
~Kabar bahagia lintang dan berto~
Perlahan Inka membuka matanya, dia mengerjapkan matanya agar bisa melihat lebih jelas dan menatap kearah wajah tampan sang suami yang duduk di kursi didekat ranjangnya.
" Heii ... kau sudah bangun?" tanya Daxon dengan nada lembut nya.
Inka tersenyum saat melihat seseorang yang di cintai begitu setia menunggu nya sadar. Er dan Arga pun langsung menghampiri ranjang Inka dan begitu mendengar ucapan Daxon.
" Apa yang kau rasakan? apa ada yang sakit?" tanya Daxon lagi.
Inka menggelengkan kepalanya dan melihat kearah Er dan Arga yang masih berada di sana.
" Terimakasih. Kalian mau menemani ku melewati ini semua," kata Inka lirih.
Erlina memegang tangan Inka dan mengusap nya.
" Aku sudah bilang, kan? kita akan menunggumu disini, apa ada yang sakit?" tanya Er.
" Tidak. Aku hanya merasa mata sangat berat," sahut Inka lirih.
" Hmmm ... istirahatlah. Aku akan pulang dulu, Inka. Momy sudah menunggu ku di mansion," kata Er.
Inka hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Lalu dia langsung menutup kembali matanya yang masih terasa berat.
Er dan Arga langsung pergi dari ruangan itu setelah melihat kondisi Inka yang baik-baik saja. Dan hanya tinggal Daxon yang menunggu di ruangan itu.
.
.
Kini Er dan Arga sudah tiba di mansionya. Mereka masuk dan langsung menghentikan langkahnya saat sudah ada di ruang tengah.
Er dan Arga tampak saling menatap saat melihat Momy Lintang yang sedang mengobrol dengan Uncle Berto bahkan mereka terlihat sangat dekat.
" Mom ..."
Lintang dan Berto kompak menoleh dan tersenyum saat melihat Er dan Arga berdiri tidak jauh dari ruangan itu.
" Sayang ... kau sudah datang?" kata Lintang menghampiri Er. Wanita paruh baya itu memegang tangan Er dan membawanya menuju sofa.
" Duduklah. Bagaimana dengan calon cucu Momy? kenapa kau tak mengatakan kehamilan mu lebih awal?" tanya Lintang.
" Aku baru tahu tentang kehamilan ini, Mom. Dan usia kandungan ku masih 6 Minggu," sahut Er dan mengalihkan pandangannya kearah Berto yang duduk di sebelah Lintang.
Lintang menoleh dan tersenyum pada Berto.
" Ya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan pada mu, sayang," sahut Lintang.
Er tampak mengerutkan keningnya menatap kearah Momynya.
" Maksudnya? aku tidak mengerti," sahut Er bingung.
Berto dan Lintang tersenyum dan mereka tampak saling menatap dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
" Aku ingin menikahi Momy mu, Er. Apa kau merestui kami?"
Er dan Arga tampak terkejut saat mendengar penuturan dari Berto yang langsung pada intinya bahwa pria paruh baya yang masih gagah itu ingin meminang sang Momy.
" Jika kau merestui kami, maka aku akan langsung melamar Momy mu pada kedua orangtuanya," lanjut Berto.
Lintang tersenyum dan memegang tangan Erlina yang masih terdiam dan mencoba mencerna semua yang di katakan oleh Berto.
" Bukankah ini yang kau inginkan? kau selalu memaksa Momy untuk menikah, bukan?" kata Lintang.
Er mengalir pandangannya dan menatap kearah sang Momy.
" Ya. Aku merestui kalian, berbahagialah, Mom. Aku selalu mendukung keputusan mu," sahut Erlina bahagia karena akan melihat sang Momy melanjutkan hidupnya.
" Terimakasih, sayang."
Lintang memeluk erat tubuh Er dan Er pun memberikan pelukan hangat sang Momy.
Arga dan Berto tampak tersenyum melihat kehangatan hubungan Er dan Momy nya.
"Tapi bagaimana jika kakek tidak merestui mu, Mom?" tanya Er sambil melepaskan pelukannya.
" Aku yakin dia pasti akan merestui pernikahan ini, Sayang. Karena Uncle Berto dan Kakek sudah saling mengenal. Mungkin hanya tingga memberikan sedikit kekuasaan lagi pada kakek mu maka dia akan segera menikah kan Momy dengan pria kaya ini," kata lintang dan membuat semuanya tertawa.
" Aku sangat bahagia mendengar kabar ini, Mom," kata Erlina sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang Momy.
" Aku juga tak kalah bahagia nya saat mendengar kau hamil, sayang," sahut Lintang sambil mengisi lembut rambut Erlina.
Dan obrolan itu pun berlanjut hingga Er meminta Lintang untuk menceritakan bagaimana kedekatan nya dengan Berto.