
Ting ... Nong ...
Bel apartemen nya berbunyi, Er langsung membuka pintunya.
" Hai girl ... terimakasih sudah tak mengganggu waktu istirahat ku kemaren," kata Inka masuk kedalam apartemen Er.
" Ya ampun, apa terjadi gempa disini? Apartemen mu berantakan sekali, Er."
Inka terkejut melihat apartemen Er yang sangat berantakan dengan pakaian yang berceceran di lantai.
" Ck, jangan bawel. Ayo kita langsung berangkat," kata Er berjalan keluar dari apartemen nya.
" Ck CK CK, gadis ini benar-benar," gumam Inka sambil menggelengkan kepalanya.
Lalu berjalan mengikuti Er di belakangnya.
.
Kini Er dan Inka berada di dalam mobil, Inka melihat aneh pada Er yang hari ini kebanyakan melamun.
" Er, are you oke?" tanya Inka sambil fokus mengemudi.
" No," jawab Er lirih, sambil memijat keningnya.
" Apa kau ada masalah?" tanya Inka lagi.
" Ya, masalah yang sangat besar, sampai kepalaku merasa akan pecah," sahut Er.
" Ceritakan padaku, apa masalahmu itu. Mungkin aku bisa membantumu, Er?" kata Inka.
" Nanti saja, aku sedang tidak ingin membicarakan hal ini," sahut Er.
" Baiklah, tapi kau harus berjanji akan menceritakan masalah mu ini padaku."
Er hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
.
.
Di tempat lain, Arga memantau semua gerak gerik Erlina dengan menyuruh anak buahnya untuk mengikuti semua kegiatan Er.
" Kau tidak akan bisa lepas dari kendali ku, Er," gumam Arga sambil menatap layar ponselnya yang sudah tersambung dengan alat pelacak yang sudah dia pasang kemarin.
" Arga ...." Seseorang memanggil nya dan pria itu menoleh.
" Ya, Mom?"
" Kau tidak ke kantor hari ini?" tanya Tita menghampiri putranya.
" Nanti Mom, nanti siang aku ada meeting di cafe dekat sini. Jadi aku akan ke kantor setelah meeting," jawab Arga.
" Ar ... ada yang ingin Momy tanyakan padamu," kata Tita duduk di sebelah Arga.
" Ya, katakan Mom." Dengan tatapan Arga yang fokus dengan laptopnya.
" Apa kau serius menyetujui perjodohan ini, Ar?" tanya Tita dengan hati-hati.
" Ya, Mom. Aku serius," sahut Arga tanpa melihat kearah Tita.
" Syukurlah, ini sebuah pernikahan, Ar. Kau tak bisa mempermainkan sebuah pernikahan yang suci."
Arga menghentikan kegiatannya dan menatap pada sang Momy.
" Ya, Mom. Aku tahu itu," sahut Arga.
" Momy tahu, Er belum menyetujui pernikahan ini karena yang lintang katakan padaku, Er sangat anti pada sebuah pernikahan. Bahkan dia pernah berdalih bahwa dia tidak akan pernah menikah sampai akhir hayat nya."
" Benarkah? apa Momy tahu apa alasannya tak ingin menikah?" tanya Arga.
" Momy tidak tahu, Ar. Aunty lintang pun tidak tahu apa alasannya. Jadi inilah tugas mu, Ar," kata Tita sambil menggenggam tangan Arga.
" Momy harap kau bisa mencari tahu, apa alasan Er, kenapa dia sangat kekeh tidak ingin menikah," kata Tita dengan penuh harap pada Arga, agar mau menyelidiki hal ini.
" Aku akan menyelidiki hal ini, Mom. Jadi serahkan ini padaku," jawab Arga sambil menggenggam tangan sang Momy.
Tita tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
.
.
" Bagaimana, Lintang? apa kau sudah meminta bantuan Tita tentang masalah Erlina?" tanya Erlando.
" Ya, Ayah. Tita bilang ... Arga akan menyelidiki hal ini," sahut Lintang.
" Bagus, aku percaya pada Arga."
Leni datang dengan para pelayan yang membawa kan minuman serta cemilan untuk di hidangkan di taman belakang.
" Ya, aku yakin. kita pasti akan tahu rahasia apa yang selama ini Erlina sembunyikan dari kita." Erlan mengambil kopi yang sudah di hidangkan oleh pelayan.
" Aku yakin, itu pasti ada hubungannya dengan kejadian di malam itu," sahut Lintang mengingat kejadian tak terduga di dalam rumah nya.
" Aku hanya khawatir dengan keadaan mental Erlin. Kenapa dia sangat kekeh tidak mau menikah," sahut Leni sambil menyeruput teh leci nya.
.
Sementara di tempat lain, tepatnya di studio photo tempat pemotretan Erlina berlangsung.
Er, berpose dengan pakaian yang terlihat sangat seksi, wanita itu dengan percaya dirinya terus berpose di depan kamera.
" Kerja bagus, Er!!" kata salah satu photography memuji kelihaian Er di depan kamera.
Semua tampak bertepuk tangan atas kerja sama yang berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
" Er ...." Panggil seseorang.
" Erik ... kau disini?" sahut Erlin menoleh.
" Ya, Ini salah satu studio photo milikku." Erik menghampiri Erlina.
Pria itu memandangi penampilan Er dari atas hingga ujung kakinya, dia seakan tersihir oleh pesona Erlina yang sangat cantik dan seksi.
" Wow, your so beautiful and sexy." Puji Erik sambil tersenyum smirk.
" Thanks, It's me," sahut Er narsis.
Erik tertawa mendengar kenarsisan Erlina sambil menganggukkan kepalanya.
" Aku ganti baju dulu."
Er langsung pergi dari hadapan Erik dan masuk ke ruang ganti.
Arga terus memantau kegiatan Erlina lewat informannya.
" Siapa pria itu, sepertinya dia semakin intens mendekati Erlina."
Arga menatap setiap gambar yang dikirimkan oleh anak buahnya.
" Aku harus segera tahu apa tujuan pria itu mendekati Erlina," gumam Arga lalu beranjak dari kursinya.
.
Kini Erlina sedang makan siang bersama Erik dan juga Inka. Mereka terlihat bersenda gurau dan terlihat sangat akrab.
" Kau tahu, Erik. Er adalah salah satu model yang tak tersentuh. Dia akan menolak setiap pria yang mendekatinya, tapi dengan mu, dia terlihat bukan Erlina yang ku kenal," kata Inka sambil tertawa.
" Benarkah? Jadi, aku salah satu pria yang beruntung bisa berteman dengan mu, Er?" kata Erik.
" Ck, bukan begitu. Aku hanya butuh teman pria untuk menemani kegabutan ku saja."
" Jadi kau hanya menganggap ku sebagai pelampiasan kegabutan mu saja?" tanya Erik.
" Maybe," sahut Er sambil tertawa.
" Dan jika kau sampai menggunakan perasaan mu dalam pertemanan ini, Kau harus siap untuk di pecat dari daftar pertemanan Erlina," sahut Inka.
Erik tertawa pelan, pria itu memang menaruh hati untuk Erlina. Tapi untuk saat ini dia lebih memilih jadi seorang teman untuk Erlina.
Dari kejauhan, tepatnya di meja yang berada di pojok cafe itu, Arga menatap tajam kearah Erlina yang terlihat sedang berbincang akrab dengan seorang pria.
' Lagi - lagi pria itu mendekati Erlina,' batin Arga.
" Terimakasih untuk waktunya, Tuan Arga." kata salah satu rekan bisnisnya.
" Ya, semoga kerja sama ini berjalan dengan lancar," sahut Arga menyalami para rekan bisnisnya.
Lalu mereka pergi meninggalkan Arga berdua dengan asistennya.
Arga melangkah kan kakinya menghampiri meja Erlina dengan ekspresi datar nya.
" Ehem ... ehemm, Hallo ... Sayang." Arga berdehem dan langsung mengecup puncak kepala Erlina.
Erlina terkejut dengan kedatangan Arga sambil mendongakkan kepalanya menatap heran pada Arga.
"Sedang apa kau disini, Ar? apa kau mengawasi ku?" kata Er ketus sambil mengedarkan pandangannya ke semua penjuru di cafe itu.
Cup
Arga langsung mencium pipi Erlina di hadapan Erik dan Inka.
Mereka tampak terkejut mendapati seorang pria mencium Erlina dan Erlina hanya diam saja.
Er menatap tajam pada Arga. Lalu Arga mendekatkan wajahnya pada wajah Er dan berkata.
" Kau calon istri ku, sayang. Jadi aku pasti tahu dimana pun kau berada."
" WHAT ... CALON ISTRI??" kata Erik dan Inka bersamaan.