Forced Wedding

Forced Wedding
S2 Inka - Daxon 39



Ke esokan harinya.


Mansion Arga dan Erlina.


Erlina tampak sedang membantu sang suami memasang kan kancing di kemeja nya. Dia juga membantu Arga memakaikan jasnya.


Arga menatap wajah cantik Erlina sambil merengkuh pinggang ramping nya.


" Done."


Erlina langsung mengecup dagu sang suami setelah selesai membantu nya. Arga membalas nya dengan mengecup bibirnya.


" Ayo kita sarapan," ajak Erlina sambil mengapit lengan sang suami.


Mereka berjalan beriringan keluar dari kamar nya. Dan mereka langsung menuju ruang makan.


Disana sudah tersaji makanan kesukaan Arga. Pria itu duduk dan melihat kearah meja yang terdapat makanan yang berjejer disana.


" Kau yang memasak nya?" tanya Arga pada Erlina yang sedang mengambil kan makanan ke piring Arga.


" Ya. Aku sudah berusaha dengan keras agar bisa memasak makanan kesukaan mu," sahut Erlina.


Arga tersenyum dan mencium lengan Erlina yang terbuka.


" Thank you, my wife."


Erlina tersenyum dan memberikan piring yang berisi makanan pada Arga.


" Cobalah, kau pasti ketagihan dan tidak akan mau makan di luar jika sudah merasakan makanan masakan ku," ucap Erlina yang masih setia berdiri di samping kursi Arga.


Arga terkekeh mendengar ucapan dari Erlina. Dia mengambil sendok dan garpu nya, lalu langsung menyuap kan makanan itu ke mulutnya.


Erlina menatap kearah wajah sang suami, seolah dia sedang mengamati ekspresi wajah Arga saat menyantap makanannya.


" Bagaimana rasanya?" tanya Erlina penasaran.


Arga berekspresi aneh seakan masakan dari Erlina tidak sesuai ekspektasi nya. Erlina menyadari perubahan di raut wajah sang suami.


Dia bergegas mengambil sesuatu sambil menatap kearah Arga.


" Ayo katakan jika makanan itu tidak enak!" kata Erlina sambil menunjukkan centong nasi yang dia pegang dan siap di pukul kan pada Arga.


Pria itu terkekeh saat melihat ekspresi wajah Erlina yang menurut nya menggemaskan.


Wanita itu tetap memegang centong nasi itu dan bersiap untuk memukulkan pada sang suami yang sepertinya ingin mengerjai nya.


" Iya iya. Ini enak, Beby. Thank you," kata Arga yang langsung berkata jujur dan gagal untuk mengerjai sang istri.


Erlina tersenyum puas dan langsung duduk di kursi yang ada di sebelah Arga. Wanita itu langsung mengambil makanan dan menyantap nya.


" Setelah ini aku akan ke mansion Inka. Aku juga akan menemani nya ke rumah sakit untuk menjalani terapi nya," kata Erlina.


" Ya. Inka juga mengatakan hal itu padaku semalam," sahut Erlina.


Lalu mereka melanjutkan kegiatan makan pagi nya.


.


.


Sementara itu di mansion Inka dan Daxon.


Pria itu terlihat masih bermanja-manja dengan sang istri, dia seolah sangat berat untuk meninggalkan sang istri.


Daxon masih memeluk tubuh sang istri sambil menciumi wajah nya.


" Ini sudah jam berapa, bukankah kau ada meeting pagi ini?" tanya Inka.


" Tapi aku ingin sekali membawa mu bersama ku," ucap Daxon.


Inka terkekeh dan melepaskan pelukannya.


" Cepat pergi lah, nanti kau terlambat!"


" Tunggu aku pulang, aku yang akan menemani mu ke rumah sakit," kata Daxon.


" Tidak perlu. Aku sudah menghubungi Erlina dan dia yang akan menemani ku," sahut Inka meyakinkan sang suami.


Daxon tampak masih berpikir keras karena ini kali pertamanya dia membiarkan sang istri ke rumah sakit tanpa dirinya.


" Hmmm ... baiklah."


Inka tersenyum dan mengusap lengan Daxon yang masih berlutut di hadapannya.


" Pergilah, dan jangan mengkhawatirkan ku. Kau harus berkerja keras untuk keluar kita," ucap Inka.


" Heii ... Aku bosnya disini. Aku satu-satunya penerus kerajaan bisnis keluarga Erkosta, kau tahu?" sahut Daxon dan membuat Inka terkekeh.


" Ya ya ya. Maaf aku lupa bahwa suamiku tuan kaya raya," sahut Inka.


Daxon terkekeh dan dia berdiri.


" Hati-hati dijalan nanti. Dan hubungi aku apapun yang terjadi. oke?"


Inka menganggukkan kepalanya dan Daxon mencium kening nya.


" Aku akan cepat pulang. Tunggu aku," kata Daxon dan berjalan kearah mobilnya yang sudah di siapkan oleh supir.


Inka tersenyum dan melihat kepergian sang suami.