Forced Wedding

Forced Wedding
22 ( Er-Ga )



Er dan Arga kini sudah berada di ruang makan. Er hanya mengacak makanan yang ada di hadapannya karena dia sangat kesal pada Arga yang tiba-tiba bisa masuk kedalam pant house nya.


" Perlu aku suapi? sepertinya kau sedang tak berselera untuk makan," kata Arga melihat Er yang hanya mengacak makanannya.


Er tak menjawab, dia langsung menyuapkan makanan nya kedalam mulutnya. Dengan tatapan yang masih menatap tajam pada pria yang duduk di hadapannya.


' Mod ku langsung hancur saat dia muncul di hadapan ku, ohh God ... bagaimana aku akan melewati hari-hari ku setelah menikah dengan nya!! aku bisa gila,' batin Er masih menatap tajam pada Arga.


Kini mereka sudah menyelesaikan makan pagi nya. Er langsung berjalan keluar dari pant house nya dan diikuti oleh Arga di belakangnya.


Ketika di dalam lift, mereka hanya saling menatap sambil menyenderkan tubuhnya di dinding lift yang berseberangan.


TING ...


Pintu lift terbuka, Er langsung keluar dari lift dan berjalan cepat kearah mobilnya yang terparkir.


Saat ingin membuka pintu mobilnya, dengan cepat Arga menarik tangan Er dan mengangkat tubuh Er ke punggungnya dan membopongnya langsung.


" Ck, Selalu seperti ini. Kau sangat pemaksa, Ar. Dan aku sangat membenci hal itu," kata Er dengan nada yang tenang tapi penuh penekanan.


Arga tak menjawab, dia langsung menurunkan Er saat berada di samping mobilnya dan membuka kan pintu untuk Er.


Er langsung masuk dengan ekspresi yang sedang terlihat menahan kekesalannya. Lalu Arga menjalankan mobilnya menuju ke arah gedung tempat pemotretan Er.


Dalam perjalanan mereka hanya terdiam dan seperti enggan untuk berbicara. Lalu ponsel Er berbunyi.


Er mengambil ponselnya dan melihat nomor yang tidak di kenal menghubungi nya.


Er langsung mematikan panggilan itu tanpa mengangkatnya.


Sampai berkali-kali nomor itu terus menghubungi Er. Dan Er tampak sangat kesal dengan hal itu lalu dia mengangkat nya.


" Hallo, Siapa ini?" kata Er sedikit berteriak.


Namun tak ada suara dari seberang telepon nya.


" Hallo ... Kau ingin mengerjai ku?" kata Er kesal.


Tapi tetap tak ada jawaban dari seberang telepon itu. Dan Er langsung mematikan panggilan itu.


" Hari ini benar-benar hari buruk ku," gumam Er menaruh lagi ponselnya.


Arga hanya melihat sekilas pada Er dengan seringai tipis di bibirnya.


Lalu ponsel Er berbunyi lagi.


" Shiit ... Nomor ini lagi," gumam Er melihat layar ponselnya.


" Hallo cepat katakan siapa kau?" kata Er dengan nada yang kesal.


" Hallow ... Gadis kecil. Kau merindukan ku??" kata seorang wanita dari seberang telepon yang sangat Er kenal suaranya.


Er langsung melemparkan ponselnya hingga terjatuh ke bawah. Wanita itu langsung menaikkan kakinya ke atas kursi dan memeluk dirinya sendiri.


Arga melihat kearah Er yang tampak ketakutan saat menerima panggilan itu.


Lalu tanpa bertanya Arga mengambil ponsel Er yang terjatuh.


Arga menatap layar ponsel Er yang sudah mati. Lalu arga menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Dia langsung menyalakan ponsel Er dan mencari panggilan terakhir yang masuk. Dia melihat sebuah nomor yang tak bernama dan dia langsung menghubungi nomor tersebut.


" Shiit."


Arga tak bisa menghubungi nomor itu, karena yang punya nomor itu langsung membuang kartunya setelah berhasil meneror Er.


" Siapa yang menghubungi mu, Er?" tanya Arga akhirnya.


Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Er setelah menerima panggilan dari nomor tadi.


Er tak menjawab, dia hanya menatap ke sekeliling nya seakan mencari seseorang. dengan wajah yang terlihat panik serta menggigit kuku jarinya.


" Heii ... Er. Ada apa dengan mu? siapa yang menelepon mu tadi?" tanya Arga dengan nada yang lembut sambil memegang bahu Er yang tampak bergetar karena ketakutan.


Er tak menjawab, dia menatap lekat mata Arga yang sedang menatapnya.


" Batalkan pernikahan itu, aku mohon batalkan pernikahan itu, Ar. Jangan sampai pernikahan itu terjadi, Jangan!" kata Er dengan nada yang bergetar.


Arga menatap Er dengan mengerutkan keningnya. " Tidak akan. Pernikahan itu harus tetap terjadi karena aku harus menepati janji ku dengan daddy dan kakek Erlando!" sahut Arga tegas.


" Sudahi sandiwara mu ini, Er. Karena aku tetal tidak akan membatalkan pernikahan itu!" tegas Arga menghempaskan tubuh Er di kursi.


Lalu dia langsung mengemudikan mobilnya lagi. Dia berpikir bahwa apa yang terjadi dengan Er hari ini adalah rencana Er agar dia membatalkan pernikahan itu.


" Kau pikir aku sedang bersandiwara!!" teriak Er.


Arga tak menjawab, dia hanya fokus dengan jalanan. Karena dia sangat yakin bahwa Er sedang bersandiwara.


Er terdiam dengan posisi masih memeluk lututnya sendiri sambil menggigit kuku jarinya.


' Bagaimana bisa dia tahu nomor ponsel ku,' batin Er.


Dia tampak berpikir keras. Bagaimana dia akan membatalkan pernikahan itu. Karena dia sangat takut jika dia menikah wanita itu akan muncul di hadapan nya.


' Tenang ... Er tenang. Kau bukan gadis kecil lagi. Kau sudah punya bekal bela diri dan menembak, bukan. Jadi aku pasti bisa menghadapi wanita iblis itu,' batin Er menguatkan dirinya sendiri.


Arga melihat perubahan Er yang terlihat langsung kembali normal.


' Aku tidak akan terpancing oleh sandiwara mu, Er. Dan untuk akting mu tadi, benar-benar akting yang bagus,' batin Arga tersenyum licik.


Kini Er sudah berada di gedung tempat pemotretan nya. Dia langsung bersikap normal kembali dan berusaha untuk menghadapi semuanya sendiri dan tanpa ada orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


" Inka, bisakah kau tinggal bersama ku sampai pernikahan ku berlangsung?" tanya Er.


Dia masih sangat takut jika harus tinggal sendiri di pant house nya. Setelah apa yang terjadi hari ini.


" Ada apa, Er? kau terlihat sedang ketakutan," sahut Inka menghampiri Er yang duduk di depan meja rias.


" Tidak, tadi pagi Arga datang ke pant house ku tanpa izin ku. Jadi aku hanya takut jika dia besok mengulangi hal itu lagi," kata Er menutupi ketakutannya.


Inka menatap lekat wajah Er. Dia melihat ke khawatir yang begitu besar dari raut wajah Er, Lalu dia tertawa.


" Jadi kau hanya takut jika Tuan Arga melakukan sesuatu padamu di pant house mu, Er? Dan kau meminta ku untuk menemani mu karena hal itu," kata Inka dengan tawanya.


' Huuffft ... aku pikir Inka akan curiga pada ku," batin Er.


Dia sempat tegang saat Inka menatap nya dengan begitu intens. Karena dia sangat tahu sesuatu yang di rasakan Er saat dia menatap nya.


Er hanya tersenyum getir tanpa menjawab perkataan Inka.


Lalu mereka pun melanjutkan pekerjaannya sampai tak terasa siang pun sudah berganti malam.