
Arga mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Erlina yang tampak menggoda di hadapan nya. Matanya saling bertautan dengan deru nafas yang menerpa wajah mereka masing-masing.
Namun saat Arga ingin ******* bibir itu, Er langsung membekap mulutnya sendiri dengan tangan nya. Agar Arga tak bisa menciumnya.
Arga mengerutkan keningnya menatap Er yang menutupi mulutnya sendiri. Dan dia berusaha melepaskan tangan Er yang menutupi bibir itu. Namun Er dengan sekuat tenaga masih bertahan dan tak mau membuka mulutnya.
" Ehem ... ehemm." Suara seseorang berdehem di samping mereka.
Arga menoleh dan langsung melepaskan pelukannya pada sang istri saat melihat wanita cantik dengan perut buncitnya berdiri di hadapannya.
" Anggita ...." Arga langsung memeluk tubuh Gita yang kini sedang hamil besar serta mencium pipi kanan dan kirinya.
" Kau datang sendiri?" tanya Arga melepaskan pelukannya.
" Aku bersama suami ku. Dia sedang berbicara disana dengan temannya," sahut Gita sambil menunjuk kearah sang suami.
" Ah ya. Selamat ya kak. Akhirnya kau menemukan tambatan hati mu," kata Gita memberi selamat.
' Tambatan hati? yang benar saja. Tapi Arga terlihat manis sekali saat dengan wanita itu, apa wanita itu yang menjadi alasan Arga untuk tak menikah?' batin Er.
" Terimakasih. Aku sangat senang kau menyempatkan hadir di acara pernikahan ku ini," sahut Arga.
" Haii ... Aku Anggita. Teman kak Arga saat berada di kampus, dia adalah senior ku dulu," kata Gita mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri pada Er yang masih terpaku tanpa kata di sebelah Arga.
" Haii ... Aku Erlina. Senang bertemu dengan mu, Anggita," sahut Er menjabat tangan Gita.
" Ah ya. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian bahagia dan cepat di karuniai momongan," kata Gita mendoakan yang terbaik untuk pernikahan itu.
' Momongan?' batin Arga tersenyum getir. Lalu melihat kearah perut Gita yang terlihat besar karena sedang hamil.
" Hallo ... apa aku terlambat? Selamat untuk mu, Arga. Akhirnya kau menemukan pawang mu dan aku sudah tak perlu khawatir lagi karena kau sudah ada yang mengawasi dan tak bisa mendekati istri ku lagi," kata Dimas dengan enteng nya sambil mengulurkan tangannya.
Arga hanya tersenyum miring sambil menjabat tangan Dimas.
" Thanks. Kau tak perlu menghawatirkan itu lagi karena aku sudah memiliki istri yang sangat aku cintai disisi ku," kata Arga lalu merengkuh pinggang ramping Er.
Er mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari Arga sambil menatap nya.
CUP
Arga langsung mengecup bibir Er di hadapan Gita dan Dimas. Lalu tersenyum mengejek pada Er yang menatapnya.
' Dia mengambil kesempatan dalam kesempatan. Ooohh ingin sekali aku menonjok wajah tengilnya itu,' batin Er kesal.
" Sandiwara sudah di mulai, sayang," bisik Arga di telinga Er.
' Ya tuhan, berikan aku kekuatan agar aku bisa melemparkan pria ini ke laut,' batin Er sambil tersenyum manis pada Arga.
" Ayo kita mengobrol disana. Kasian Gita pasti capek jika lama-lama berdiri dengan perut besarnya itu," kata Er melepaskan tangan Arga yang melingkar di pinggang nya.
Lalu menggandeng tangan Gita menuju kursi yang telah di sediakan.
" Duduklah," kata Er memundurkan kursi untuk Gita.
" Terimakasih, Er. Kau baik sekali," kata Gita tersenyum.
Lalu Er duduk di sebelah kursi Gita.
" Ah ya. Sudah berapa bulan kandungan mu itu, Gita?" tanya Er memulai percakapan.
" Aku ingin secepatnya hamil," kata Er yang membuat Arga langsung menoleh kearah nya.
" Tapi aku takut untuk melakukan hal itu," lanjut Er.
Gita dan Dimas tertawa mendengar perkataan Er.
" Kau akan langsung ketagihan nanti setelah tahu rasanya, Er," sahut Dimas sambil tertawa.
" Arga ... Kau harus melakukan nya dengan sangat sangat perlahan. Agar Er tidak takut dan merasa nyaman dengan percintaan perdana kalian nanti," sahut Gita sambil tertawa memberi nasehat pada sang pengantin Pria.
' Kenapa pembicaraan ini malah menjurus pada hal yang menjijikkan itu,' batin Er sambil berekspresi sedang jijik. Dan hal itu terlihat oleh Arga.
Lalu dia tersadar saat Gita menggenggam tangan nya.
" Relaks, Er. Kau hanya perlu relaks dan menikmati permainan itu. Aku yakin kau pasti akan selalu meminta hal itu jika sudah merasakan nya," kata Gita.
" Apakah harus ada adegan itu dalam sebuah pernikahan?" tanya Er.
Dimas dan Gita langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Erlina.
" Come on, Er. Ini hal yang sangat wajar karena kita memang membutuhkan hal itu," kata Dimas.
" Tapi aku tidak siap untuk melakukan hal itu," sahut Er.
" Kau akan menyukai nya, percayalah," kata Gita.
" Huuffft ..." Er menghembuskan nafasnya kasar dan entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
Sementara Arga, pria itu tampak berpikir keras sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
' Apakah hal itu yang sangat di takut kan oleh Er? sampai dia tak mau menika,' batin Arga.
Lalu mereka melanjutkan sesi mengobrol itu.
.
.
" Aku harus menyusun rencana untuk menteror kehidupan gadis itu. Tapi apa?" gumam Airin.
" Sudah lah, Mom. Jangan mengganggu hidup mereka lagi, atau mungkin Momy ingin masuk kedalam jeruji besi lagi?" kata Erik, putra semata wayang Airin.
" Sepertinya aku harus muncul di hadapan nya," kata Airin.
" Mom ... untuk apa? Sudahi dendam itu, Mom. Momy harus menjalani kehidupan normal Momy setelah keluar dari penjara. Bukannya malah meneruskan dendam konyol itu," kata Erik yang tak mau melihat sang Momy melakukan kejahatan lagi.
Setelah bertahun-tahun dia terpisah dari sang Momy. Karena Airin di penjara.
" Kau mengenalnya, Erik? kau terlihat ingin melindungi wanita itu," sahut Airin sinis.
" Ya. Aku mengenal nya. Bahkan aku mencintai nya," sahut Erik sendu. Lalu pergi dari ruangan itu.
Airin tersenyum licik mendengar hal itu.
" Sepertinya aku memiliki rencana yang sangat bagus," gumam Airin lalu tertawa sepuasnya di ruangan itu.