Forced Wedding

Forced Wedding
16 ( Persiapan part 1 )



Semua tampak melihat kearah Er yang baru saja keluar dari kamar pas.


Arga menatap takjub dengan kecantikan Er yang tampak sangat mempesona dengan balutan gaun berwarna nude, yang sangat kontras dengan kulit tubuhnya.


Er berjalan dan sesekali memutar kan tubuhnya di hadapan lintang dan juga Tita.


" Apa gaun ini cocok untuk ku?" tanya Er.


" Wow, ini sangat cocok untukmu, sayang. Kau terlihat sangat mempesona dengan balutan gaun itu. Iya kan, Ar?" kata Tita sambil menyenggol lengan Ar yang sampai tak berkedip menatap Erlina.


" Hellow, Ar. Apa kau mendengar Momy?" kata Tita sambil melambaikan tangannya di depan mata Arga.


" Ya, Mom.?" sahut Arga gelagapan.


Lintang dan Tita tampak tertawa melihat tingkah Arga yang tadi begitu terpesona oleh kecantikan Erlina.


Sementara Er, dia sangat cuek seakan tak perduli tentang reaksi Arga.


" Jadi ... apa aku harus mencoba gaun yang lain juga?" tanya Er.


" Ku rasa tidak perlu, sayang. Kau lebih cocok dengan yang ini. Iya kan, Arga?" kata Tita melihat kearah Arga yang kini berekspresi datar.


" Hmmm," sahut Arga malas.


" Baiklah, kalau begitu kita pilih yang ini saja," kata lintang lalu menyuruh pegawai nya untuk membungkus gaun itu.


" Aku harus langsung kembali bekerja, Mom," kata Er setelah selesai mengganti bajunya.


" Kita makan siang dulu, Er. Dan kau tak boleh membantah!!" tegas lintang.


" Huuffft, Baiklah."


Mereka semua pun keluar dari butik milik lintang, dan berjalan beriringan menuju restoran yang berada di seberang butik itu.


" Erlina !!" panggil seseorang saat Er akan memasuki restoran itu.


Semua tampak menoleh, termasuk Arga.


" Erik? kau disini?" kata Er.


" Siapa dia, Er? Sepertinya Momy tak pernah melihatnya," kata lintang memperhatikan Erik.


" Perkenalkan. Namaku Erik, Aunty." Erik memperkenalkan dirinya pada lintang dan juga Tita.


" Dia teman ku, Mom. Kalian masuklah dulu, nanti aku akan menyusul," kata Er.


Lalu semua pun masuk.


" Ada apa, Erik?" kata Erlina.


" Tidak ada, aku hanya melihat mu disini jadi aku memanggil mu. Ah ya, jika kau membutuhkan bantuan ku, aku akan dengan senang hati membantu mu, Er. Jadi jangan sungkan untuk menghubungi ku," kata Erik.


Erlina tersenyum mendengar perkataan Erik. "Baiklah," sahut Er.


" Aku pergi dulu." Erik langsung pergi dari hadapan Er setelah mendapatkan tatapan tajam dari Arga yang berada di dalam restoran.


Er masuk dan langsung bergabung dengan yang lain, dia langsung memesan makanannya.


" Er, apa kegiatan mu setelah ini?" tanya Tita.


" Setelah ini aku ada pemotretan bersama seorang model pria. Kita menjadi model dari mobil sport keluaran terbaru," sahut Er.


" Waah, sepertinya calon menantu ku ini bukanlah model abal-abal." Er dan lintang tertawa mendengar ucapan dari Tita kecuali Arga.


' Pemotretan bersama model pri? model mobil sport? aku harus memantau nya,' batin Arga menatap tajam pada Er yang sedang berbincang dengan Tita dan lintang.


Lalu pelayan datang dengan membawa pesanan makanan yang mereka pesan. Mereka langsung menyantap makanan itu tanpa ada obrolan sama sekali sampai mereka menghabiskan makanan nya .


" Aunty, Mom ... aku langsung balik karena jadwal ku hari ini lumayan padat," kata Er.


" Baiklah. jaga kesehatan mu, sayang. Kau harus tetap fit saat pesta pertunangan mu nanti," kata lintang mengingat kan.


" Iya, Mom. Aku duluan, bye," kata Er setelah cipika-cipiki dengan kedua wanita paruh baya itu.


.


Arga menarik tangan Erlina yang sedang berdiri di pinggir jalan, dia langsung menggandeng tangan Er menuju mobilnya.


" Masuk, aku akan mengantarkan mu," kata Arga setelah membukakan pintu mobilnya untuk Erlina.


Er langsung masuk, Karena dia sedang malas berdebat dengan Arga.


Arga masuk kedalam mobilnya dan duduk di belakang kemudi nya. Lalu dia menjalankan mobil nya kearah gedung w dimana Er akan ada pemotretan disana.


Tidak ada pembicaraan sama sekali di dalam mobil itu saat perjalanan menuju gedung w. Keduanya sama-sama enggan untuk memulai pembicaraan nya.


Hingga tak terasa mobil itu pun berhenti di depan gedung w. Er langsung keluar dari mobil tanpa mengucapkan terimakasih pada Arga.


Arga menatap kepergian Er dari dalam mobilnya, lalu dia memarkir kan mobilnya.


Arga memutuskan untuk memantau pemotretan Er bersama seorang model pria. Entah kenapa dia tidak suka bila Er menjalani pemotretan dengan seorang pria.


" Er, disini!!" teriak Inka sambil melambaikan tangannya pada Erlina.


Er pun berjalan menghampiri Inka.


" Apa aku terlambat?" tanya Er masuk kedalam ruang ganti.


" Tidak, ayo cepat ganti bajumu." Inka langsung memberikan gaun berwarna gold pada Er.


Er menerima gaun itu lalu masuk kedalam kamar pas. Dia memutar kan tubuhnya di depan cermin yang ada di kamar pas.


" Sepertinya ini terlalu seksi," gumam Er melihat pantulan dirinya di cermin itu.


" What ever." Er langsung keluar dari kamar pas dan duduk di meja rias.


Setelah selesai. Er langsung keluar dari ruangan itu dan berjalan kearah studio tempat pemotretan berlangsung.


CEKLEK


Er masuk kedalam studio, dan semua orang yang ada di sana menatap takjub pada Er.


Bahkan seorang model pria yang akan melakukan pemotretan dengan Er pun sampai menganga melihat penampilan Er yang begitu menawan dan seksi.


Er berjalan dengan anggun ke arah kursi yang ada di ruangan itu. Dia duduk dengan menyilang kan kakinya dan itu membuat seluruh paha mulus nya terekspos sempurna.


Lalu ada seorang pria yang meletakkan jasnya di paha Erlina.


Er mendongakkan kepalanya melihat kearah pria itu.


" Ar ... sedang apa kau disini?" tanya Er.


Arga menundukkan kepalanya dan membongkok.


" Mengawasi calon istri ku yang nakal," kata Arga sambil mencolek hidung mancung Er.


Er berdecak dan mengalihkan pandangannya. Lalu Arga duduk tepat di sebelah Er.


" Siapa pria itu?" tanya seorang model pria.


" Aku dengar sih, dia calon suaminya Erlina," jawab asistennya.


' Menarik, aku akan merebutnya. Dia terlihat begitu menawan dan seksi,' batin Rolan.


Lalu pemotretan itupun berlangsung.


Pertama. Er berpose dengan berdiri sambil memegang bagian depan mobil itu dan Rolan ada di samping pintu mobil.


Kedua. Er berpose dengan Rolan di kap mobil, dengan sedikit mesra. Rolan duduk di kap mobil dengan memangku Er, dan sebelah tangan Er melingkar di leher Rolan.


Ketiga. Mereka berpose di dalam mobil, dengan Rolan duduk menyender di belakang kemudi dan Er berada di atasnya dengan kedua tangannya yang memegang bagian dada Rolan.


Arga tampak sangat kesal dengan pekerjaannya Er saat ini. Tapi dia tak punya wewenang untuk menghentikan pemotretan itu.


" Oke. Cukup!! Kerja bagus semua," kata seorang yang mengawasi kegiatan itu.