Forced Wedding

Forced Wedding
30 ( Er_Ga )



Rini mendekap tubuh Arga dengan Erat. Wanita itu sangat merindukan sosok Arga karena sudah cukup lama mereka tak bertemu.


Arga terpaku dengan pelukan itu. Pria itu merasa bersalah karena tak kunjung bisa membuka hati pada wanita yang sejak dulu menyatakan cinta pada nya.


Lalu matanya menangkap sosok Er yang sudah tersadar serta duduk bersandar di ranjang nya sambil menatap kearah Arga yang sedang di peluk oleh seorang wanita.


Sontak Arga langsung mendorong Rini hingga pelukannya terlepas. Arga berjalan menghampiri sang istri yang masih menatapnya.


" Kau sudah sadar?" tanya Arga duduk di tepi ranjang.


" Ya. Kenapa? kau terlihat kecewa karena aku sudah sadar. Ah ya ... mungkin karena kau tak bisa memeluk dan mencium wanita itu dengan lama, bukan?" sahut Er sinis.


Arga menatap heran pada Er.


" Kau cemburu?" kata Arga dengan nada yang menggoda.


" Cih. Bahkan jika kalian bercinta di hadapan ku sekalian aku tidak akan pernah cemburu," sahut Er sinis.


Namun jauh didalam lubuk hati nya yang terdalam. Erlina mengutuk wanita yang sudah berani mencium dan memeluk Arga yang kini sudah resmi menjadi suami nya.


" Cepat periksa keadaan nya. Lalu setelah itu kau bisa pergi!!" tegas Arga pada Rini.


Dokter itu langsung menghampiri Er yang sedang duduk di ranjang.


" Hai ... perkenalkan namaku __"


" Tidak usah memperkenalkan dirimu pada ku, karena itu tidak penting!" kata Er memotong pembicaraan dokter itu dengan tegas.


" Ah ya. Baiklah, apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Rini sopan.


" Mengantuk, aku tidur secepatnya," kata Er sambil merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang.


" Apa kau tak ingin menceritakan sesuatu? misalkan apa yang sedang mengganggu pikiran mu?" tanya Rini lagi dengan nada nya yang lembut.


" Tidak ada," sahut Er singkat.


" Baiklah. Sepertinya kau memang sudah mengantuk," sahut Rini.


" Ya. Kau bisa langsung pergi karena aku tak akan menceritakan apapun pada siapapun," sahut Er sambil memejamkan matanya.


" Hmmm ... Oke. Tapi apa kau ingat apa yang membuatmu histeris dan sampai tak sadarkan diri barusan?" tanya Rini lagi.


Er membuka matanya dan langsung terduduk. Matanya menatap pada Rini.


" Aku hanya tak siap menjalani malam pertama ku dengan pria brengsek itu!! PUASS??" ucap Er tegas dan sedikit membentak.


" Er ... tak perlu membentaknya!!" tegas Arga.


" Kenapa? kau kesal karena aku membentak wanita mu ini," kata Er sinis.


" Er ... jaga bicaramu!! dia hanya seorang dokter psikolog yang ku panggil kesini karena keadaan mu yang tidak baik-baik saja!!" tegas Arga.


" Aku baik-baik saja. Aku tidak gila sehingga kau memanggil kan ku seorang dokter psikolog kemari!!" sahut Er dengan nada yang berteriak.


" Ohh ... kau memanggil dokter ini agar kau bisa melampiaskan hasrat mu pada dokter ini, kan?? karena aku tidak bisa memuaskan hasrat mu!! begitu??" teriak Er.


Entah kenapa Er sangat emosi saat melihat Arga di cium dan dipeluk oleh wanita itu. Dan Arga tak ada usaha untuk menolaknya, pria itu terlihat menikmati nya.


" ERLINA!!! JANGAN KETERLALUAN!!" bentak Arga yang kini emosinya sudah terpancing.


Sementara Rini hanya sebagai penonton disana. Wanita itu cukup lega melihat Er dan Arga yang tidak akur serta tak saling mencintai.


" Stop!!" tegas Rini menengahi perdebatan itu.


" Er ... Aku kemari hanya untuk memeriksa keadaan mu. Aku minta maaf jika kau melihat aku berpelukan dengan suami mu. Itu hanya pelukan persahabatan, aku mengenal Arga. Dia sahabat ku dulu saat di fakultas. Kami baru bertemu setelah sekian lama tak berjumpa," kata Rini menjelaskan.


" Tak usah repot-repot menjelaskan nya pada ku. Karena aku tidak perduli dengan apa yang kalian perbuat bahkan jika sampai kalian berhubungan, itu akan memudahkan jalan untuk ku agar terbebas dari pria itu," kata Er dengan nada yang dingin.


" Baiklah. Apa ada yang perlu kau konsultasi kan pada ku? sebelum aku pergi dari sini," kata Rini.


" Tidak ada. Aku akan baik-baik saja jika pria itu tak menyentuh dan tak memperlihatkan benda yang menjijikkan itu padaku," sahut Er ketus.


Dokter Rini hanya tersenyum mendengar ucapan dari Er yang seakan memberi peringatan untuk Arga.


Sementara Arga mengumpat kasar dalam hatinya. Pria itu terlihat masih kesal pada Er yang kini sudah menutup tubuhnya dengan selimut.


" Baiklah. Aku pergi dulu. Kau bisa menghubungi ku jika kau membutuhkan pertolongan ku," kata Rini beranjak dari ranjang.


" Aku akan mengantar mu ke depan," kata Arga mengikuti langkah Rini menuju pintu kamar.


" Hmmm. Terserah kau saja," sahut Rini.


Er membuka matanya melihat Arga yang bersikap ramah pada Rini tapi tidak dengan nya.


" Sepertinya wanita itu bisa membantu ku untuk berpisah dari Arga," gumam Er lalu menutup matanya lagi.


.


Arga mengantarkan Rini sampai ke pintu keluar resort.


" Kenapa kau menikahinya, jika kau tak mencintai nya?" tanya Rini.


" Apa sebuah pernikahan harus di dasari dengan cinta?" kata Arga menjawab Rini dengan sebuah pertanyaan.


" Eeemm ... mungkin akan lebih baik jika di dasari dengan cinta. Rumah tangga kalian akan lebih bahagia," kata Rini.


" Aku tidak membutuhkan cinta. Sekarang pergilah!! aku berjanji tidak akan menghubungi mu lagi," kata Arga lalu berbalik kearah pintu utama resort.


" Tapi aku sendiri yang akan mendatangi istri mu. Dia sedang menyembunyikan sesuatu yang berkaitan dengan traumanya," kata Rini sedikit berteriak yang membuat Arga menghentikan langkahnya.


" Maka tangani dia dengan benar dan sampai pulih. Karena aku sudah tak sabar ingin mencicipi tubuh seksi nya," sahut Arga dengan gamblang nya.


Rini mencebik mendengar kan ucapan dari Arga. Dia hanya bisa menatap punggung kokoh Arga dari belakang sampai menghilang di balik pintu.


" Ini kesempatan ku untuk merebut mu, Arga. Kau dulu kekeh tak mau menikah. Dan jika menikah kau hanya boleh menikah dengan ku, bukan dengan yang lain," gumam Rini saat sudah berada didalam mobil nya. Lalu bergegas pergi dari resort itu.


Arga kembali masuk kedalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


Dia menoleh pada wanita yang tidur di samping nya dengan posisi yang membelakangi nya.


' Baiklah. Permainan di mulai,' batin Arga.


Pria itu langsung menutup matanya yang memang sudah berat karena lelah seharian dengan pestanya serta insiden yang terjadi pada Er barusan.


Kini hanya terdengar suara dengkuran dari keduanya. Malam pertama mereka kelabu.


Arga rupanya tak berhasil melakukan malam pertama yang berkesan.


Wanita yang akan dia setubuhi menjerit-jerit histeris bahkan sampai tak sadarkan diri saat melihat miliknya yang menegang.