Forced Wedding

Forced Wedding
S2 Inka - Daxon 30



" Aku tidak bisa tidur karena sedang memikirkan suatu hal," sahut Lintang.


Pria itu duduk di kursi yang ada di hadapan Lintang dan melihat ekspresi wajah Lintang.


Mereka hanya terdiam sejenak dan tak ada yang membuka suara karena mereka memang baru saling mengenal.


" Ada yang kau pikirkan, Ber?" tanya Lintang.


Berto langsung mengangkat wajahnya dan menatap kearah wajah Lintang.


" Aku memikirkan permintaan kakak," sahut Berto jujur.


" Dia menyuruh mu menikah sebelum kau kembali?" tanya Lintang.


Pria itu menatap dengan kening yang berkerut.


" Dari mana kau tahu? apa kau bisa membaca pikiran seseorang?" tanya Berto yang membuat Lintang terkekeh.


" Mana ada orang bisa membaca pikiran seseorang? aku tahu dari Siena, dari siapa lagi?" sahut Lintang sambil menggeleng kan kepalanya.


Berto pun ikut terkekeh sambil memijat keningnya.


Mereka mengobrol ringan di sana sambil menikmati pemandangan indah bintang di atas langit.


Layaknya sepasang suami istri yang tengah menikmati malam indah nya. Mereka seperti sudah saling mengenal satu sama lain dan terlihat sangat dekat hanya dalam waktu beberapa jam saja.


Sementara itu, di sebuah kamar. Yang tepat berada di atas, dimana Lintang dan Berto sedang bercengkrama.


Erlina mengintip dari balik balkon dengan senyum lebar di bibirnya.


" Mungkin mereka jodoh. Dan mungkin saja ini sudah takdir dari tuhan," gumamnya.


Dia terus menatap kearah wajah sang Momy yang tersenyum lebar dan tertawa bersama dengan Berto. Dan sangat terlihat jika Lintang menikmati momen itu.


" Aku akan bahagia jika kau bahagia, Mom."


Lalu Erlina masuk kedalam kamar dan menutup pintu balkon nya.


Dia berjalan menuju ranjang dimana Arga sudah terlelap. Dia membaringkan tubuhnya di samping sang suami dan memeluknya dengan begitu erat.


Arga terbangun karena merasakan pergerakan dari sang istri. Lalu dia membalik tubuhnya menghadap Erlina dan memeluknya dengan begitu erat.


Erlina semakin membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami dan sesekali menciumnya.


" Jangan memancing ku, Honey. Tapi jika kau ingin melanjutkannya aku pun akan menerimanya dengan senang hati," kata Arga dengan suara seraknya.


Erlina tak menjawab dan terus menciumi tubuh kekar sang suami hingga semakin turun.


" Ooouwwhh ... Honey."


Lenguhan serak dari Arga terdengar saat Erlina mulai bermain di bawah sana.


Entah apa yang dia lakukan hingga membuat Arga mengerang. Karena sudah merasa tak tahan, Arga menghentikan kegiatan sang istri.


Dia mengangkat wanita itu dan membalik tubuhnya hingga posisi nya menungging.


" Aaah ... Honey!!" pekik Erlina saat merasakan sesuatu yang basah dan hangat sedang menyapu bagian sensitif nya.


Arga bermain di area itu hingga sang istri mendapatkan ******* nya. Lalu dia menghentikan kegiatan nya.


Pria hot itu menahan perut sang istri dan langsung melakukan kegiatan inti nya. Dia mendorong kuat tubuhnya hingga membuat wanita itu semaki memekik keras.


" Honey ... Aaahh."


Des**Hn dari kedua nya terdengar bersahut-sahutan di kamar panas itu. Peluh juga mulai membasahi tubuh mereka hingga beberapa saat kemudian mereka sama-sama mendapatkan puncaknya.


Mereka berbaring di atas ranjang sambil berpelukan.


" I love you. Semoga kau cepat hamil dan kau bisa segera berhenti dari pekerjaan itu," kata Arga sambil mencium puncak kepala sang istri.


" Hmmm ... jika itu sampai terjadi kau harus menyiapkan uang yang cukup banyak untuk membayar penalti ku," sahut Erlina yang membuat Arga terkekeh.


Erlina mendongak dan menatap wajah tampan sang suami.


" I love you to. Aku akan segera mengabulkan keinginan mu."


Arga tersenyum dan semakin memeluk erat sang istri.


" Thank you."


Erlina hanya tersenyum dalam dekapan Arga. Dia sudah memutuskan untuk tak mengkonsumsi pil kontrasepsi nya. Dia ingin segera memberikan keturunan pada sang suami agar keluar kecil mereka semakin lengkap.


' Ya. Aku sudah mencapai puncak dari karir ku, tabungan ku pun sudah sangat banyak. Dan suami ku, dia sangat kaya raya. Lalu apalagi yang ku inginkan selain kehadiran seorang anak yang akan menambah kebahagiaan kita?' batin Erlina.


.


.


Pagi menjelang.


Inka membuka matanya, dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengedarkan pandangannya di segala sudut di kamar itu.


Dia tak melihat siapa pun di kamar itu dan itu terasa Aneh baginya.


" Kenapa seperti ada yang kurang ya?" gumam Inka sambil terus berbaring.


Lalu dia melihat kearah samping dan melihat sebuah bantal yang sudah kosong.


" Oh Astaga. Aku melupakan suami ku, aku sudah menikah, tapi dimana dia?"


Inka beranjak bangun dan menyandarkan tubuhnya di dashboard ranjang itu.


CEKLEK


Dia melihat kearah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Lalu tatapan nya bertumpu dengan tatapan tajam sang suami.


" Good morning, Beby. Kau sudah bangun?" kata Daxon dengan senyum mempesona nya.