
1 Minggu berlalu.
Kini Daxon dan Inka sudah menempati mansion barunya yang memang sudah di persiapkan oleh Daxon.
Hari ini adalah jadwal Inka untuk melakukan terapi pertama nya. Daxon dengan setia menemani sang istri yang sudah sangat bersemangat untuk bisa berjalan kembali.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dimana Inka melakukan terapinya.
" Kau sudah lama tak ke perusahaan, apa itu tidak akan menjadi masalah untuk mu?" tanya Inka melihat kearah pria yang tengah fokus menyetir.
Daxon tersenyum dan melihat kearah Inka.
" I'm the bos, Beby. Aku bisa menghendel semua pekerjaan ku meskipun aku tak hadir ke perusahaan," sahut Daxon.
" Ah ya. Aku lupa jika kau bosnya," sahut Inka terkekeh. Daxon langsung memfokuskan dirinya pada kemudinya.
Dan tak sampai 20 menit mereka sudah sampai di rumah sakit.
Daxon keluar dari mobil nya dan seperti biasa, dia akan mengambil kan kursi roda Inka terlebih dulu, lalu dia menggendong tubuh Inka dan mendudukkan nya di kursi roda.
" Maaf jika kau selalu kerepotan seperti ini jika sedang bepergian bersama ku," kata Inka.
Daxon menunduk dan mengecup kening Inka.
" Aku sangat suka di repotkan karena imbalan nya sangat luar biasa," sahut Daxon tersenyum miring dan Inka pun tertawa sambil menepuk lengan Daxon.
.
.
Kini Inka dan Daxon sudah ada di ruangan dimana Inka bisa melakukan terapi nya. Wanita itu sedang duduk di kursi roda nya dan seorang dokter sedang memeriksa kondisi kaki nya.
" Apakah masih sakit?" tanya Dokter itu.
" Hmmm ... terkadang masih terasa sakit, Dokter. Apa itu masih wajar?" tanya Inka.
" Ya. Itu masih wajar karena kondisi kakimu dulu lumayan parah. Dan butuh waktu untuk penyembuhan nya. Yang penting kau masih merasa kan sentuhan atau bisa menggerakkan jari jemari di kaki mu," sahut Dokter itu.
" Ya. Aku sering menggelitiki kaki nya, Dokter. Hingga dia tertawa terpingkal-pingkal," sahut Daxon.
Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa.
Karena dia juga ingin melakukan terapi itu di rumah agar wanita itu cepat bisa kembali berjalan.
Sekitar 30 menit terapi itu dilakukan. Kini Daxon sedang menebus obat di apotik sesuai dengan resep yang di berikan oleh Dokter.
Setelah itu mereka keluar dari rumah sakit itu. Kini mereka sedang berada di dalam mobilnya.
Daxon masih tak menyalakan mesin mobilnya karena dia sedang berbicara dengan seseorang dari seberang telepon. Sepertinya mereka sedang membahas tentang pekerjaan.
" Oke, setelah ini aku akan kesana. Siapkan semua berkas nya!" Daxon langsung memutuskan panggilan itu dan meletakkan kembali ponselnya di jok samping.
Dia menoleh kearah sang istri yang sedang menatapnya.
" Ada apa? apa ada masalah dengan pekerjaan mu, Beby?" tanya Inka.
" Tidak. Hanya akan ada meeting penting satu jam lagi di perusahaan. Jadi aku harus segera kesana," sahut Daxon sambil tersenyum pada sang istri.
Dia menyalakan mesin mobilnya dan langsung pergi dari area parkiran rumah sakit.
" Aku akan mengantar mu dulu," kata Daxon.
" Tidak perlu. Kau langsung saja ke perusahaan, aku ingin ikut dengan mu jika kau tak keberatan," sahut Inka.
Daxon melihat kearah sang istri dan tersenyum padanya.
" Aku tidak akan pernah keberatan, Beby. Bahkan aku senang jika kau ikut aku ke perusahaan," sahut Daxon sambil mengusap lembut pipi Inka.
Inka tersenyum dan memegang tangan Daxon yang ada di pipinya.
" Thank you," sahut Inka.
Lalu Daxon langsung fokus dengan kemudi nya menuju ke perusahaan.
Sekitar 15 menit kemudian, mereka sudah sampai di gedung yang menjulang tinggi itu.
Inka menatap kearah bangunan itu dan dia langsung melihat kearah sang suami yang kini sudah siap untuk memindahkan nya ke kursi rodanya.
Daxon mendorong kursi roda itu memasuki area lobby dan pemandangan itu menjadi pusat perhatian dari semua pegawai yang berlalu lalang disana.