
Satu minggu berlalu.
Inka masih setia menutup matanya. Daxon masih setia menunggu nya di rumah sakit.
Pria itu semakin kalut dan tak terawat. Bahkan selama Inka di rumah sakit, Daxon tak pernah lagi datang ke perusahaan nya.
Dia benar-benar khawatir dan resah. Pria itu tak pernah meninggalkan rumah sakit, bahkan Siena selalu membawakan nya pakaian ganti karena Daxon sama sekali tak mau meninggalkan rumah sakit.
Pagi menjelang. Daxon terbangun karena merasakan ada pergerakan dari jari jemari Inka yang dia genggam.
Pria itu menegakkan tubuhnya dan mengerjapkan matanya. Dia melihat jari tangan Inka kembali bergerak dan dia langsung memencet tombol untuk memanggil dokter.
" Inka ... Buka matamu, Honey."
Daxon berusaha membangunkan Inka hingga Dokter pun datang ke ruangan itu.
" Aku melihat tangannya bergerak, Dokter."
Dokter itu langsung memeriksa kondisi Inka dan berusaha menyadarkan wanita yang sudah satu minggu tertidur.
Daxon masih setia di samping Inka. Dia tak mau meninggalkan wanita itu meskipun dokter meminta nya untuk keluar.
Dia tak mau dan terus bersikeras untuk mendampingi Inka. Hingga akhirnya Dokter menyerah dan membiarkan Daxon tetap di ruangan itu.
Inka menggerakkan perlahan kepalanya dan mencoba membuka matanya. Perlahan mata itu terbuka dan mengerjap agar bisa melihat lebih jelas.
Daxon merasa sangat senang saat melihat mata Inka terbuka. Namun saat mata mereka saling bertumpu, Inka langsung mengalihkan pandangannya.
Dokter masih memeriksa nya. Dan Inka membuka alat yang menutupi hidung dan mulutnya.
" Bagaimana keadaan mu, Nona? Apa kau mengingat namamu?" Tanya Dokter.
Inka menarik nafas perlahan dan menghembuskan nya.
" Ya. Namaku Inka Manuella. Aku sudah merasa lebih baik, Dokter," sahut Inka lirih.
" Apa kau mengenal pria yang berdiri di samping mu ini?" tanya dokter itu lagi untuk memastikan bahwa Inka tak kehilangan memori di otaknya.
Lalu Inka menatap sekilas kearah Daxon yang menatapnya dengan penuh harap.
" Ya. Namanya Daxon," sahut Inka singkat.
' Itu artinya dia masih ingat apa permasalahan kita,' batin Daxon.
"Tapi aku tak bisa menggerakkan kedua kaki ku," kata Inka lirih.
Hal itu membuat Daxon kembali khawatir. Dia menatap kearah dokter yang juga menatapnya.
Lalu Dokter langsung memeriksa kondisi kaki Inka. Dia mengambil alat dan memukul kan alat itu perlahan ke kaki Inka.
" Apa kau bisa merasakan pukulan ini?" tanya dokter sambil memukul kan alat itu di telapak kaki Inka.
" Tidak, aku tak merasakan apapun," sahut Inka yang terdengar khawatir.
Dokter pun beralih untuk memeriksa kedua lutut Inka. Dia memukul kan alat itu secara perlahan ke lutut Inka.
" Aaaakhh ... Itu sakit, Dokter!!" Pekik Inka dan hal itu membuat dokter mengulas senyum tipis.
Daxon melihat hal itu dan dia juga merasa sedikit lebih tenang.
" Syaraf kaki mu masih belum berfungsi dengan baik, karena efek dari operasi kemarin," sahut Dokter.
" Operasi?" tanya Inka.
" Ya. Kedua kakimu terluka parah dan harus di operasi untuk di pasang pen. Dan syukurlah kaki mu tak ada masalah yang serius dan tidak mengakibatkan resiko yang cukup parah. Tapi ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses penyembuhan," kata dokter itu menjelaskan.
" Tapi ... Apa aku masih bisa berjalan lagi, Dok?" tanya Inka khawatir.
" Ya. Tentu, asal kau mengikuti terapi dan semangat untuk sembuh," sahut Dokter.
" Baiklah, saya permisi dulu," lanjut dokter itu dan keluar dari ruangan itu.
Inka menatap kepergian Dokter dan perawat itu. Lalu dia kembali memejamkan matanya karena dia masih sangat malas untuk berbicara dengan Daxon.
Daxon perlahan duduk di kursi yang ada di samping ranjang Inka dan mengambil tangan nya.
Dia menggenggam tangan Inka dan mengusap nya dengan lembut bahkan dia juga menciumi punggung tangan Inka.
" I Love you ... I love you so much," ucap Daxon pelan.
Inka kembali membuka matanya dan menatap tajam kearah Daxon yang juga menatapnya.