
3 bulan berlalu.
Erlina tampak memeluk erat tubuh sang Momy yang sebentar lagi akan di boyong oleh suaminya ke Afrika karena di sanalah kerajaan bisnis Berto berdiri.
Sementara keluarga Erkosta langsung kembali ke Paris setelah satu minggu berada di mansion megah Kakek Erlando.
Wanita cantik itu meneteskan air matanya karena dia akan kembali berpisah dari sang Momy setelah melewati 3 bulan kebersamaan nya.
" Aku pasti akan sangat merindukan Momy," kata Er melepaskan pelukannya.
Lintang tersenyum dan mengangkat dagu sang putri lalu dia mengusap air mata yang menetes di pipi Er.
" Kita pasti akan segera bertemu. Momy akan selalu menghubungi mu dan kau harus menjaga calon cucu Momy hingga dia lahir ke dunia," sahut Lintang sambil mengusap perut Er yang sudah membuncit.
Er menganggukkan kepalanya dan dia pun tersenyum pada sang Momy. Lalu Berto menghampiri nya dan menangkup wajah cantik Er.
" Maaf jika Daddy harus memisahkan kalian, tapi Daddy berjanji kapanpun kau ingin kita datang, Daddy pasti akan langsung terbang saat itu juga," kata Berto yang sudah menganggap Er sebagai putri nya sendiri.
" Daddy berjanji?" tanya Erlina.
Berto mengangguk dan tersenyum. Lalu dia langsung mencium kening Erlina.
" Terimakasih. Berjanjilah padaku Daddy akan selalu membahagiakan Momy, jika Daddy menyakiti Momy maka aku sendiri yang akan menjemput Momy ke Afrika dan membawa Mom pergi jauh hingga Daddy tidak akan bisa menemukan keberadaan Mommy," kata Erlina memberikan ultimatum nya.
Semua tampak terkekeh mendengar ancaman itu dari Erlina. Sementara Lintang langsung menyentil kening Er.
" Jaga dirimu baik-baik," kata Berto lalu menatap kearah Arga.
" Jaga istri cerewet mu ini baik-baik, Ar. Karena aku tak mau putri cerewet ku ini menjadi putri pendiam," lanjut Berto.
Semua terkekeh dan Er langsung mencebik.
" Aku akan selalu menjaga nya, Dad." Arga menghampiri sang istri dan merangkul bahunya.
Lalu Lintang dan Berto langsung berangkat ke bandara internasional untuk melakukan penerbangan nya dengan menggunakan jet pribadi milik Berto.
Erlando menghampiri sang cucu dan merangkul nya.
" Setelah ini kau yang akan meninggalkan mansion ini?"
Mendengar suara dari sang kakek, Er lekas menoleh dan melingkar kan tangannya di pinggang Erlando.
" Apa Kakek ingin aku berada disini?" tanya Er.
Erlando melihat kearah wajah cantik sang cucu dan lekas menganggukkan kepalanya.
" Aku ingin kau melahirkan cicit ku di mansion ini, jika kalian tak keberatan," sahut Erlando.
Er tersenyum dan Arga langsung menghampiri kedua nya.
" Jika Er ingi melahirkan di sini, maka aku tidak akan pernah keberatan, Kakek," kata Arga.
Erlina langsung tersenyum sumringah saat mendengar suara dari sang suami.
" Terimakasih," kata Erlando dan memeluk kedua nya.
.
.
Sementara itu. Di Paris.
Inka tampak sudah memuntahkan isi di perut nya hingga dia lemas dan menyandarkan kepalanya di dinding kamar mandi.
Wajah nya memerah dan basah karena habis muntah. Nafasnya pun terdengar cepat dan berat, lalu tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan dia menoleh kearah pintu.
" Beby ... ada apa denganmu? kau sakit?" tanya Daxon saat melihat sang istri duduk di lantai kamar mandi sambil bersandar di dinding kamar mandi.
Inka tak menjawab dan wajahnya semakin pucat. Daxon mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke ranjang.
Lalu dia kembali ke kamar mandi untuk mengambil handuk kec dan membasuh handuk itu dengan air.
Daxon dengan telaten mengusap wajah pucat sang istri dan juga tangannya. Lalu dia mengganti baju Inka karena basah.
Setelah itu dia menciumi seluruh wajah Inka karena dia sangat khawatir dengan keadaan sang istri.
" Kita kerumah sakit, Hmmm?"
Inka hanya menganggukkan kepalanya dan Daxon langsung menggendong tubuh Inka keluar dari kamar.
Sebenarnya Daxon tadi sudah akan berangkat ke perusahaan. Tapi saat dirinya sudah ada di dalam mobil, dia melupakan ponselnya dan langsung naik lagi ke kamar untuk mengambil nya.
Dan dia bersyukur ponselnya tertinggal, kalau tidak, dia tidak akan tahu kondisi sang istri saat ini.
*
Kini Inka dan Daxon sudah ada didalam ruangan dokter. Inka sedang di periksa oleh dokter itu.
" Sepertinya Anda hamil, Nyonya. Aku akan memanggil kan Dokter SpOG untuk memeriksa mu lebih lanjut," kata Dokter itu dan langsung keluar dari ruangan itu.
Inka dan Daxon saling menatap dengan penuh tanda tanya. Dan Inka sangat berharap jika dirinya benar-benar hamil.
.
.
Beberapa menit kemudian.
Dokter sudah memeriksa Inka dengan melakukan USG pada perut Inka.
" Selamat, Nona Inka. Anda hamil dan usia kandungan Anda sudah 8 Minggu," kata dokter itu.
Inka langsung tersenyum bahagia dan Daxon pun mencium wajah sang istri bertubi-tubi.