
30 menit berlalu.
Erlina dan Inka melakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan. Mereka juga meminta vitamin penyubur dan dokter itu pun memberikan saran serta tips untuk kedua wanita itu.
Inka juga ikut berkonsultasi pada dokter itu dan dokter pun menjelaskan pada Inka bahwa obat yang di konsumsi Inka tak berpengaruh pada kesehatan rahimnya.
Dokter juga memperbolehkan Inka meminum vitamin penyubur kandungan jika memang dia ingin segera hamil.
Setelah cukup lama berkonsultasi serta mengobrol ringan dengan dokter Rin. Erlina dan Inka pun pergi dari ruangan itu.
Erlina mendorong kursi roda Inka dan berjalan di lorong rumah sakit.
" Maaf jika aku merepotkan mu, Er," kata Inka yang tak enak hati pada sahabatnya itu.
" Hmmm ... aku senang melakukan nya. Dan anggap saja ini sebuah balasan karena aku dulu cukup membuat mu repot," sahut Erlina dan Inka tertawa.
" Bukan repot lagi tapi juga di buat pusing apalagi saat kau berusaha menggagalkan pesta pernikahan mu sendiri dengan meminum obat tidur," sahut Inka dan hal itu membuat Erlina ikut tertawa.
Seseorang tampak mengikuti langkah mereka dari belakang dan tanpa Er ketahui.
Wanita itu melihat Er di rumah sakit dan dia memutuskan untuk mengikuti nya karena seperti nya dia ingin berbuat sesuatu pada Erlina.
Setibanya di depan rumah sakit. Er menghentikan langkahnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi sang supir.
Er menempelkan ponsel itu di telinga nya sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sang supir.
Dia berjalan kearah beranda depan rumah sakit dan berdiri di pinggir tangga. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang mendorong nya dari belakang dan Erlina pun terjatuh dari tangga itu.
" Erlina!!!" teriak Inka dan berusaha untuk bangkit dari kursinya meskipun dia masih kesulitan.
Semua orang dan beberapa perawat yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Erlina yang sudah terkapar di bawah.
Mereka langsung membopong tubuh Erlina dan meletakkan nya di brankar yang kebetulan ada disana dan membawa Erlina ke ruangan UGD.
Inka melihat aksi wanita itu yang kemudian langsung melarikan diri namun dengan cepat anak buah Daxon yang bertugas mengawasi Inka dan Erlina pun langsung menangkap wanita itu.
" Siapa kalian!! lepaskan aku!!" bentak wanita itu.
" Kau sudah melakukan kejahatan, Nona. Jadi kau harus diserahkan kepada pihak yang berwajib!" sahut anak buah Daxon dan langsung membawa wanita itu.
Inka mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Daxon namun pria itu tak menjawab nya.
Dia juga langsung menghubungi Arga tapi Arga juga tak mengangkat panggilan darinya.
" Mereka pasti masih meeting," gumam Inka.
Lalu dia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah sakit dan menunggu di depan ruangan UGD.
" Siapa wanita itu? kenapa dia sangat nekat?" gumam Inka sambil menggigit kuku jarinya.
.
.
Kabar itu sampai ke telinga asisten Daxon yang baru saja menerima pesan singkat dari anak buahnya yang bertugas mengawasi Inka dan Erlina.
Pria itu langsung membisikkan kabar buruk itu pada Daxon hingga pria itu tampak terkejut. Arga melihat perubahan di raut wajah Daxon dan dia menatap kearah Daxon yang menatapnya.
" Kau bisa mengambil alih meeting ini? aku dan Arga harus kesana," kata Daxon dengan suara yang hampir berbisik pada sang asisten.
" Baik, Tuan. Saya bisa menghandel nya," sahut asisten itu.
Daxon bangkit dari kursinya dan meminta maaf pada semua yang ada di ruangan meeting karena dia harus meninggalkan meeting yang hampir selesai itu.
Semua tampak menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Daxon keluar dari ruangan itu. Dia juga memberikan kode pada Arga agar pria itu mengikuti nya dan keluar dari ruangan meeting.
" Sebenarnya ada apa, Dax? kenapa kau menyuruh ku ikut keluar?" tanya Arga saat sudah ada di luar ruangan.
" Kita harus cepat kerumah sakit, Ar. Ada seseorang yang mendorong Er dan dia kini ada di ruang UGD," sahut Daxon yang langsung melangkahkan kakinya menuju lift.
" WHAT!!!" pekik Arga langsung mengikuti langkah lebar Daxon.
" Kenapa kau tak mengatakan hal ini sejak tadi?" lanjut Arga.
" Anak buah baru menghubungi asisten ku, Ar. Kita harus cepat!"
Mereka langsung masuk kedalam lift untuk turun ke lobby. Daxon langsung masuk kedalam mobilnya dan Arga duduk di kursi yang ada di samping Daxon.
Lalu Daxon pun langsung mengendarai mobilnya keluar dari area perusahaan nya dan langsung menuju rumah sakit tempat dimana Inka selalu melakukan terapi nya.
" Kau tahu dimana rumah sakitnya?" tanya Arga.
" Kejadian itu di depan rumah sakit saat mereka ingin keluar dari rumah sakit itu, Ar. Dan tidak mungkin Erlina di bawa ke rumah sakit lain, kan?" sahut Daxon yang tetap fokus pada kemudinya.
" Siapa yang melakukan ini? sepertinya dia cari mati," geram Arga.
" Anak buah ku sudah menangkap nya," sahut Daxon.
Dan mereka pun terus melanjutkan perjalanan nya ke rumah sakit dengan ke khawatiran yang sama.
Arga khawatir dengan kondisi Erlina sementara Daxon khawatir karena Inka hanya sendiri dan tak ada yang menjaganya.