Forced Wedding

Forced Wedding
48. Go to Paris



Keesokan harinya.


" Bagaimana Er? apa kau sudah mendapatkan tanda tangan dari suamimu?" tanya Inka.


" Sudah, aku sudah mendapatkan tanda tangannya tapi ada begitu banyak syarat darinya. Dan itu sangat menyebalkan," sahut Erlina.


" Aku tebak, dia pasti tidak mengizinkanmu berpakaian seksi dan berpose seksi di depan fotografer," kata Inka sambil fokus dengan kemudi nya.


" Ya. Kau benar, aku tidak bisa lagi memamerkan tubuh seksiku di depan para pria," sahut Erlina mencebik.


Inka tertawa mendengar perkataan dari Erlina. Mereka dalam perjalanan menuju perusahaan tempat di mana brand itu berada.


Sesampainya di gedung itu. Erlina dan Inka langsung masuk dan berjalan menuju ruangan manager dari perusahaan itu.


Saat masuk ke dalam ruangan itu, Erlina dikejutkan dengan kehadiran sang suami yang sudah berada di ruangan manager itu.


" Halo, Baby. Kau sedikit terlambat," kata Arga menoleh ke arah sang istri.


Erlina langsung menghembuskan nafasnya kasar, dia masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Inka langsung memberikan berkas yang sudah ditandatangani oleh Arga dan Erlina kepada manajer itu.


" Saya sudah menyetujui persyaratan yang tuan Arga ajukan. Nona Erlina tidak akan berpakaian seksi dan berpose seksi dalam pekerjaan ini. Dia hanya akan kita tempatkan di produk make up, tas serta sepatu. Mungkin juga fashion yang tidak terlalu terbuka," kata manajer itu.


" Ya. Semoga kerja sama ini berjalan dengan lancar," kata Inka.


Erlina menatap ke arah sang suami dengan kening yang berkerut.


' Pria ini benar-benar menyebalkan, dia sudah mengatur semua pekerjaanku,' batin Erlina.


Lalu mereka semua berjabat tangan dan keluar dari ruangan itu.


Ketika di dalam lift.


" Kau tidak mau berterima kasih pada suamimu? aku sudah memberi tanda tangan untuk kontrak kerjamu itu, Baby," kata Arga.


" Ya. Terimakasih," sahut Erlina singkat.


Arga tertawa pelan mendengar jawaban singkat dari sang istri.


" Aku akan mengikuti mu ke Paris."


Erlina menoleh pada Arga.


" WHATT !!! kau bercanda, Ar?" tanya Erlina.


" Tidak. Aku tidak sedang bercanda, kita akan melakukan bulan madu kedua kita di Paris. Sembari kau bekerja di sana dan kebetulan aku juga ada urusan di sana. Jadi kita akan berangkat bersama ke Paris."


Erlina memijat keningnya sambil menundukkan kepalanya. Dia terlihat kesal mendengar penjelasan dari sang suami.


' Dia akan menggangu pekerjaan ku,' batin Er.


Ting ...


Lift pun terbuka, Arga mencium kening Erlina dan mengecup bibirnya sekilas. Lalu keluar dari lift.


Erlina menata punggung lebar sang suami, dia begitu kesal Kenapa arga harus ikut ke Paris.


Lalu mereka keluar dari lift dan keluar dari gedung itu. Inka melaju kan mobilnya menuju gedung yang akan menjadi tempat pemotretan Erlina.


.


.


3 hari berlalu.


Erlina sedang menyiapkan koper yang ingin dia bawa ke Paris. Arga keluar dari kamar mandi dengan hanya melilit kan handuk kecil di pinggang nya.


Dia melihat kearah sang istri yang tengah sibuk dengan memasukkan beberapa barang ke dalam koper.


" Jangan membawa terlalu banyak barang. Kita akan membelinya di sana," kata Arga sambil berjalan menuju walkin closet.


Erlina menuruti apa kata suami nya. Dan dengan cepat dia membereskan barang-barang nya.


Arga keluar dari walkin closet dengan mengenakan celana jeans panjang dan kemeja putih nya yang belum terkancing.


Dia sudah tak melihat sang istri disana karena Er sedang ada didalam kamar mandi saat ini.


Mereka mengisi perut nya sebelum berangkat ke Paris. Inka langsung menuju bandara dan tak perlu menghampiri Erlina karena sudah ada Arga yang pasti akan menjaga nya.


Setelah menyelesaikan makan pagi nya. Er dan Arga langsung keluar dari restoran itu. Dan saat keluar dari sana mereka berpapasan dengan Erik.


" Haii ... Er. Lama tak bertemu dengan mu, bagaimana kabar mu?" tanya Erik.


" Aku __"


" Dia baik-baik saja." Arga dengan cepat memotong perkataan Er.


" Sorry. Kita sedang terburu-buru karena ingin berbulan madu ke Paris, bye."


Arga langsung menarik pinggang Er dan berjalan menjauhi Erik.


Erik hanya menatap kepergian pasangan itu. Dia sedikit merasa kesal dengan sikap Arga yang menurut nya sangat sombong karena berhasil menjerat Erlina dalam sebuah pernikahan.


Lalu dia masuk kedalam restoran.


.


.


Kini Er dan Arga sudah ada di bandara. Mereka berjalan menuju tempat dimana Inka sudah menunggu mereka.


" Disini, Er!!" teriak Inka sambil melambaikan tangannya pada Er.


Erlina tersenyum dan langsung berjalan menuju Inka. Lalu mereka semua berjalan menuju tempat dimana pesawat pribadi Arga terparkir.


Mereka pun naik ke pesawat itu. Inka memang sengaja di ajak untuk berangkat bersama ke Paris. Dia sangat senang dengan hal itu karena dia tak perlu mengeluarkan biaya untuk terbang ke Paris.


Inka mengedarkan pandangannya di segala penjuru di pesawat itu. Lalu dia duduk di kursi penumpang bersama Erlina.


Sementara Arga sudah langsung fokus dengan laptopnya.


" Let's go!!" kata Erlina.


" Yeah. Go to the Paris!!" sahut Inka.


" PARIS ... I'M COMIIING." Dua wanita itu bersorak di dalam pesawat dan hal itu membuat Arga menggeleng kan kepalanya.


Pesawat itu akhirnya lepas landas dan terbang ke awan.


Senyum Er dan Inka selalu menghiasi bibirnya. Mereka menikmati perjalanan nya itu sambil menatap kearah luar jendela pesawat.


Datang lah pramugari dengan membawa minuman dan beberapa camilan.


Inka langsung melahap camilan yang terlihat sangat lezat di matanya.


Er ingin mengambil cemilan itu namun dengan cepat Inka mengambil semua camilan itu.


" No. Kau tak boleh makan makanan manis seperti ini, Er. Apa kau mau tubuh mu berlemak setelah tiba di Paris?" kata Inka mengingatkan sahabat nya itu.


" Tapi aku hanya ingin mencobanya, Inka. Ayolah ... itu terlihat sangat lezat," sahut Er sambil memohon.


" Baiklah."


Inka langsung memberikan satu kue kecil itu pada Erlina.


" Hanya segini?" kata Er tak terima.


" Mau apa tidak? jika tak mau sini berikan pada ku," sahut Inka.


" Iya iya. Terimakasih asisten ku yang baik hati ..."


" Nah begitu doong ... kau harus bersyukur karena aku masih memberikan nya pada mu, dari pada tidak sama sekali," sahut Inka sambil sibuk mengunyah.


" Hemm ... Cemilan di pesawat ini sangat enak," kata Inka tanpa henti mengunyah.


Erlina hanya mencebik karena tak bisa iku menikmati camilan itu. Inka sangat menjaga pola makan Erlina hingga wanita itu tak memiliki lemak sedikit pun di tubuhnya.


Hanya otot yang membuat bokong wanita itu terlihat sintal dan dada yang membusung indah di dada nya.


Hal itu menambah kesan seksi di tubuh Erlina.