Forced Wedding

Forced Wedding
S2 Inka - Daxon 14



Daxon menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia bergegas membuka pintu mobil dan keluar dari mobil nya.


Pria itu berlari menuju mobil Inka yang sudah ringsek parah dan tak berbentuk. Daxon mencoba membuka pintu mobil itu karena ada asap yang keluar dari kap mobil nya.


Beberapa orang datang membantu nya. Mereka membuka paksa salah satu pintu mobil.


Dan akhirnya pintu yang ada di samping Inka terbuka. Daxon langsung membuka sitbelt yang masih melekat di tubuh Inka dan membawa tubuh Inka keluar dari mobil.


" TOLONG PANGGILKAN AMBULANCE!!" teriak Daxon.


Salah satu pria paruh baya yang menolongnya pun langsung menghubungi ambulan.


" Inka, bangunlah Inka!! Buka matamu!!"


Daxon terus mengguncang tubuh Inka tapi wanita itu tetap tak sadarkan diri.


Pria itu meneteskan air matanya saat melihat kondisi wanita yang baru tadi siang bertunangan dengan nya itu sudah terlihat sangat parah.


Bahkan darah keluar dari kepalanya. Dia memeluk tubuh tak berdaya itu. Membawa nya kedalam dekapannya dan mencium puncak kepalanya.


' Aku akan menghukum diriku sendiri jika ada sesuatu yang terjadi pada mu,' batin Daxon terpukul.


" I'm sorry ... I'm sorry Inka I'm sorry."


Hanya kata-kata maaf yang keluar dari mulut Daxon sambil mendekap tubuh Inka.


Hingga akhirnya ambulance pun tiba. Daxon langsung menggendong tubuh Inka kedalam ambulance.


Pria itu ikut naik kedalam ambulance karena dia ingin menemani wanita itu dan meninggalkan mobilnya di sana.


" Bertahanlah, Inka."


Pria itu menggenggam tangan Inka dan mencium punggung tangannya.


.


.


Kini Daxon sedang menunggu di luar ruangan IGD. Inka langsung di tangani oleh dokter, dan Daxon belum mengabarkan hal ini pada keluarga nya.


Pria itu terlihat gelisah, dia mondar-mandir di depan ruangan IGD. Hingga salah satu anak buahnya pun mendatangi nya.


" Tuan!"


Daxon menoleh dan melihat Kiki.


" Bagaimana?" tanya Daxon.


" Supir truk itu sudah dibawa oleh polisi, Tuan."


" BUKAN ITU YANG INGIN AKU DENGAR!" bentak Daxon.


" Itu _"


" Cepat katakan!" tegas Daxon memotong perkataan Kiki.


Kiki menelan saliva nya dengan susah payah karena melihat raut wajah bosnya yang terlihat sangat frustasi dengan apa yang terjadi pada Inka dan juga masalah nya dengan wanita yang mengaku hamil anaknya.


" Sudah aku duga!"


Raut wajah Daxon berubah menjadi sangat menyeramkan. Tatapan matanya yang menyalang marah dan rahangnya mengeras.


Lalu Kiki memberikan ponselnya pada Daxon dan memutar rekaman video dari ponsel nya yang sudah berhasil dia rekam.


Daxon memfokuskan pandangan nya kearah benda pipih itu. Keningnya berkerut dan ada seringai licik disana.


" Bagus. Simpan ini sebagai bukti dan besok kau harus mengurus ini ke kantor polisi. Tapi sebelum itu, kau harus menyekap nya karena aku butuh pengakuan nya," kata Daxon dengan nada dingin nya.


" Baik, Bos! Lalu apa ada lagi yang harus aku bantu?" tanya Kiki.


" Tidak. Untuk hari ini sudah cukup. Dan besok kau harus berhasil menyekapnya sebelum membawanya ke kantor polisi," sahut Daxon.


" Baik, Bos! kalau begitu, saya permisi!"


" Hmmm."


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia mengambil benda canggih itu di saku celananya dan melihat nama sang Daddy disana.


" Daddy ..."


Pria itu tampak berpikir sebelum menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya.


Dia menghela nafas panjang nya dan langsung menggeser tombol hijau hingga panggilan itu pun lekas tersambung.


" Hallo, Dad!"


" Hallo, Dax. Kau dimana? apa kau bersama Inka?" tanya Kenta khawatir.


Daxon tak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak apa dia harus mengatakan keadaan Inka pada orang tuanya atau tidak.


" Hallo. Kau mendengar Daddy?" tanya Kenta lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang putra.


" Ya, Dad. Aku bersama Inka," sahut Daxon.


" Huuffft ... syukurlah. Kita sangat khawatir karena tak melihat Inka di kamar nya. Cepat pulang karena ini sudah sangat larut," sahut Kenta merasa lega karena ternyata calon menantunya sedang bersama sang putra.


" Tidak bisa, Dad. Aku sedang ada di rumah sakit. Inka mengalami kecelakaan."


" WHAT!!! BAGAIMANA BISA? kata Kinos terkejut.


Daxon menghela nafasnya dan memijat keningnya.


" Cerita nya panjang, Dad. Aku __"


Daxon tak meneruskan ucapannya saat mendengar pintu ruangan IGD terbuka.


CEKLEK


Pintu ruangan IGD terbuka dan seorang dokter muncul dari dalam ruangan itu.


" Dad ... Nanti akan aku hubungi lagi."


Daxon langsung memutuskan panggilan telepon nya dan bergegas menghampiri dokter itu.