Forced Wedding

Forced Wedding
S2 Inka - Daxon 47



~Kesedihan inka~


Er dan Arga tampak sedang menunggu Inka dan Daxon di cafe yang ada disebelah rumah sakit. Mereka memesan makanan ringan dan juga minuman karena Er yang tak bisa berhenti mengunyah.


Arga tersenyum sambil mengusap perut rata Er saat wanita itu masih asik dengan makanan nya.


" Thank you, Beby."


Arga mencium kening Er dan wanita itu tersenyum pada Arga.


" Aku bahagia. Disaat semua kontrak kerja ku sudah selesai, tuhan langsung menghadirkan malaikat kecil di dalam rahim ku," kata Er sambil mengunyah.


Arga tertawa kecil dan merangkul bahu sang istri.


" Tapi ... apa kau tak masalah jika badan ku membengkak? melebar dan berlemak?" tanya Er yang semakin membuat Arga tertawa.


" Seperti apapun bentuk tubuh mu, aku akan selalu mencintaimu, Honey."


Er tersenyum dan mengecup bibir Arga meskipun cafe itu dalam keadaan ramai.


" Ooouwwhh ... so sweet. Thank you, Beby," kata Er dan kembali fokus dengan camilan nya.


Tampak inka dan Daxon muncul dari pintu cafe. Mereka berjalan dengan wajah yang tertekuk ke meja Ar dan Er.


Arga yang menyadari kehadiran mereka langsung tersenyum pada sahabatnya itu.


" Kalian sudah selesai? bagaimana hasilnya?" tanya Arga.


Er mendongakkan kepalanya dan melihat kearah Inka dan Daxon yang berwajah sendu.


" Ada apa? apa ada sesuatu? kalian terlihat sedang tidak baik-baik saja," kata Er yang menyadari raut sedih di wajah Inka.


Wanita itu duduk di kursi yang ada di sebelah Er. Dan Er langsung merangkul bahu Inka, lalu Inka menangis di bahu Er.


" Oh my. Ada apa ini? kalian membuat ku khawatir," kata Er semakin memeluk erat sahabat nya itu.


Daxon tampak terdiam dan hanya mengusap punggung Inka. Arga menatap kearah Daxon seolah sedang menunggu penjelasan dari sahabat nya itu.


Inka hanya menangis di pelukan Er dan tak bisa berkata-kata karena dia memang shock dengan apa yang menimpa nya.


" Dax ... apa kau hanya akan diam saja?" kata Er geram.


Daxon menghela nafasnya dan dia mulai membuka suara nya.


Arga dan Er tampak terkejut mendengar hal itu. Er semakin memeluk Inka agar wanita itu menjadi lebih tenang.


" Lalu bagaimana kata dokter? pasti ada cara untuk mengangkat kista itu, kan?" tanya Arga.


" Dokter menyarankan untuk segera melakukan operasi karena kista itu tumbuh di jalan rahim. Dan ukuran nya yang cukup besar," sahut Daxon.


" Oh my God. Separah itu?" kata Er yang tampak shock dengan apa yang terjadi pada Inka.


" Lalu? kapan operasi nya akan dilakukan?" tanya Arga.


" Mungkin lusa. Dokter masih mengurus semua nya, dan aku meminta pada dokter agar mempercepat jadwal operasi nya karena jika terlalu lama itu bisa memicu kanker," kata Daxon.


Ar dan Er menghela nafasnya. Inka hanya menangis karena dia sangat takut untuk di operasi.


" Tenanglah. Semua akan baik-baik saja, oke!" kata Er mengusap punggung Inka.


Inka hanya menganggukkan kepalanya dan masih memeluk Er. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian dia sudah merasa tenang dan melepaskan pelukannya.


Er mengambil tisu dan menghapus air mata Inka yang membasahi pipinya.


" Lihat, kau semakin jelek jika sedang menangis," kata Er sambil mengusap wajah Inka.


Inka tertawa pelan sambil memukul lengan Erlina.


" Oh my. Kau juga membuat bajuku basah, Inka!! menyebalkan!"


Semua tampak tertawa mendengar ocehan Erlina. Er tampak mengambil tisu dan mengusap bajunya yang basah karena air mata Inka.


Inka terkekeh dan kembali memeluk sahabatnya itu.


" Sorry ... aku tidak akan melakukan nya lagi," sahut Inka.


Er tampak tersenyum dan merangkul bahu Inka.


" Ya. Jika kau melakukan nya lagi, aku akan meminta ganti rugi pada suami mu karena istri nya sudah membuat baju mahal ku basah," kata Er dan Inka hanya tertawa.


Er cukup lega karena kini Inka sudah terlihat baik-baik saja dan tertawa.


Lalu mereka langsung memesan makanan dan makan siang bersama di cafe itu.