
Arga menggandeng tangan Er keluar dari kamar hotelnya. Dia terus menggandeng tangan wanita itu sampai masuk kedalam lift.
Ketika di dalam lift. Er menghempas kan tangan Arga, namun lagi-lagi pria itu menggenggam tangan Er dengan lebih erat.
Er menatap tajam pria tengil yang ada di hadapannya. Sedangkan Arga tampak menghindari tatapan dari Er dengan selalu mengalihkan pandangannya.
Ting ...
Suara pintu lift terbuka. Arga langsung menarik tangan Er keluar dari lift dan melewati lobby.
Dia terus menggandeng tangan Er menuju mobilnya dan Er tak bisa melepaskan tangan nya yang terus di genggam erat oleh Arga.
Arga membuka kan pintu mobilnya dan Er masuk kedalam nya. Lalu Arga masuk kedalam mobilnya dan duduk di kursi kemudi nya.
Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan area hotel itu.
Tak ada obrolan sama sekali di dalam mobil itu. Mereka sama-sama enggan untuk memulai pembicaraan.
Hingga tak terasa mereka sudah sampai di sebuah restoran yang jaraknya tak terlalu jauh dari hotel.
Er keluar dari mobil dan tanpa menunggu Arga keluar dari mobilnya. Wanita itu langsung masuk kedalam restoran saat Arga baru keluar dari mobilnya.
BRAKK
Tanpa di sengaja, Er menabrak seseorang yang baru keluar dari restoran itu.
" Sorry ... Aku benar-benar tak melihat mu, Nona," kata seorang pria.
" Erik?" kata Er.
" Erlina ... Sorry. Aku benar-benar tak melihat mu," sahut Erik.
" Ya. Tak masalah."
Tiba-tiba Arga menarik tangan Er dengan kasar dan membawanya masuk kedalam restoran.
" Heeeii, Tuan!! bisakah kau tak menarik tangan nya dengan kasar!! dia bukan hewan yang bisa kau tarik-tarik seperti itu!!" teriak Erik.
Arga menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Erik. Pria itu menoleh dengan tatapan tajam nya.
" Dia benar. Kau menarik ku seolah aku ini hewan peliharaan mu," kata Er menatap tajam pria yang tengah menggandeng tangan nya.
Lalu Arga melepaskan tangan Er dan mendudukkan wanita itu di kursi yang sudah di pesannya.
Matanya masih tertuju pada sosok Erik yang masih berdiri menatap nya. Karena Erik tak kunjung pergi dari tempat nya, membuat Arga geram dan beranjak dari kursinya.
Namun dengan cepat Er menahan tangan Arga.
" Aku akan pergi dengan nya jika kau membuat keributan disini," ancam Er.
Arga pun langsung duduk kembali ke kursinya setelah mendapatkan peringatan dari Er.
Entah kenapa dia seakan tak mau jika Er pergi ataupun berhubungan dengan pria lain.
Lalu mereka pun memakan makanan yang sudah di hidangkan di meja nya. Karena Arga sudah memesankan terlebih dahulu.
Mereka menikmati makanan nya tanpa ada pembicaraan di sela-sela makan pagi nya.
Sesekali Er menatap wajah tampan Arga yang tengah fokus dengan makanannya.
Begitu pun sebaliknya. Pria itu tampak menatap wajah Er yang tengah menikmati makanan penutup nya.
Fokus nya terpecah saat Er menyendok kan puding ke mulut nya dan ada cream coklat yang mengenai bibir nya.
Mata mereka bertumpu saat Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Er.
Dengan gerakan lambat Arga menyesap bibir Er yang terdapat cream coklat disana.
" Hmmm ... Manis," ucap Arga setelah menyapu bibir Er yang terkena coklat dengan bibirnya.
Er tampak mematung dan mencoba mencerna apa yang barusan di lakukan oleh pria itu.
Sementara Arga. Dia mengusap lembut bibir Er yang basah akibat ulahnya barusan.
Lalu Er tersadar dari lamunan nya dan langsung menghempaskan tangan Arga dari bibirnya.
Arga tertawa kecil. Dan melanjutkan makannya.
" Arga ..." panggil seseorang.
Arga menoleh dan langsung bangkit saat melihat teman nya yang tengah berjalan kearah nya.
Mereka berjabat tangan dan saling memeluk satu sama lain.
Sementara Er tak menggubris dua pria itu dan tetap fokus dengan makanannya.
" It's oke. Kau cukup memberiku hadiah paket bulan madu. Karena aku ingin bulan madu dengan istri ku," sahut Arga.
Pria itu tertawa mendengar perkataan Arga. Lalu matanya menangkap sosok wanita yang tengah menikmati makanan nya.
" Kenalkan. Dia istri ku, Erlina," kata Arga memperkenalkan istri nya pada pria itu sambil menarik tangan Er agar bangkit dari kursinya.
" Erlina Lorenza," kata pria itu setelah melihat wanita cantik yang tengah di rangkul oleh Arga.
Er mengangkat wajahnya dan menatap pria yang menyebutkan namanya.
Wanita itu menatap sambil mengerutkan keningnya seolah sedang mengingat wajah pria itu.
" Kau ... Almer Livingston?" sahut Er.
Pria itu tertawa dan mengulurkan tangannya pada Er.
" Ternyata kau masih mengingat ku," kata Almer
" Ohh ... Mana mungkin aku melupakanmu," sahut Er langsung memeluk pria tampan itu.
Arga menatap heran pada dua insan itu yang ternyata saling mengenal. Dia langsung menarik bahu Er agar terlepas dari pelukan itu.
" She's my wife!!" tegas Arga sambil merangkul pinggang Er.
Al tertawa melihat ke posesifan Arga. Seakan dia sedang terancam atas kehadiran Almer.
" Tidak usah memperjelas nya, Ar. Aku sangat tahu dia istri mu," sahut Al santai.
" Duduklah, Al. Jangan hiraukan pria menyebalkan itu," kata Er menarik tangan Al untuk duduk namun lagi-lagi Arga menepis tangan Al yang di genggam oleh Er.
" Wohoo ... Kau seperti terancam dengan kehadiran ku, Ar. Tenanglah aku sudah bertunangan," kata Al sambil memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
" Syukurlah," sahut Arga singkat.
Er menatap heran pada Arga yang bersikap aneh. Lalu dia melihat cincin yang melingkar di jari manis Al.
" Apa kau benar sudah bertunangan?" tanya Er penasaran.
" Ya. Kau tak percaya?" sahut Al.
Er tak menjawab. Dia hanya mengangkat kedua bahunya.
" Honey ..." panggil Al pada wanita cantik yang sedang berjalan kearah nya.
" Hallo ...," sapa wanita itu dengan senyum ramahnya.
" Kenalkan. Dia Audie Greyson, tunangan ku," kata Al memperkenalkan wanita cantik itu pada Er dan juga Arga.
Lalu mereka pun berkenalan.
" Kami baru kemarin bertunangan. Maka dari itu aku tak bisa hadir di acara pernikahan kalia," ucap Al menjelaskan.
" Emmm ... begitu kah? Selamat atas pertunangan kalian," sahut Arga tersenyum lega.
" Jadi kalian pengantin baru?" tanya Audie.
" Ya. Dan kami ingin meminta paket bulan madu pada tunangan mu. Kau sudah berjanji padaku, Al," kata Arga.
Almer tertawa keras mendengar ucapan Arga. Pria itu ternyata masih mengingat taruhan yang dulu pernah mereka sepakati.
Siapa yang menikah terlebih dulu maka dia akan menerima paket bulan madu dari nya.
Dan ternyata Arga yang berhasil menikah terlebih dahulu.
" Kau masih mengingat taruhan itu," kata Al masih dengan tawanya.
" Ya. Kau kalah cepat dengan ku," sahut Arga sambil merangkul bahu sang istri.
Namun Er menepis tangan Arga yang ada di bahunya.
Al dan Audie melihat hal itu dan mereka saling menatap.
" Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Audie.
" Kita selalu bertengkar dimana pun kita berada," sahut Er.
Sementara Arga hanya menanggapinya dengan tertawa.
" Kalian tak saling mencintai?" tanya Audie lagi.
" Tidak." " Ya." sahut mereka bersamaan.
Dan itu membuat Audie dan Almer saling menatap.
" Aku menjebak nya dalam pernikahan ini karena aku sangat mencintai nya," sahut Arga sambil menatap mata Er yang tengah menatap tajam pada nya.