
Kini Erlina dan Inka sudah dalam perjalanan kerumah sakit dimana Inka biasa menjalani terapi kakinya.
Mereka di antar oleh supir pribadi Erlina karena Arga tak memperbolehkan sang istri untuk berkendara sendiri, apalagi saat ini dia sedang bersama Inka.
Yang pastinya akan membutuhkan bantuan untuk membantu mengeluarkan k-ursi roda Inka. Daxon pun sudah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Inka kemana pun wanita itu pergi.
Pria itu tidak bisa tenang jika membiarkan Inka ke luar rumah tanpa pengawalan serta pengawasan nya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Er dan Inka tampak mengobrol ringan seperti biasanya.
Erlina mengantarkan Inka ke rumah sakit juga karena ingin berkonsultasi dengan dokter kandungan. Karena dia ingin segera bisa hamil anak dari Arga, pria yang sangat dia cintai.
" Jadi kau sudah siap untuk hamil, Er?" tanya Inka.
" Ya. Aku ingin memberikan keturunan pada Arga agar dia tak bisa lari dari ku. Dan dengan kehadiran seorang anak di tengah-tengah kita, itu akan membuat hubungan kita semakin erat," sahut Erlina.
" Hmmm ... kau benar. Aku juga ingin segera hamil, tapi sepertinya itu akan lama karena aku masih mengkonsumsi obat-obatan ku," sahut Inka.
Erlina tersenyum dan mengusap lengan Inka.
" Setidaknya biarkan aku hamil terlebih dahulu, Inka. Karena aku yang menikah duluan," sahut Erlina dan berhasil membuat Inka tertawa.
" Ya. Mungkin tuhan ingin memberikan kesempatan dulu pada mu, Er."
Erlina terkekeh dan mereka melanjutkan obrolan itu hingga mobil yang mereka tumpangi kini sudah berhenti di parkiran rumah sakit.
Supir tampak keluar dan mengambil kan kursi roda Inka. Erlina membantu Inka untuk keluar dari mobil dan duduk di kursi roda nya.
Inka sudah bisa berdiri meskipun masih membutuhkan bantuan dari seseorang. Dan dia juga bisa menggerakkan satu kakinya yang tak terlalu cidera parah.
Supir membantu Erlina mendorong kursi roda Inka hingga bisa naik ke beranda depan rumah sakit.
" Terimakasih, Paman. Kau bisa tunggu disini," kata Erlina.
" Baik, Nyonya."
Erlina langsung mendorong kursi roda Inka masuk kedalam rumah sakit. Inka memberi tahu Inka dimana letak ruangan yang biasa untuk digunakan terapi oleh Inka.
Dan Erlina langsung mendorong kursi roda Inka sesuai instruksi dari Inka.
.
.
Seperti biasa, Inka selalu bersemangat karena dia memang ingin segera bisa berjalan.
Hingga 30 menit berlalu.
Terapi itu pun berakhir, dan dokter memberi kan nasehat serta saran pada Inka.
Setelah itu mereka pun keluar dari ruangan itu bersama.
" Aku akan ke ruangan dokter kandungan, aku sudah melakukan janji dengan nya. Apa kau mau ikut masuk?" tanya Erlina saat mendorong kursi roda Inka.
" Ya. Jika kau tak keberatan aku ingin ikut, Er. Aku juga ingin berkonsultasi," sahut Inka.
" Baiklah. Kita akan berkonsultasi bersama, dia dokter yang cukup terkenal di sini," sahut Erlina.
Mereka terus berjalan di lorong rumah sakit itu sambil terus mengobrol seakan tak pernah habis topik pembicaraan mereka.
Hingga kini mereka tiba di depan sebuah pintu ruangan seorang dokter yang sudah membuat janji dengan Erlina.
Tok tok tok
Erlina mengetuk pintu itu, dan beberapa menit kemudian seorang perawat membukakan pintunya.
" Apakah dokter Rin sudah ada? saya sudah membuat janji dengan nya," kata Erlina pada perawat itu.
" Apakah anda Nona Erlina?" tanya perawat itu sambil melihat kearah sebuah map yang ada di tangan nya.
" Ya, aku Erlina Mahardika."
" Silahkan masuk, Nona. Anda sudah di tunggu." Perawat itu langsung mempersilahkan Erlina dan Inka masuk kedalam ruangan itu.
Terlihat Dokter Rin sudah ada di kursi kebesaran nya. Dokter cantik itu langsung mengangkat wajahnya dan melihat kearah tamunya.
" Hallo Nyonya Mahardika!"
sapa dokter itu.
" Hallo Dokter. Apa aku terlambat?" tanya Erlina duduk di kursi yang ada di seberang meja dokter itu.
" Tidak, aku baru saja selesai menangani pasien ku. Jadi ... kita langsung melakukan pemeriksaan nya dulu agar kita bisa melanjutkan obrolan kita setelah ini," sahut dokter itu.
Lalu Er langsung beranjak dan membaringkan tubuhnya di ranjang yang ada di ruangan itu. Dan dokter Rin langsung memeriksa nya.