Daxon dan apa maksud kedatangan nya ke mansionnya.
Kenta sudah menghubungi nya bahwa Daxon sedang dalam perjalanan menuju mansion nya. Arga yang memberi tahu hal itu.
Arga saat ini sudah ada di depan pintu mansion itu dan memilih untuk bersembunyi terlebih dahulu untuk mengintai apa yang ingin dilakukan Daxon di mansion itu.