
Satu minggu berlalu.
Kondisi Inka semakin membaik, bahkan pagi ini wanita itu sudah di perbolehkan untuk pulang.
Namun dia tetap memiliki jadwal rutin untuk penyembuhan pada kaki nya. Dia harus menjalani terapi agar bisa kembali berjalan.
Daxon masih setia di samping nya. Bahkan pria itu sama sekali tak meninggalkan wanita nya meski sedetikpun.
Pria itu juga membawa pekerjaan nya ke rumah sakit karena dia sangat enggan untuk meninggalkan wanitanya.
Meskipun Inka sudah beberapa kali mengatakan pada nya bahwa dia sudah baik-baik saja. Tapi itu tak bisa merubah keputusan mutlak yang sudah di putuskan oleh Daxon.
Bagaimana dengan hubungan mereka?
jawabannya adalah mereka semakin dekat dan Daxon semakin posesif dengan wanita nya itu.
Bahkan dia juga menjaga waktu istirahat Inka di rumah sakit. Dia bahkan pernah mengusir Erlina dan Arga saat berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Inka karena sudah waktunya Inka beristirahat.
Er dan Arga sempat kesal dengan sikap Arga. Namun setelah itu mereka tersenyum bahagia karena itu artinya Daxon sangat mencintai Inka dan sangat menjaga nya.
Bagaimana dengan pekerjaan Erlina dan Inka? Kini Erlina sudah mendapatkan pengganti Inka atas saran dari sang suami.
Arga juga memutuskan setelah kontrak kerja Erlina berakhir, dia sudah tak memperbolehkan wanita nya itu untuk bekerja.
Pada awalnya Erlina menolak karena dia memang sangat suka bekerja. Bukan karena uang tapi untuk mengisi hari-hari nya agar memiliki kegiatan.
Lalu Arga menawarkan Erlina untuk memberikan nya sebuah butik agar wanita itu memiliki kegiatan.
Dan akhirnya Erlina menyetujui nya. Dia memutuskan untuk berhenti dari dunia modelling yang sudah membesar kan namanya.
Dan beralih ke bisnis fashion yang sangat dia kuasai. Pasangan suami istri itu juga memutuskan untuk menetap di Paris karena Arga juga memiliki perusahaan disana.
Inka sangat senang mendengar keputusan Erlina. Karena itu artinya dia akan tetap bertemu dengan Erlina.
.
' Ruangan Inka, pagi hari. '
" Kau sudah siap?" tanya Daxon saat masuk kedalam ruangan Inka dan melihat wanita nya sudah mengganti baju pasien dengan dress yang sudah di bawakan oleh Erlina tadi malam.
Wanita itu tersenyum dan mengulurkan satu tangan nya pada pria itu. Daxon tersenyum dan menghampiri wanita nya yang sudah ada di dekat ranjang.
Pria itu membungkuk dan Inka langsung mengalungkan tangannya di leher kokoh Daxon. Hingga pria itu mulai mengangkat nya dari kursi roda dan menurunkan nya di ranjang.
" Terimakasih," ucap Inka tersenyum.
Cup
" Jangan terus mengucapkan kata-kata itu, karena aku sudah bosan mendengar nya," sahut Daxon setelah mencium kening Inka.
" Apa kau sudah siap untuk ku repotkan setiap harinya?" tanya Inka sambil menyandarkan tubuhnya di bantal yang sudah di siapkan oleh Daxon.
Pria itu terkekeh. Dia mengacak rambut Inka dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang itu.
" Kapan pun kau akan merepotkan ku, aku siap melayani mu, Tuan putri."
Inka terkekeh dan memegang tangan Daxon.
" Terimakasih," ucap Inka tersenyum.
" Bukan kah aku sudah bilang tadi?"
Inka merasa gugup karena posisi wajah mereka sangat dekat bahkan sudah tak berjarak lagi.
" Eeem ... Aku__"
Ucapan Inka terpotong saat Daxon langsung menggigit kecil bibirnya.
Dan tiba-tiba ada suara deheman seseorang.
" Ehhemm!!"
Daxon melepaskan bibir Inka dan menoleh pada asal suara.
" Silahkan masuk, Dokter!"
Dokter itu pun langsung masuk kedalam ruangan Inka bersama satu perawat saat mendengar perkataan Daxon.
" Sepertinya kalian sudah tak sabar ingin pulang," ucap dokter itu tersenyum.
" Ya. Cepat periksa keadaan nya, Dokter. Karena aku ingin segera membawa nya pulang dari sini lalu menerkam nya," sahut Daxon yang berhasil membuat pipi Inka semakin merona.
Wanita itu memukul lengan Daxon karena dia merasa malu dengan situasi ini.
Lalu dokter pun langsung memeriksa kondisi Inka.
" Kau sudah sangat sehat, Nona Inka. Aku kau selalu rutin melakukan terapi mu nanti," ucap Dokter itu.
" Baik, Dokter. Aku sudah sangat tidak sabar ingin segera kembali berjalan," ucap Inka tanpa rasa sedih sedikitpun.
Inka sempat putus asa karena dia membutuhkan waktu yang lama untuk penyembuhan di kakinya itu.
Tapi dia langsung menepis perasaan nya itu dan bersyukur karena dia masih bisa berjalan dan tidak sampai lumpuh.
Setelah pemeriksaan itu selesai. Inka dan Daxon langsung bersiap untuk keluar dari rumah sakit itu.
" Aku merindukan suasana di luar sana," kata Inka dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Daxon tersenyum dan terus berjalan sambil mendorong kursi roda Inka.
" Dan aku tidak sabar ingin menunjukkan sesuatu padamu, Beby."
Inka menoleh dan mendongakkan kepalanya.
" Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Inka.
Daxon menunduk dan menyentuhkan hidung nya ke hidung Inka.
" Itu rahasia!!!"
Inka mencebik dan Daxon langsung mencubit gemas hidung nya.