
Mobil Daxon mengarah ke sebuah resort mewah yang terletak di pinggir pantai. Pria itu menghentikan mobilnya disana dan keluar dari mobilnya.
Tak lama setelah itu mobil Arga tiba disana. Ar dan Er keluar dari mobilnya namun Inka masih tetap di dalam mobil.
Daxon membuka pintu mobil nya dan menyuruh Inka turun namun wanita itu tidak mau.
" Kau mau aku angkat seperti tadi? tapi kali ini aku akan menghempaskan tubuh mu di atas ranjang. Apa kau mau?" kata Daxon dengan nada dingin nya.
Mau tidak mau Inka langsung keluar dari dalam mobil itu. Dia melihat kearah Erlina yang menatap kearah nya.
" Tolong aku, Er. Aku tak mau menikah dengan pria itu," kata Inka memeluk tubuh sahabatnya itu.
Erlina tersenyum miring dan melepaskan pelukan Inka.
" Kau yang bermain api, Inka. Jadi kau sendiri yang harus memadamkan api itu," sahut Erlina.
" Tidak usah meminta bantuan pada siapapun karena tak akan ada yang bisa membatalkan apa yang sudah menjadi keputusan orang tua ku," sahut Daxon.
Lalu mereka duduk di kursi yang ada di pinggiran resort itu yang menghadap ke arah pantai.
" Lalu apa yang harus aku lakukan? apa aku harus menikah dengan pria tengil ini," ucap Inka masih merengek pada Erlina.
" Heiii ... Berhenti merengek. Kau harus nya bersyukur akan menikah dengan pria tampan dan kaya seperti ku," ucap Daxon lalu meminum wine nya.
" Tapi aku tetap tak mau menikah dengan mu!!" tegas Inka.
" Katakan itu pada Momy dan Daddy. Mungkin saja mereka mau mendengarkan rengekan mu itu, tapi jangan libatkan aku!!" tegas Daxon.
Arga dan Er tampak saling menatap dengan bibir yang tersenyum tipis.
" Dari mana kalian bisa kenal? dan bukannya kau akan bertemu dengan seorang pria di pesta itu, Inka?" tanya Erlina.
" Jangan bilang pria yang punya janji dengan mu itu adalah Daxon," lanjut Arga.
Inka dan Daxon saling menatap sejenak.
" Ya. Kita berkenalan lewat aplikasi dating," sahut Inka dan Daxon bersamaan.
Er dan Arga tertawa bersama melihat kekompakan mereka.
" Kalian kompak sekali. Mungkin ini sudah takdir kalian, jalani saja," sahut Erlina.
" No," sahut Inka dan Daxon bersamaan lagi dan mereka saling melempar pandangan tajam.
" Apa tujuanmu berkenalan dengan Inka dan membuat janji dengan nya, Dax?" tanya Arga.
" Aku hanya ingin meminta bantuannya untuk menggagalkan perjodohan ku dengan gadis manja yang bernama Gris. Namun semua nya kacau karena kehadiran orang tuaku. Mereka malah menyuruhku menikah dengan wanita jadi-jadian ini," sahut Daxon menjelaskan.
" Heii ... tenanglah. Kalian hanya tinggal menjalani pernikahan ini dengan baik, oke."
" No. Aku tak mau, Er!!" tegas Inka.
" Lalu apa yang akan kau lakukan, Inka?" tanya Erlina.
" Entahlah. Aku bingung," sahut Inka menyerah.
Lalu Erlina menggenggam tangan Inka.
" Jalani saja, Oke. Kau pasti ingat seperti apa usahaku untuk membatalkan pernikahan ku dulu, kan? kata Erlina.
" Ya. Kau bahkan meminum obat tidur agar bisa menggagalkan pernikahan mu," sahut Inka melihat kearah sahabatnya itu.
" That's right. Dan apa yang terjadi?" sahut Er.
" Pernikahan mu tetap berlangsung meskipun kau sudah berusaha dengan sangat keras untuk menggagalkan nya," sahut Inka.
" Yes. Karena itu sudah takdir," ucap Erlina.
" Tapi ini bukan takdir ku, Er. Pria ini yang sudah menarik ku masuk kedalam masalah yang rumit ini!" tegas Inka.
" Jika ini bukan takdir kalian. Percayalah pasti pernikahan itu tak akan berlangsung," kata Arga.
Inka dan Daxon pun mendengar kan saran dari pasangan itu. Lalu mereka saling menatap.
" Aku akan menyibukkan diri dengan para wanita ku," kata Daxon.
" Terserah kau saja. Karena aku tak perduli!!" tegas Inka.
" Aku akan pulang ke negara ku agar kau dan keluargamu tak bisa menemui ku!!" lanjut Inka.
" Kau pikir keluarga ku tak akan menemui mu? bahkan bisa jadi saat ini Momy sudah menghubungi orang mu," sahut Daxon.
" Itu tidak mungkin!!" sahut Inka dengan lantang.
Drt drt drt
Ponsel Inka berbunyi. Dia langsung mengambil ponselnya dan melihat nama ibu disana.
" Ibu menelpon ku? apa ada masalah? atau adikku sakit lagi?" gumam Inka.
" See ... cepat angkat telpon nya, dan kau akan segera tahu kekuatan keluarga ku," sahut Daxon.
Inka berdiri dan mengangkat teleponnya.