Forced Wedding

Forced Wedding
S2 Inka - Daxon 8



" Kauu ..." pekik Inka beranjak dari ranjang.


Daxon menutup kembali pintu kamar Inka sebelum dia menghampiri wanita itu. Sementara itu, Inka sudah berdiri di samping ranjang.


" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Inka dengan nada ketus nya.


Pria itu tersenyum miring dan mulai melangkah mendekati Inka yang masih berdiri di samping ranjang.


" Aku ingin bicara dengan calon istri ku, kenapa?" sahut Daxon.


Pria itu duduk di tepi ranjang dan menarik tangan Inka hingga duduk di sampingnya.


Mereka saling menatap.


" Apa yang ingin kau bicarakan? cepat katakan sebelum ada orang yang masuk ke kamar ini," kata Inka yang sesekali melihat kearah pintu.


Dia sangat takut jika tiba-tiba ada yang datang dan membuka pintu. Apalagi ada ibunya juga di rumah itu.


" Heii ... tenanglah. Aku tidak akan melakukan apapun pada mu! kecuali kau yang menggoda ku terlebih dahulu," sahut Daxon sambil mengangkat satu bahunya.


" Iiishhh ... cepat katakan. Aku ingin beristirahat," sahut Inka.


Lalu Daxon membenarkan posisi duduknya menghadap kearah Inka. Dia menggenggam tangan wanita cantik itu dan menatap mata nya dengan intens.


' Oh my, kenapa dada ku berdebar?' batin Inka mulai gusar.


" Begini. Aku sudah memutuskan untuk menjalani pernikahan ini dengan serius. Aku tak mau mengecewakan kedua orang tuaku dan ibumu. Mereka terlihat sangat bahagia menyambut pernikahan ini, jadi aku memutuskan bahwa pernikahan ini bukanlah pernikahan kontrak atau sejenisnya!"


Inka tertegun dengan apa yang di ucapkan oleh pria itu. Bahkan dia seakan tercekat dan sulit menelan saliva nya.


" Ya. Aku memang seorang playboy dan sering meniduri setiap wanita yang ku temui. Tapi sungguh, itu karena mereka sendiri yang menyerahkan tubuhnya dengan suka rela padaku. Dan sebagai lelaki yang normal, aku tak bisa menolak setiap wanita yang sudah membuka lebar-lebar pahanya di depan ku, kan?" lanjut Daxon dengan wajah tanpa berdosa nya.


Inka mengerutkan keningnya. Dia tak menjawab dan hanya mendengar kan ucapan dari pria itu.


' Ya. Wanita mana yang tidak akan membuka lebar-lebar pahanya di depan pria tampan dan hot seperti dia,' batin Inka.


" Tapi satu janjiku. Aku berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi setelah aku menikah," kata Daxon.


Itu cukup membuat Inka tertegun. Dia menatap mata tajam pria itu dan melihat keseriusan disana.


" Jadi aku mohon padamu. Kau juga harus berusaha menerima pernikahan ini, aku memang belum mencintai mu. Tapi aku yakin bahwa tak akan sulit mencintai wanita seperti mu asal kan ada kesempatan untuk ku," kata Daxon lagi.


Inka menghela nafas panjang. Entah kenapa hatinya terasa sesak saat pria itu mengatakan bahwa dirinya tidak punya perasaan padanya.


Wajar saja karena mereka juga baru saling mengenal. Itupun lewat aplikasi dating, dan sekarang mereka bahkan sudah akan menikah.


" Itu sudah prinsip keluarga ku, Nona. Daddy bisa langsung menembakan selaras panas pada ku jika aku berani bermain dengan sebuah pernikahan," sahut Daxon.


" Bukan hanya Daddy mu saja. Tapi aku juga akan ikut menancap kan pisau ke tubuh mu jika sampai kau berani bermain di belakang ku!" tegas Inka.


" Hiii ... Kau menyeramkan, Beby ..."


lirih Daxon dengan wajah yang sudah tak berjarak lagi dengan wajah cantik Inka.


Inka mengerutkan keningnya. Dia mengangkat tangan nya dan meletakkan telapak tangannya tepat di wajah pria itu.


Kemudian dia mendorong wajah itu hingga menjauh dari wajahnya.


Pria itu tampak terkekeh.


" Tadi saat di pantai kau membalas ciuman ku dengan begitu panas, Beby. Dan sekarang? CK CK CK." Pria itu menggeleng dan bangkit dari ranjang.


Dia berjalan dengan santai kearah pintu. Dan Inka langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dengan mata yang sudah terpejam karena dia kira Daxon sudah keluar dari kamar itu.


Tiba-tiba ada seseorang yang mencium bibirnya bahkan menyesapnya.


Wanita itu terkejut dan kembali membuka matanya, dia melihat wajah tengil Daxon yang sudah berdiri di hadapannya.


" Good night, Beby."


Pria itu langsung pergi dari kamar itu setelah mencium bibir wanita itu. Sementara Inka tak bergeming, dia hanya terus menatap kearah punggung lebar Daxon yang kini mulai menjauh dan menghilang dari balik pintu.


" Oh my. Bahkan malam ini juga aku seakan ingin membuka pahaku lebar-lebar di depan nya," gumam Inka sambil mengusap kasar wajahnya.


Pria yang baru saja dia kenal dan sudah akan menikah dengan nya. Berhasil memporak porandakan hati wanita itu.


Inka beranjak dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya dahulu sebelum dia istirahat.


Wanita itu tampak menatap pantulan wajah nya di depan cermin yang ada di kamar mandi.


" Sekarang aku tahu bagaimana perasaan para wanita yang dengan suka rela memberikan tubuhnya pada pria itu. Dia benar-benar sangat bisa memporak porandakan hati para wanita. Dan pria itu akan menjadi suami ku, sebentar lagi."


Inka mengambil sikat gigi dan memberikan pasta gigi di sana.


" Huuuft ... sepertinya aku harus menjadi istri siaga setelah menikah dengan nya," gumam Inka lalu mulai mengikat giginya.