
Kini pesawat yang di tumpangi oleh Rinda dan 2 adik kembar Inka telah mendarat di Bandara.
Mereka langsung turun dari pesawat dan sudah di sambut oleh beberapa pria yang berperawakan tinggi besar dan berpakaian serba hitam.
Hingga membuat Mark dan Mars ketakutan dan bersembunyi di belakang Rinda.
" Bu, mereka siapa? mereka bukan orang jahat, kan?" tanya Mars.
" Iya, Bu. Mereka seperti para kumpulan mafia yang ada di dalam film-film," lanjut Mark.
" Heii ... mereka hanya pengawal, sayang. Kalian tidak perlu takut," kata Rinda menarik kedua tangan anak kembar nya yang masih berusia 10 tahun.
Lalu mereka melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah terparkir.
" Silahkan masuk, Nyonya. Kita akan langsung ke mansion keluarga Erkosta," kata salah satu pria yang berpakaian hitam.
" Terimakasih."
Rinda langsung membawa anak-anaknya masuk kedalam mobil mewah itu. Dan di ikuti olehnya.
Mobil itu langsung melaju meninggalkan bandara. Ada beberapa mobil dari pengawal yang mengikuti mobil itu dan mengawal nya hingga sampai ke mansion keluarga Erkosta.
.
.
" Kau dimana, Dax?" tanya Kenta.
" Aku msih di resort, Dad. Ada apa?" sahut Daxon dari seberang telepon.
" Cepat pulang. Aku tahu kau sedang bersama calon istri mu! bawa dia kemari karena orang tua nya sudah dalam perjalanan kemari."
Kenta langsung memutuskan panggilan itu tanpa memperdulikan ocehan Daxon.
" Done. Aku sudah menghubungi Daxon," kata Kenta.
Pria itu duduk di sofa dan merangkul bahu sang istri. Siena menyandarkan kepalanya di lengan kekar Kenta yang tubuhnya masih bugar meskipun usianya tak lagi muda.
" Semoga anak itu jera dan tak lagi bermain-main dengan wanita," gumam Siena sambil meminum jusnya.
" Anak buah ku bilang, mereka mulai akur dan tak berselisih lagi. Bahkan pria itu berhasil mencium calon menantu kita di pantai," kata Kenta yang langsung membuat Siena tersedak.
Dengan sigap Kenta langsung menepuk pundak Siena secara perlahan.
" Pelan-pelan sayang."
" Anak itu benar-benar keterlaluan," kata Siena kesal dengan perbuatan sang putra yang langsung bergerak cepat jika berurusan dengan wanita.
Kenta tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya mendengar Omelan sang istri.
" Keputusan kita sudah tepat dengan mempercepat pernikahan itu. Aku tak mau Daxon mempermainkan gadis lugu seperti Inka. Dia sudah menjebak nya dalam masalah dia sendiri, jadi dia harus benar-benar menikahinya," lanjut Siena.
Lalu tampak seorang pelayan menghampiri mereka.
" Tuan, Nyonya. Tamu Anda sudah sampai," kata seorang pelayan sambil menundukkan kepalanya.
" Baiklah. Kita akan segera menyambut nya," sahut Kenta.
Pelayan itu berbalik dan ingin pergi dari hadapan tuannya.
" Apa kau sudah menyiapkan kamar untuk tamu kita?" tanya Siena yang membuat wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kearah tuannya.
" Sudah, Nyonya," sahut nya.
" Baiklah, kau bisa pergi."
*
Kini Kenta dan Siena sedang berdiri di beranda mansion nya. Senyumnya mengembang saat melihat seorang wanita paruh baya yang berpenampilan sederhana keluar dari mobilnya.
Wanita itu adalah Rinda, ibu Inka. Dia juga membawa 2 anak kembar nya yang tak alin adalah Mars dan Mark, adik dari Inka.
Dua anak itu menatap takjub bangunan yang berada di hadapannya. Matanya berbinar dan senyumnya tersungging sepanjang berjalan kearah beranda mansion yang sudah terdapat tuan rumah dari mansion itu.
" Selamat datang di mansion kami, Nyonya Rinda," kata Siena menyapa dengan senyum cantiknya sambil mengulurkan kedua tangannya ingin memeluk calon besannya.
" Terimakasih, Nyonya Siena. Seharusnya kalian tak perlu repot-repot menyambut kami seperti ini," sahut Rinda sambil berpelukan dengan Siena.
" Selamat datang, Calok besan. Semoga kalian betah disini," kata Kenta.
" Terimakasih, Tuan."
Lalu Kenta melihat kearah dua anak yang berdiri di belakang Rinda. Pria itu menghampiri 2 anak kembar itu dan berlutut di hadapannya.
" Hai ... Boy, girl. Siapa nama kalian?" tanya Kenta sambil memegang pundak dua anak itu.
" Namaku Mars Manuella, Uncle."
" Dan namaku Mark Manuello, Uncle. Rumah uncle sangat besar seperti sebuah istana," kata Mark.
" Bukan istana, tapi lebih menyerupai sebuah kastil kerajaan," lanjut Mars.
Kenta tertawa mendengar ucapan dari 2 anak itu. Dia mengacak rambut keduanya.
" Boleh Uncle memeluk kalian? Uncle hanya punya satu putra dan dia tak mau memeluk Uncle lagi karena sudah dewasa," kata Kenta.
Dua anak itu mendongak kan kepalanya menatap kearah Rinda seolah minta izin. Dan Rinda langsung mengangguk kan kepalanya.
Tanpa menunggu waktu lagi, Mark dan Mars langsung berhamburan memeluk tubuh tegap Kenta yang berlutut di hadapannya.
" Aku senang kalian mau memeluk Uncle," kata Kenta sambil mengusap punggung kedua anak itu.
" Aku jadi merindukan pelukan Ayah," kata Mars lirih.
" Heii ... Kalian sekarang punya Uncle dan aunty Siena. Kami akan menjadi orang tua kedua kalian," kata Kenta tanpa melepaskan pelukannya.
Siena dan Rinda menatap haru pada mereka yang berpelukan. Dan tak terasa Rinda mulai menetes kan air matanya.
Siena yang melihat hal itu langsung merangkul bahu Rinda dan mengusap lembut lengannya.
.
.
Daxon keluar dari resort. Dia berjalan menuju mobilnya, sementara Inka sudah siap dan sedang berpamitan pada Er dan Arga yang masih ingin tinggal di resort itu.
" Kabari aku jika kalian sudah sampai," kata Erlina sambil memeluk Inka.
" Baiklah," sahut Inka sendu.
TINN TINN ...
" Heii ... kalian hanya berpisah sementara!! kenapa harus berpamitan lama begitu!" teriak Daxon dari dalam mobilnya setelah menekan klakson nya.
" Dasar pria. Tak bisakah dia bersabar sedikit," omel Inka sambil berjalan kearah mobil.
Lalu Daxon langsung menjalankan mobilnya setelah memastikan Inka masuk dan memasang sitbelt nya.
Er dan Arga hanya menatap kepergian mobil itu sambil melambaikan tangannya.