Forced Wedding

Forced Wedding
47. Merayu



Erlina sedang memasak di dapur mewah yang ada di apartemen Arga. Wanita itu berniat untuk merayu sang suami dengan masakannya, agar pria itu mau menandatangani surat kontrak kerjanya ke Paris.


Sebelum itu, Erlina sudah menanyakan kepada Arga. Apakah dia akan pulang atau tidak.


Dia memutuskan untuk memasak makanan sendiri untuk sang suami, setelah sang suami bilang akan makan bersama di apartemennya.


Dia memasak daging steak juga kentang yang dipanggang, serta sayuran yang lain. Dia juga berniat untuk menggoda sang suami dengan pakaian seksi yang telah dia siapkan.


Setelah sekitar 30 menit dia berkutat di dapur, akhirnya dia sudah menyelesaikan masakannya.


" Akhirnya beres juga, semoga dia suka."


Wanita itu meninggalkan dapur setelah membersihkan area dapurnya. Dia berjalan menuju kamarnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Erlina keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bedropnya, lalu dia mengambil pakaian seksi yang tadi dia siapkan dan langsung memakainya.


Wanita itu merias wajahnya di depan cermin, lalu dia melihat pantulan dirinya di cermin.


" Perfect. Semoga usaha ku untuk mendapatkan tantangan Arga berhasil. Apa dia akan langsung tergoda saat melihat penampilan ku?" gumam Erlina yang terus memutar tubuhnya di depan cermin.


Lalu dia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, wanita itu mulai menyiapkan makanannya.


Saat dia ingin mengambil piring untuk diletakkan di atas meja, tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


" Arga ... kau mengagetkan ku," kata Erlina.


Lalu Arga menciumi ceruk leher sang istri dan menghirup aroma wangi dari tubuhnya.


" Kau sangat wangi. Aku suka wangi tubuhmu, dan kau terlihat sangat cantik malam ini," puji Arga, lalu melepaskan pelukannya.


Erlina berjalan menuju meja makan dan meletakkan piring yang tadi dia ambil. Namun saat berbalik lagi-lagi dia dikejutkan oleh sang suami yang sudah berada di belakangnya.


" Kau seperti hantu saja, Ar. Selalu mengagetkanku," kata Erlina.


" Ada yang aneh malam ini," kata Arga curiga.


" Apanya yang aneh?" tanya Erlina.


" Aku memasak? dan kau berpenampilan sangat seksi dan cantik. Apa ada sesuatu di balik itu semu?" tanya Arga penuh selidik.


" Ya. Aku ingin menjadi istri yang baik untuk suami ku," kata Elina sambil mengalungkan tangannya di leher Arga.


" Baiklah, aku akan membersihkan tubuhku dulu, baru setelah itu kita makan," kata Arga.


Pria itu berlalu meninggalkan sang istri setelah mengecup kening nya.


Erlina menatap punggung sang suami yang sudah berjalan menjauhinya, lalu dia melanjutkan kegiatannya menata makanan yang tadi dia masak di atas meja.


Setelah beberapa menit berlalu, Arga keluar dari kamarnya dan sudah mengganti bajunya.


" Ayo kita makan," kata Arga.


Erlina dengan sigap melayani sang suami, dia mengambilkan piring serta makanan untuk Arga.


" Kau sangat perhatian, katakan jika ada yang kau mau," ucap Arga to the poin.


" Nanti. Aku akan mengatakannya setelah menyelesaikan makan malam kita," sahut Erlina.


Wanita itu meletakkan piring yang sudah berisi makanan di hadapan sang suami.


" Kau tidak makan?" tanya Arga yang masih melihat sang istri berdiri di sampingnya.


" Baiklah."


Erlina duduk di kursi yang ada di samping Arga.


Lalu Arga mulai menyantap makanannya.


" Masakanmu enak juga," puji Arga.


" Terima kasih suamiku. itu karena aku memasaknya dengan penuh perasaan," sahut Erlina.


" Perasaan apa?" tanya Arga sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Erlina sehingga membuat wanita itu meremang.


" kau ingin tahu?' sahut Erlina menatap sang suami.


" Ya. Katakan," sahut Arga berbisik di telinga Erlina.


" Aku menyayangimu," kata Erlina.


" Hanya itu?" sahut Arga.


Lalu mereka melanjutkan makan malam itu. Setelah selesai menghabiskan makanannya, Erlina langsung membereskan sisa piring yang ada di meja dan meletakkannya di mesin pencuci piring.


Lagi-lagi dia dikejutkan oleh sang suami yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


Erlina menghela nafasnya kasar, dia mencuci tangannya dan langsung mengeringkannya.


Setelah itu dia berbalik dan mengalungkan tangannya di leher sang suami.


" Kau menginginkan sesuatu?" tanya Erlina.


" Y.a Aku ingin mendengar keinginan mu," sahut Arga.


" Baiklah."


Lalu Erlina melepaskan tangannya dari leher sang suami.


Dia berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan musik dari remote yang dia ambil.


Musik itu terdengar slow dan romantis. Erlina berjalan dengan seksi di ke arah sang suami.


Arga bersiul melihat kemolekan sang istri yang berjalan dengan anggun di depannya.


Lalu Erlina langsung mengalungkan tangannya di leher Arga, pria itu merengkuh pinggang Erlina agar lebih mendekat pada tubuhnya.


" Katakan sekarang," kata Arga.


Erlina menatap mata tajam Arga yang sangat dekat dengan wajahnya.


" Tapi kau harus berjanji untuk mengabulkan keinginan ku," kata Erlina dengan jari lentiknya yang menyusuri wajah tampan Arga


" Aku berjanji akan selalu memenuhi keinginanmu," sahut Arga.


" Baiklah."


Erlina mulai bergerak dan melangkahkan kakinya ke samping dengan Arga yang ada di hadapannya.


Mereka pun berdansa mengikuti alunan musik romantis itu.


" Aku menantikannya," kata Arga sambil menempelkan keningnya dengan kening Er.


" Tapi kau tidak boleh marah jika mendengar permintaanku," sahut Erlina.


" Aku berjanji," sahut Arga.


" Aku mendapat tawaran pekerjaan dari brand ternama dari Paris, dan aku membutuhkan tanda tanganmu untuk surat kontrak kerja itu. Apa kau mengizinkanku untuk bekerja sama dengan brand itu?" tanya Erlina.


Arga menatap sang istri dengan kening yang berkerut.


" Kalau boleh tanya, tentang apa? maksudku Apakah kau harus berpakaian seksi di depan para fotografer? atau kau harus berfoto mesra dengan seorang model pria?" tanya Arga penuh selidik.


Erlina langsung tertawa mendengar pertanyaan konyol dari sang suami.


" Jika benar begitu maka aku tidak akan pernah menandatangani surat kontrak kerja itu!" sahut Arga tegas.


Lagi-lagi Elina tertawa melihat kecemburuan Arga.


" Beby ... ini tak lucu, ini serius," kata Arga.


" Oke oke. aku akan menjelaskannya," kata Erlina.


" Ini kontrak kerja tentang brand ternama dari Paris yang bergerak di bidang fashion wanita, seperti make up, parfum, tas, sepatu dan yang lainnya. Jadi tidak mungkin aku akan berfoto dengan seorang pria, sayang," kata Erlina.


Arga pun bernafas lega mendengar hal itu.


" Tapi kau tak boleh berpose seksi di depan kamera dan aku tidak akan pernah mentolerirnya. AKU akan langsung memutuskan kontrak kerja itu jika sampai melihat kau berpose seksi dengan pakaian seksi," kata Arga.


Erlina mencebik mendengar perkataan sang suami.


" Kau tidak bisa mengaturnya, sayang. Karena ini sudah kontrak kerja dan ini sudah pekerjaanku," sahut Erlina.


" Bisa! aku akan mengatakan persyaratan ini pada manajer perusahaan itu," sahut Arga.


" Baiklah, terserah kau saja!"


Erlina langsung melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan sang suami.


" Heii ... bagaimana dengan malam romantis kita?" teriak Arga.


Pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat melihat sang istri terlihat kesal dan meninggalkannya.