
Arga menatap lekat mata Erlina. Wajah nya datar tanpa ekspresi dan tanpa senyuman sedikit pun di bibirnya.
" Kau marah padaku?" tanya Erlina saat melihat ekspresi wajah Arga.
Arga tersenyum, lalu memeluk erat tubuh Erlina sambil terus berdansa.
" Aku tidak akan marah karena hal itu, Honey."
Erlina membalas pelukan itu saat mendengar ucapan dari Arga.
" Thank you. I love you," kata Erlina meletakkan dagunya di bahu Arga.
" I love you to. Apa hanya itu yang kau sembunyikan dari ku?" tanya Arga.
" Hmmm ... aku sangat takut jika kau akan marah karena aku menunda kehamilan," sahut Er.
" Oh my, tak mungkin aku marah padamu, Sayang. Itu hak mu, aku tak akan melarang mu," sahut Arga.
" Terimakasih. Aku berjanji tak akan lama, agar kita bisa segera memiliki seorang putra bersama mu," sahut Erlina.
Lalu Arga mengecup bibir sang istri dan mereka pun melanjutkan dansa nya.
.
.
" Apa yang kalian lakukan!!! siapa kau!!" teriak wanita itu yang tak lain adalah Gris.
Wanita yang ingin di jodohkan dengan Daxon.
Inka mendorong tubuh Daxon hingga pria itu menyingkir dari tubuhnya. Lalu dia bangkit dan membenarkan gaun nya.
" Kau ... bukankah kau seorang asisten dari wanita tadi di butik?" tanya Gris sinis sambil menunjuk wajah Inka.
" Heii ... singkirkan tangan mu dari kekasih ku," sahut Daxon sambil menghempaskan tangan Gris dari wajah Inka.
Hal itu membuat Inka langsung menoleh pada pria itu sambil mengerutkan keningnya.
" WHATT!! wanita ini kekasih mu, Daxon?" tanya Gris terkejut.
Lagi-lagi dia di buat kesal karena pria yang ingin di jodohkan dengan nya ternyata memiliki kekasih dan kekasih nya adalah Inka yang menurut nya bukan tandingan nya.
" Ya. Dia kekasih ku, dan sorry. Aku tak bisa melanjutkan perjodohan kita. Aku kemari hanya ingin memperkenalkan dia pada kau dan orang tua mu!!" tegas Daxon sambil merengkuh pinggang Inka.
" Tidak bisa!! kau harus tetap bertunangan dengan ku!!" bentak Gris.
" Kau tak bisa mengatur ku! ini adalah salah satu syarat dari orang tua ku, mereka akan membatalkan perjodohan ini kalau aku berani membawa kekasihku ke pesta ini!!" tegas Daxon.
" Hahh ... kalian pasti hanya sedang bersandiwara. Berapa pria ini membayar mu?" tanya Gris pada Inka sambil mendekap tangan di dadanya.
Inka mengerutkan keningnya dan dia sangat kesal dengan wanita sombong itu.
" Tidak. Ini bukan sandiwara!!" tegas Inka sambil mengapit lengan kekar Daxon hingga membuat pria itu melihat kearah nya dengan seringai tipis di bibirnya.
" Tidak. Aku masih tidak percaya!! kau pasti wanita bayaran yang sudah di bayar oleh Daxon untuk menghancurkan pertunangan ku, kan?" sahut Gris kesal.
" Ini bukanlah sandiwara dan aku bukan__"
Ucapan Inka terpotong saat tiba-tiba Daxon mengulum bibirnya dengan begitu intens di depan Gris.
Tangan nya menekan tengkuk leher Inka dan tangan satunya merengkuh pinggang nya dan menariknya hingga menempel sempurna pada tubuhnya.
Gris membelalak kan matanya melihat adegan ciuman itu. Dia seakan tak percaya tapi pikiran nya menampik dan mulai percaya hubungan mereka itu nyata.
Saat Inka membalas ciuman itu sambil melingkarkan tangannya di leher kokoh Daxon.
Dari jauh tampak Er dan Arga melihat kejadian itu. Mereka saling menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
" Eehhem!!! apa dia benar-benar kekasih mu, Son?" kata seseorang yang tak lain adalah Kenta Erkosta, Daddy dari Daxon.
Daxon langsung menghentikan ciuman nya dan melihat kearah asal suara yang sangat di kenalnya.
" Kau tidak sedang bersandiwara, kan?" tanya wanita paruh baya yang berdiri di belakang Kenta.
" Mom ..." lirih Daxon.
Dia tampak begitu terkejut saat melihat kehadiran kedua orang tuanya di acara itu. Karena mereka sebelum nya bilang tak bisa hadi yang di pesta itu.
" Kenapa? kalian tak bisa melanjutkan sandiwara ini?" sahut Gris.
Wanita itu merasa menang saat melihat wajah pias Daxon.
Lalu pria itu menatap lekat wajah cantik Inka dan menggenggam erat tangan nya.
" Dia Inka Manuella. Dia kekasih ku dan aku ingin menikah dengan nya!!" tegas Daxon yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Inka.
Bahkan senyum di bibir Gris langsung hilang seketika.