
Ting Nong ...
Bel pintu apartemen berbunyi. Er langsung bangkit dari sofa dan membuka pintunya.
" Haaii ... Nyonya Mahardika yang terhormat," kata Inka dengan suara cempreng nya.
" Iiishhh ... ayo cepat masuk."
Mereka langsung masuk dan duduk di sofa yang ada di hadapan Tv raksasa yang ada di apartemen itu.
" Kau membawakan semua yang ku minta?" tanya Erlina sambil melihat beberapa bungkus barang yang di bawa oleh Inka.
" Ya. Kau selalu membuatku repot," omel Inka sambil meletakkan semua pesanan Erlina di karpet.
" Dimana pil yang aku minta?" tanya Er.
" Eeemm ... dimana ya?" kata Inka sambil mencari pil yang di minta oleh Er.
" Jangan bilang kau lupa untuk membelinya," kata Er curiga.
" Tidak. Aku sudah membelinya kok."
Inka terus mencari pil itu, sementara Er membawa beberapa belanjaan itu ke dapur dan menatanya di dalam kulkas.
" Ahhaa ... Ini dia!!" terima Inka saat menemukan pil kontrasepsi yang Er minta.
Erlina memutuskan untuk menunda kehamilan nya. Karena ada pekerjaan penting yang tak membolehkan nya hamil untuk beberapa bulan sampai kontrak itu selesai.
Erlina melihat kearah Inka dan mengangkat jempolnya.
" Apa suami mu tidak akan marah, jika kau menunda kehamilan?" tanya Inka.
" Entahlah. Aku belum mengatakan hal itu," sahut Er sambil membawa jus buah yang tadi di buatnya dan meletakkan di meja depan sofa.
" Aku tebak kau juga belum mengatakan tentang kontrak kerja mu di Paris!"
" Ya ... Tapi Arga sudah berjanji akan mengabulkan semua keinginan ku. Dan aku yakin dia juga pasti akan menandatangani surat kontrak itu," sahut Erlina sambil meminum jus nya.
" Ohhoo ... jangan terlalu yakin, Nyonya! bagaimana kalau dia tak mau menandatangani surat itu?" tanya Inka sambil memakan cemilan yang ada di hadapannya.
" Aku tidak akan memberikan jatah ranjangnya. Dan dia akan tersiksa karena aku akan selalu menggoda nya dengan tubuhku yang sudah jadi candunya, lihat saja nanti. Dia pasti akan menandatangani surat itu," ucap Er.
Inka menutup mulutnya sendiri mendengar ancaman Erlina.
" Kau seperti wanita penggoda saja, Er."
Mereka pun tertawa bersama.
" Jadi kau sudah memberikan keperawanan mu pada Arga?" tanya Inka yang membuat Er langsung tersedak dengan pertanyaan nya.
" Iyalah ... dia suamiku jadi dia berhak mendapatkan nya," sahut Erlina.
" Cheiyeee ... yang sudah punya suami. Gak ingat apa? dulu sampek frustasi karena tak mau menikah. Giliran sekarang, dengan bangganya kau bilang, dia suamiku ... CK," kata Inka mengoceh.
" Itu karena aku belum tahu bagaimana nikmatnya bercinta, kau tak akan mengerti karena kau tak pernah merasakan nya," sahut Erlina mengejek Inka yang masih betah menjomblo hingga kini.
" Iiishhh ... Aku hanya belum menemukan pria yang cocok aja. Lihat saja nanti setelah kita ke Paris, aku akan menggaet pria tampan disana," kata Inka dengan percaya dirinya.
" Iiyeuuuhh ... dasar centil."
" Ah ya. Bawa ibu dan adik-adik mu tinggal di apartemen ku, Inka. Aku memberikan apartemen ku padamu."
" Benarkah?" sahut Inka terkejut.
" Ya. Suami ku sangat kaya raya, jadi aku hanya ingin apartemen ku itu bermanfaat bagi orang tak mampu seperti mu," kata Er dengan gaya sok sombong nya.
Hal itu membuat Inka meledakkan tawanya.
" Aku jijik melihat mu seperti itu, Er," kata Inka dengan tawanya.
Er pun ikut tertawa. Karena dia sendiri pun jijik dengan apa yang dia lakukan barusan.
Mereka menghabiskan waktunya di apartemen dengan berbincang ringan sambil bersenda gurau.
Dan tak terasa sudah menunjukkan jam makan siang. Akhirnya Er menyuruh Inka untuk menemani nya makan siang di apartemen.
Karena dia mendapatkan pesan dari Arga yang tak bisa pulang cepat karena banyak pekerjaan di perusahaan yang harus dia selesaikan.
Setelah menyelesaikan makan siangnya. Inka pamit pulang. Dia menyerahkan map yang berisi surat perjanjian kontrak kerjanya. Lalu dia pun pergi dari apartemen Erlina.
.
.
Er merebahkan tubuhnya di ranjang. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
" Hallo Mom."
" Hallo, sayang. Aku dengar kau sudah pulang? kau ada dimana sekarang?" tanya Lintang.
" Aku di apartemen Arga, Mom. Ada apa?" sahut Er sambil memejamkan matanya.
" Kenapa kau tak tinggal di mansion nya saja?" tanya Lintang.
" Aku lebih nyaman di apartemen, Mom. Karena disini kita bisa bercinta sepuasnya di mana pun tanpa khawatir pelayan melihat kita," sahut Er dengan gamblang nya.
" Iiiiishh ... kau ini."
" Moomm ... aku punya satu permintaan," kata Er.
" Katakan," sahut Lintang.
" Carilah seorang pria paruh baya yang tampan, Mom. Menikahlah, karena aku tahu Momy sangat kesepian," kata Erlina.
" Iiiiishh ... kenapa kau jadi tengil setelah menikah, Er? apa kau tak ingat saat kau menolak untuk menikah?" ejek lintang sambil tertawa kecil.
" Moom ... itu karena aku belum merasakan nikmatnya bercinta. Bahkan aku menyesal kenapa aku tak menikah sejak dulu," sahut Erlina yang di sambut tawa oleh lintang dari seberang sana.
" Itu karena tuhan sudah menakdirkan kau untuk menikah dengan Arga, Er," kata lintang.
" Pikirkan tentang permintaan ku, Mom. Aku ingin melihat Momy bahagia dan tak merasa kesepian," kata Erlina serius.
" Aku sudah bahagia melihat mu bahagia," sahut lintang.
" Tapi aku tidak bahagia sebelum aku melihat Momy menikah," sahut Erlina.
" Iiish ... aku tak tertarik lagi dengan sebuah pernikahan, Er."
" Tidak semua pria seperti daddy, Mom. Itu yang Arga katakan padaku."
Lintang memikirkan ucapan dari putri nya.
" Baiklah. Aku akan menjadi janda penggoda mulai hari ini," sahut lintang.
" Tidak seperti itu juga, Mooom!!" teriak Er sambil mencebik.
Lintang langsung tertawa mendengar ucapan Erlina.
" Bukan kah itu yang kamu mau, Er?"
" No. Aku yang akan mencari kan jodoh untuk Momy. Aku akan mencari pria paruh baya yang masih tampan dan bugar, serta kaya raya, agar Momy berhenti bekerja," ucap Erlina yang lagi-lagi membuat lintang tertawa.
" Waaah ... ternyata efek dari Arga telah merubah pandangan mu, Er. Otak mu sedikit gesrek, mungkin karena kau terlalu banyak bercinta," ucap lintang yang membuat Er tertawa.
Baru kali ini Er dan lintang berbicara lama di telepon. Biasanya Er yang selalu memutuskan panggilan secara sepihak karena mendengar celotehan dari Momynya.
Hari ini, mereka berbincang akrab seperti sedang berbicara dengan seorang sahabat.
Tanpa Lintang sadari, inilah yang sebenarnya Er ingin kan dari sebuah hubungan Momy dan anak.
" Baiklah. Nanti Mommy akan menghubungi mu lagi, bye sayang."
" Bye Mom. Love you," sahut Er.
" Love you to, Honey."
Lintang menatap ponselnya yang sudah terputus. Bibirnya tersenyum karena obrolannya dengan sang putri yang tak seperti biasanya.
" Maaf jika sejak dulu Momy bersikap menyebalkan dan tak menyenangkan pada mu, sayang."
Lintang meletakkan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya.