Forced Wedding

Forced Wedding
18 ( Pesta pertunangan )



Di sebuah resort mewah milik keluarga Lorenza. Banyak bunga-bunga berwarna putih yang menghiasi halaman resort, lengkap dengan altar kecil yang sudah di dekorasi dengan bunga-bunga dan bertuliskan Happy Engagement Erlina dan Arga.


Semua tamu tampak sudah mulai berdatangan ke pesta pertunangan yang cukup sederhana dari kalangan konglomerat.


Er tampak sedang di rias didalam kamar yang ada di resort itu, dengan di temani oleh Inka dan juga Stela, adik dari Arga.


Er memutar tubuhnya di depan cermin, dia melihat pantulan dirinya di depan cermin dengan ekspresi yang tak bisa di tebak.


" Wah ... Kak Er cantik sekali," kata Stela memuji kecantikan Erlina.


" Hmmm ... Terimakasih," sahut Er duduk kembali di kursi nya.


" Er ... aku tak menyangka kau akan bertunangan," kata Inka merapikan rambut Er.


Er tak menjawab, dia hanya diam seakan sedang memikirkan sesuatu.


' Aku ingin lari dari kenyataan ini,' batin Er.


Stela melihat wajah Er yang tampak murung, lalu dia menghampiri nya.


" Apa kakak tak bahagia bertunangan dengan kak Arga?" tanya Stela berlutut di hadapan Er.


Er tersenyum, lalu menarik tangan Stela agar berdiri dan mendudukkan nya di samping Er.


" Emmm ... aku bahagia," Jawa Er berbohong.


" Tapi kakak terlihat tidak senang dengan pertunangan ini, apa kakak hanya terpaksa bertunangan dengan kak Arga?" tanya Stela lagi.


Er melihat kearah Stela, dia menangkup pipi gadis yang masih berumur 15 tahun itu.


" Lihat ... Kakak sudah tersenyum," kata Er memperlihatkan senyum cantiknya pada Stela.


" Kau terlihat sangat cantik bila tersenyum seperti ini, Kak. Dan kau harus tersenyum seperti ini bila sudah ada di altar nanti," kata Stela dengan polosnya.


Er dan Inka tertawa pelan mendengar ucapan dari gadis itu.


" Baiklah," sahut Er sambil mencubit gemas hidung mancung Stela.


CEKLEK


Terdengar pintu kamar di buka, Tampak seorang pelayan masuk kedalam kamar itu dan berkata.


" Nona, acara sudah di mulai."


Lalu Er keluar dengan di dampingi oleh Inka dan juga Stela.


Semua tatapan tertuju pada Er, saat wanita itu memasuki area pesta yang berada di halaman resort.


Dia berjalan dengan senyum cantiknya yang tadi di perlihatkan pada Stela dengan di gandeng oleh Stela dan juga Inka.


Arga tampak terpaku melihat kecantikan Erlina, dia tak menyangka dia akan bertunangan dengan gadis kecil yang dulu sering merepotkan nya.


Dan terlebih lagi, gadis kecil itu kini sudah menjelma menjadi wanita cantik bak putri di negeri dongeng.


Er kini sudah berada di atas altar kecil yang lebih mirip dengan pelaminan, saking mewah dekorasi nya.


Dan kini sudah waktunya untuk acara tukar cincin.


Arga menatap lekat manik mata Er yang terlihat sangat indah. Dia memegang tangan Er, lalu memakaikan cincin di jari manis wanita itu. Setelah itu dia mencium punggung tangannya dengan tetap memandangi wajah cantik Erlina.


Er sempat salah tingkah mendapatkan tatapan dari seorang Arga, dan dia tak berani menatap mata pria itu.


Lalu Er memakai kan cincin pada jari manis Arga. Semua orang bertepuk tangan meriah melihat pertunangan dua sejoli yang terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.


Tapi nyatanya, mereka hanya terpaksa dan tidak ada cinta sama sekali yang dalam hati mereka masing-masing.


Lalu Erlando, kakek dari Erlina mengumumkan acara pernikahan yang akan di selenggarakan minggu depan, di Hotel berbintang milik keluarga Mahardika.


" What ... Minggu depan?" pekik Er terkejut.


Lalu Er menatap tajam kearah Arga yang terlihat tersenyum penuh arti.


" Pasti ini semua rencana mu, kan?" tanya Er.


Arga hanya menaikkan bahunya dan pergi meninggalkan Er.


Er tampak sangat kesal, ingin sekali dia melempar sendal ke wajah menyebalkan Arga yang ada di depannya.


Lalu tampaklah teman-teman model Er datang dan memberi selamat pada Er atas pertunangan nya ini.


.


.


Mereka mengadakan acar barbeque di halaman belakang resort itu. Dan makan malam bersama sambil mendiskusikan tentang acara pesta pernikahan yang akan di laksanakan minggu depan.


Er duduk sambil menopang dagunya melihat kearah keluarga yang terlihat begitu bahagia dengan pertunangan ini.


' Setidaknya aku membuat keluarga ku bahagia dengan pertunangan ini,' batin Er sambil tersenyum.


" Kakak ... Ayo menari," kata Stela menarik tangan Er untuk bergabung dengan anggota keluarga yang lain.


Mereka semua menari dengan gembira riya dengan alunan musik yang di stel begitu keras.


Er menari mengangkat kedua tangannya sambil melompat-lompat. Tiba-tiba kakinya keseleo dan dia hampir terjatuh.


Namun dengan cepat Arga menangkap tubu Er, mereka berpandangan lama. Saling menatap satu sama lain dan mengingat masa kecilnya yang sering kali bersama.


" Ehem ... Ehem," Stela berdehem melihat Er dan Arga yang saling bertatapan.


Lalu Arga melepaskan tangan nya yang melingkar di pinggang Er.


Er berdiri dan akan berjalan namun tiba-tiba dia merasakan sakit di pergelangan kaki nya.


" Aaww ...," pekik Er.


Arga langsung berlutut dan memeriksa kaki Erlina. Wanita itu menundukkan kepalanya melihat sikap manis Arga.


'Stop Er, jangan gunakan perasaan mu karena samua lelaki itu sama saja,' batin Er.


" Sepertinya kakimu terkilir, apa kau masih bisa jalan?" kata Arga mendongakkan kepalanya melihat kearah Er.


" Bisa," kata Er singkat.


Er mencoba untuk berjalan namun lagi-lagi dia kesakitan dan hampir saja terjatuh jika Arga tak menangkapnya.


Lalu tanpa basa-basi Arga langsung menggendong tubuh Er ala bridal maid.


" Lepaskan aku, Ar!!" teriak Er berontak dalam gendongan Arga.


" Kau tidak bisa berjalan dengan benar, Nona. Jadi diamlah!!" bentak Arga.


Er langsung terdiam mendengar bentakan dari Arga. Dia menatap lekat wajah tampan Arga yang berada sangat dekat dengan wajahnya.


Tiba-tiba dadanya bergemuruh, ' Ck, jangan sampai pria menyebalkan ini mendengar debaran di dadaku,' batin Er.


Lalu Arga mendudukkan Er di kursi malas yang ada di teras belakang resort itu.


Arga masuk kedalam resort dan keluar dengan membawa sebuah botol minyak zaitun.


Lalu Arga duduk di tepi kursi panjang itu dan mengangkat kaki Er lalu meletakkan di pahanya.


Pria itu dengan sangat telaten memijat kaki sang tunangan. Sementara itu Er memperhatikan Arga, bahkan senyumnya tersungging melihat perhatian Arga padanya.


' Tidak tidak, Er fokus. Jangan sampai kau menggunakan perasaan mu,' batin Er sambil menggelengkan kepalanya pelan.


" Aaaww ...," pekik Er tiba-tiba, karena Arga menarik pergelangan kaki Er hingga berbunyi.


KRETEKK


" Apakah masih sakit? coba kau berdiri," kata Arga menurunkan kaki Er.


Lalu Erlina mencoba berdiri dan perlahan melangkahkan kakinya.


" Wah ... sekarang sudah tak sesakit tadi. Kau berbakat menjadi tukan pijat, Ar," kata Er duduk lagi di kursi itu.


" Apa kau bilang?" kata Arga menatap tajam Er.


" Eemm ... tidak. Aku hanya bilang kau pandai memijat. Terimakasih, Ar," kata Erlina sambil melihat kearah kakinya.


" Ini tidak gratis," kata Arga bangkit dari kursinya.


" Tenang saja, Ar. Aku pasti akan membayar mu mahal untuk ini," kata Er dengan entengnya.


" Tapi aku tidak membutuhkan uang mu," sahut Arga.


" Ya ... kau tinggal bilang mau apa? aku akan membelikan nya," jawab Er lagi.


" Tapi aku tidak butuh apapun," sahut Arga berdiri di hadapan Er.


" Lalu kau mau apa dariku, Arga!!" kata Er dengan nada yang sedikit berteriak.


Arga menghampiri Er dan menyentuh bibirnya, lalu berkata.


" Aku ingin ini."