Forced Wedding

Forced Wedding
33 ( Pertemanan)



Er menatap tajam mata Arga yang tengah menatapnya. Lalu wanita itu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.


" Jadi ... apa kalian saling mencintai?" tanya almer sambil merangkul bahu Audie.


" Aku mencintai nya tapi dia tidak mencintai ku," sahut Arga dan membuat Er kembali menatap nya.


" Hah ... omong kosong," sahut Er sambil menyesap minuman nya.


Al dan Audie menatap kearah Arga. Pria itu hanya menghendikkan bahunya.


" Bagaimana kalau kita berbulan madu bersama?" kata Audie.


" What ... Bulan madu? No!" tolak Er dengan tegas.


" Come on, Er. Jika kau memang tak mau berbulan madu anggap saja kita liburan bersama," sahut Almer.


Er tampak berpikir keras. Namun tiba-tiba Arga menyetujui rencana liburan itu.


" Aku setuju. Tidak perlu meminta persetujuan Er karena dia pasti setuju dan mengikuti keputusan ku," sahut Arga.


Er menatap tajam pada Arga. Dia sangat kesal karena dia tak bisa menolaknya.


Lalu wanita itu beranjak dari kursinya.


" Aku ke toilet dulu," ucap Er.


" Aku ikut," kata Audie mengikuti langkah Er.


" Apa kau benar-benar menjebak nya?" tanya Al setelah melihat kepergian dua wanita itu.


" Ya. Kita di jodohkan dan aku menjebak nya dalam pernikahan ini," sahut Arga.


" Why? apa kau benar-benar mencintai nya?" tanya Almer penasaran.


" Entahlah. Aku menikahi nya karena ada kesepakatan dan tujuan tertentu," sahut Arga.


" Jadi kau hanya mempermainkan nya!" tanya Al dengan nada yang sedikit membentak.


" Slow bro ... Itu bukan diriku. Kau sangat tahu aku, kan?" sahut Arga.


" Jangan pernah bermain-main dengan sebuah pernikahan, Ar," kata Almer memperingatkan sahabat nya itu.


" Sejak kapan kau mengenal Er?" tanya Arga.


" Kau tahu wanita yang sempat membuat ku tergila-gila dulu?" sahut Al.


" Apa wanita itu Erlina?" tanya Arga dengan penuh selidik.


" Ya. Dia wanita cantik yang tak tersentuh," sahut Al.


" Lalu apa maumu? kau mau mengambil nya dariku?" tanya Arga yang mulai emosi.


" Woow ... tenang, Ar. Dia hanya masa lalu ku, aku sudah punya Audie di samping ku," sahut Al.


" Lalu?" sahut Arga dengan tatapan tajam nya.


" Ada rahasia besar yang Er simpan rapat-rapat dan hanya dia yang tahu," sahut Al.


.


Didalam toilet.


" Er ... kau bisa menceritakan masalah mu padaku. Aku akan jadi pendengar yang baik untukmu," kata Audie.


" Hmmm ... terimakasih, Audie," sahut Er tersenyum.


" Kau ikut kita liburan ya? Please ..." kata Audie sembari memohon.


Er melihat sifat Audie yang hampir sama dengan sahabat nya Inka. Dan dia merasa nyaman dengan wanita itu.


" Ayolah, Er. Aku akan kewalahan melayani almer jika hanya berlibur berdua dengan nya," kata Audie yang membuat Er menatap heran kearah nya.


Lalu wanita itu mendekat kan mulut nya ke telinga Er.


" Dia hiper ***," bisik Audie yang membuat Er menatap kearah nya.


" Jadi kalian sudah melakukan hal itu?" tanya Er terkejut.


" Ya. Dan untungnya aku kuat melayani nya di ranjang karena aku tak mau jika sampai dia jajan di luar," sahut Audie sambil menata rambut nya di depan cermin.


Er masih terpaku. Entah apa yang dia pikirkan.


" Wait ... Jangan-jangan kau belum melakukan nya?" tanya Audie dan langsung mendapatkan jawaban dari Er yang dengan cepat menggeleng kan kepalanya.


" WHATT!!" sahut Audie terkejut.


" Why?? Kau tak tertarik pada pria?" tanya Audie.


" No. sudahlah jangan bahas hal itu, ayo kita kembali," kata Er dan langsung keluar dari toilet.


Mereka melakukan obrolan mereka di restoran itu. Membahas liburan yang akan mereka lakukan besok.


Er cukup senang berkenalan dengan Audie yang sifatnya sangat menyenangkan. Sama seperti Inka. Dan hal itu membuat dirinya mengingat sahabat sekaligus manager nya itu.


Er mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan singkat pada sahabatnya itu.


" Kau tak merindukan ku?" Tulis Er.


" Tidak. Aku sedang berlibur." Tulis Inka lalu mengirimkan foto liburan nya bersama keluarga nya pada Er.


' Huuuft. Manager ku saja sedang asik berlibur, masak aku kalah dengan asisten ku. Padahal yang seharusnya menikmati liburannya ini kan aku,' batin Er.


" Er ... apa yang kau pikirkan?" kata Audie mengejutkan Er yang tengah melamun.


" Tidak. Aku hanya tak sabar ingin berlibur dengan kalian," sahut Er.


Lalu mereka pun berpisah.


.


Kini Arga dan Er sedang berada di dalam mobil nya. Mereka akan langsung pulang ke mansion Arga yang baru dia beli.


Tak ada obrolan sama sekali dalam mobil itu. Mereka memang seakan menjalani pernikahan toxit.


Er tampak menatap kearah luar jendela dengan berbagai pikiran yang memenuhi otaknya.


Arga pun juga tampak sedang memikirkan sesuatu. Sampai mereka pun tiba di mansion baru yang akan mereka tempati.


Er keluar dan mengedarkan pandangannya ke area mansion itu.


Arga langsung masuk tanpa menggandeng tangan Er seperti tadi.


Er berjalan di belakang Arga dengan tatapan tajamnya menatap punggung Arga yang seakan sudah melupakan istri nya yang sejak tadi dia genggam erat tangan nya.


' Jadi inilah pernikahan ku yang sesungguhnya. Kita hanya akan berpura-pura sebagai pasangan suami istri jika sedang berada di luar,' batin Er.


" Selamat datang, Nyonya," kata beberapa pelayan yang sedang menyambut Er.


Er hanya tersenyum pada para pelayan itu.


" Antar kan dia ke kamarnya!" ucap arga tegas dan langsung menuju ruang kerjanya.


" Mari, Nyonya. Kami antar ke kamar," kata seorang pelayan.


Er langsung mengikuti langkah pelayan itu menuju kamar yang akan di tempati Er di mansion itu.


CEKLEK


Er mengedarkan pandangannya pada kamar yang di tunjuk oleh pelayan. Dia menatap kamar itu dan masuk kedalam nya.


" Saya tinggal dulu, Nyonya. Anda bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu," kata pelayan itu dan langsung pergi dari kamar itu.


Er masih mengedarkan pandangannya di segala sudut kamar itu.


" Ini nyata. Ini sangat persis dengan kamar ku," gumam Er menatap takjub dengan kamar yang memang di dekorasi sangat mirip dengan kamarnya yang ada di pant house nya.


" Kau menyukai nya?" tanya Arga yang kini sudah ada di belakang Er.


Er tak menjawab. Dia hanya menatap tajam pada pria yang berstatus sebagai suaminya.


" Inilah kenyataan dari pernikahan kita. Jalani peran mu dengan baik. Kau masih ingat kan tentang poin pertama perjanjian kita?" kata Arga.


' Dia bilang tadi sangat mencintai ku, bodoh nya aku yang sempat mempercayai kata-kata nya itu,' batin Er.


" Kau akan tidur di kamar ini. Kamar ku di sebelah kamar mu, jika kau membutuhkan kehangatan dari ku," ucap Arga sedikit menggoda Er.


Sementara Er hanya terpaku dengan wajah datar nya.


" Kau mempermainkan sebuah pernikahan, Ar," sahut Er dengan tatapan tajam nya.


" Ini hanya perjanjian di atas kertas, Er. Aku tidak mencintaimu dan kau juga tidak mencintaiku. Kita menikah hanya demi kebahagian keluarga kita," sahut Arga.


" Okey. Aku akan menjalani peran ini dengan sangat baik. Sekarang kau bisa pergi dari kamar ku," kata Er sambil membalikkan badannya membelakangi Arga.


Pria itu hanya tersenyum miring menatap punggung wanita yang kini menjadi istri nya. Lalu pergi dari kamar itu.


" I HATE YOU AR," kata Er dengan nada yang hampir tak terdengar.