Forced Wedding

Forced Wedding
49. Paris



Kini Pesawat itu sudah mendarat di bandara internasional. Inka langsung berlarian kearah pintu keluar yang sudah di buka oleh pramugari.


Er berjalan dengan anggun dengan sang suami yang berjalan di belakangnya. Karena Erlina menggunakan hak yang begitu tinggi membuat jalannya pelan.


Tanpa basa-basi Arga langsung menggendong tubuh Er dan membawanya turun dari pesawat.


Inka bersiul dari bawah melihat ke romantisan pasangan itu. Hal itu membuat Er malu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arga.


Arga menurunkan tubuh Er saat tiba di bawah. Wanita itu merapikan pakaiannya.


Lalu mereka masuk kedalam mobil yang sudah menunggu mereka disana.


Arga sudah menyiapkan apartemen mewah untuk dirinya dan Erlina. Sementara Inka berada di apartemen yang ada di sebelah unit apartemen Erlina dan Arga.


Kini mereka sedang berada di restoran yang jaraknya tak terlalu jauh dengan gedung apartemen nya.


Mereka makan siang bersama, karena sudah memasuki waktu makan siang.


Setelah menyelesaikan makan siangnya mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju gedung apartemen nya.


.


.


Kini Er dan Arga sudah ada di dalam unit apartemen nya. Seperti biasa, Erlina langsung merebahkan tubuhnya tanpa membuka sepatu nya.


Sementara Arga langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Saat melihat Arga keluar dari kamar mandi dengan hanya melilit kan handuk di pinggangnya. Erlina terbangun dan bangkit dari ranjang.


Dia berjalan menuju sang suami yang tampak membuka gorden jendela raksasa yang ada di kamar itu.


Tiba-tiba Erlina memeluk nya dari belakang. Wanita itu asik meraba perut sixpack dan dada bidang Arga sembari menciumi bahu lebar sang suami.


Arga tersenyum miring dan membalik tubuh nya menghadap sang istri.


" Kau tak mau mandi? aku akan memandikan mu jika kau malas untuk mandi," kata Arga.


" Tidak. Aku hanya ingin bercinta dengan mu," sahut Erlina.


" Tapi aku tak ingin bercinta sebelum memandikan mu," sahut Arga sambil membuka Coat yang masih menempel di tubuh Erlina.


" Tidak. Kita bercinta dulu, baru setelah itu kau memandikan ku," sahut Erlina tersenyum menggoda.


" Hmmm ... baiklah."


Dengan cepat Arga langsung melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh Erlina.


Pria itu langsung menggendong tubuh polos Er kedalam kamar mandi.


" Argaaaa!!! aku tak mau mandi!!" teriak Erlina.


Namun itu semua terlambat saat Arga sudah menurunkan tubuh Er di bawah shower dan menyalakan shower itu.


Erlina mencebik kesal. Karena Arga membuatnya basah kuyup sementara dia sangat malas untuk bersentuhan dengan air.


Pria itu mengambil sabun dan menggosokkan di tubuh mulus Erlina. Mata mereka saling bertautan hingga bibir mereka ikut menempel dan saling memagut.


Arga menyalakan shower itu kembali dan membersihkan busa sabun yang menempel di tubuh Erlina.


Dia menelusuri setiap lekuk tubuh Erlina dengan tangan nya. Bibir mereka saling bertautan.


Arga kembali mematikan air shower dan mulai mengalihkan ciumannya di leher jenjang Er.


Dia menyesapnya hingga terdapat tanda merah disana. Lalu dia mengangkat kedua tangan Er dan meletakkan di atas kepalanya.


Hingga membuat dada Er membusung sempurna. Satu tangan Arga menahan tangan Erlina.


Sementara tangan yang lain memijat lembut dada nya. Dia menelusuri area itu hingga membuat suara indah dari mulut Erlina lolos dari mulut nya.


Pria itu dengan lihai memainkan lidah nya di area itu. Erlina meliukkan tubuhnya dan semakin membusungkan dadanya.


Lalu Arga langsung mengangkat tubuh Erlina dan membawanya ke ranjang.


Tanpa basa-basi lagi. Pria itu langsung melakukan adegan inti dari kegiatan itu.


Lenguhan dari mereka terdengar keras di kamar kedap suara itu. Ranjang yang semulanya rapih, kini sudah tak berbentuk.


Mereka melakukan percintaan panas di siang bolong itu. Kini Erlina yang memimpin kegiatan itu.


Pria itu menarik pinggang Er keatas hingga posisinya menungging. Lalu dia bergerak cepat di belakang Erlina.


Dia menciumi punggung mulus sang istri setelah menyemburkan benihnya di dalam rahim sang istri.


Lalu mereka pun terlelap di bawah selimut yang hangat karena kelelahan. Mereka tidur dengan posisi Arga memeluk Erlina dari belakang dan tangan Erlina menggenggam tangan Arga.


.


.


Ke esokan harinya.


Erlina dan Arga kembali di sibukkan oleh pekerjaan nya masing-masing.


Arga sibuk mengawasi proyek baru nya. Dia sedang membangun sebuah resort mewah di Paris.


Sementara Er sibuk dengan serangkaian pemotretan yang sangat melelahkan.


Seharian penuh mereka berkutat dengan pekerjaannya. Bahkan mereka sama-sama tak saling memberi kabar saking sibuknya.


.


Kini Erlina sudah menyelesaikan pekerjaan nya yang sangat melelahkan hari ini. Dia langsung membersihkan tubuhnya dan setelah itu langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


Dia bahkan tak sempat memberi kabar pada sang suami. Wanita itu sudah tertidur pulas di atas ranjang empuknya.


.


.


Arga sedang bertemu dengan para kawan lamanya di sebuah club. Dia bertemu dengan Daxon teman semasa kuliah nya dulu.


Dan pria itu mengajak nya ke club untuk me-refresh otak sejenak. Karena kesibukan nya dalam pekerjaan nya.


" Kau sudah beristri?" tanya Daxon saat melihat cincin yang melingkar di jari manis Arga.


" Ya. Dia seorang model," sahut Arga sambil menyesap minuman nya.


" Wah ... aku salut kau sudah bisa move on dari Anggita," sahut Daxon sambil tertawa pelan.


" Hmmm ... dia merubah hidup ku," sahut Arga.


" Apa kalian saling mencintai sebelumnya?" tanya Daxon lagi.


" Tidak. Kami hanya di jodohkan, awalnya aku dan dia menyepakati perjanjian pernikahan yang sedikit konyol. Tapi semakin kesini aku semakin tak bisa berpaling darinya, apalagi tubuhnya. Dia membuat ku candu dan ingin selalu menyentuhnya," kata Arga mengingat tubuh Er yang selalu membuat nya bergairah.


Daxon meledakkan tawanya saat mendengar perkataan Arga. Seorang pria dingin dan tak tersentuh oleh wanita seperti Arga, kini sudah tergila-gila dengan sang istri.


" Heii ... apa yang lucu hingga kau tertawa seperti itu?" kata Arga.


" Ini lucu, Ar. Sungguh lucu, dulu kau selalu mengusir setiap wanita yang ingin mendekati mu. Dan lihat dirimu sekarang, kau bahkan sudah menjadi budak cinta," sahut Daxon dengan tawanya.


" Kau hanya belum menemukan pawang mu, Dax. Kau akan tahu setelah merasakan nya," sahut Arga kembali menyesap wine nya.


" Wait ... Aku sudah mencicipi semua wanita yang ada disini, Ar. Bahkan aku juga pernah mendapatkan ke perawanan seorang wanita yang baru bekerja di club malam ini," kata Daxon sambil mengedarkan pandangannya.


" Lalu?" tanya Arga.


" Awalnya aku tertarik dan ingin memiliki nya sendiri dengan menjadikan nya simpanan ku. Tapi dia menolak dan meminta ku untuk menikahinya terlebih dahulu dan bisa langsung menceraikan nya jika sudah bosan padanya."


" Benarkah? lalu apa keputusan mu?" sahut Arga penasaran.


" Aku menolak menikahi nya. Aku tak ingin terikat dengan sebuah pernikahan. Aku masih ingin bebas tanpa terkekang oleh seseorang yang disebut sebagai istri," sahut Daxon.


" Kau bodoh, Dax. Kau melepaskan wanita langka itu," sahut Arga.


" Wanita langka? apa maksudmu?" sahut Daxon.


" Pikirkan itu baik-baik dengan otak jenius mu," kata Arga dan berlalu meninggalkan Daxon yang masih tampak berpikir.


Arga berjalan keluar dari club itu karena jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


" Aku merindukan tubuh istriku," gumam Arga saat sudah berada di dalam mobilnya.