Forced Wedding

Forced Wedding
S2 Inka - Daxon 28



Rinda dan Lintang sedang berjalan menuju kursi tempat dimana mereka akan menyantap makanannya.


Lalu mereka mendengar ada yang memanggil nama nya. Dua wanita paruh baya yang masih cantik itu sama-sama menoleh.


" Kemarilah!!" teriak Siena sambil melambaikan tangannya.


" Ayo," ajak Rinda dan Lintang pun mengiyakan ajakan dari Rinda.


Kini mereka beralih berjalan kearah kursi panjang yang di tempati oleh Siena


" Ada apa, Siena? kita sedang ingin makan," ucap Lintang yang kini sudah berdiri di samping kursi panjang itu.


" Bergabunglah disini. Aku ingin memperkenalkan Adik ku pada kalian," sahut Siena.


Rinda dan Lintang tampak saling menatap. Dan mereka memutuskan untuk bergabung karena melihat Siena sedang duduk sendiri disana.


" Hmmm ... Baiklah."


Lintang dan Rinda langsung duduk di kursi panjang yang ada di hadapan Siena.


" Dimana Mas Kenta?" tanya Rinda sambil menyantap makanannya.


" Disana. Dia sedang menerima telepon penting dari asistennya," sahut Siena sambil menunjuk kearah sang suami yang berdiri tak jauh dari sana.


" Lalu dimana adik mu?" tanya Lintang yang juga menyantap makanannya.


" Dia sedang ke toilet," sahut Siena.


" Aku ingin memperkenalkan Adik ku pada kalian, mungkin salah satu kalian akan cocok dengan Adik ku," lanjut Siena.


Kedua wanita itu langsung tersedak. Siena dengan cepat memberikan minuman pada dua teman wanita nya itu.


" Are you Kidding?" ucap Lintang.


" Maaf, Nyonya Siena yang terhormat. Aku tidak tertarik dengan obrolan ini. Permisi!"


Rinda langsung beranjak dan pergi dari sana sambil membawa makanan nya.


Hingga membuat Siena dan Lintang sama-sama terkekeh.


" Ada apa dengan nya?" tanya Lintang.


" Entahlah. Mungkin dia tak ingin ku kenal kan dengan adikku," sahut Siena sambil menghendikkan bahunya.


" Jadi kau serius untuk mengenal Adik mu itu?" tanya Lintang masih menikmati makanan nya.


" Ya. Dia sudah lama menduda dan dia tinggal jauh dari ku. Jadi aku ingin mencari kan jodoh untuk nya agar aku lebih tenang karena setidaknya sudah ada seorang istri yang akan menjaga dan menemani nya," ucap Siena.


Lintang hanya mendengar kan sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali tanpa rasa penasaran sedikit pun pada sosok Adik dari Siena.


" Kak ..."


Siena mendongakkan kepalanya pada Berto yang kini muncul dari belakang Lintang.


" Duduklah, Berto. Aku ingin mengenal kan mu pada teman ku," kata Siena hingga membuat Lintang tersedak saat meminum air nya.


Berto mengerutkan keningnya saat melihat wajah Lintang dari samping.


" Bukankah kau wanita yang tadi?" tanya Berto yang kini mendudukkan bokong nya di sebelah Lintang.


Wanita itu menoleh dan menatap wajah pria paruh baya yang masih tampan itu.


" Ah kau yang tadi menabrak ku?" sahut Lintang mengingat wajah Berto.


" Kenalkan namaku Berto."


Pria itu langsung mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh Lintang.


Jauh di arah belakang mereka. Erlina menatap dengan ekspresi wajah senang nya. Karena apa yang dia tuju kini sudah tercapai tanpa dia harus menyusun rencana terlebih dahulu.


" Mungkin ini sudah takdir dari tuhan," gumam nya.


.


.


Sementara itu, sang pengantin baru tengah sibuk memanggang. Daxon masih setia menemani Inka dan melayani wanita itu.


Hingga akhirnya mereka selesai memanggang beberapa sosis, daging dan juga jagung yang di inginkan oleh Inka.


" Huuffft ... Akhirnya selesai juga," gumam Daxon.


" Maaf jika aku merepotkan mu," ucap Inka tak. enak hati.


" It's oke, Beby. Aku senang bisa melayani tuan putri ku," sahut Daxon.


Inka tersenyum dan Daxon langsung mengecup bibir nya sekilas.


" Aku ingin sekali memakan mu," bisik Daxon yang masih berada tepat di hadapan wajah Inka.


Wanita itu langsung memalingkan wajahnya karena dia merasa kedua pipinya tampak memanas dan juga merah. Hingga membuat Daxon tertawa melihatnya.


" Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar," ajak Inka.


Wanita itu membawa satu piring besar itu dan meletakkan di pangkuan nya.


" Kita makan di dalam kamar saja, kau butuh istirahat dan anginnya pun sudah mulai kencang," kata Daxon sambil mendorong kursi roda Inka menuju pintu masuk Villa itu dan ada di bagian belakang.


" Mom!!! Aku akan membawa Inka masuk karena dia butuh istirahat," teriak Daxon saat melihat Siena yang tengah menatapnya.


" Ya. Dan biarkan dia beristirahat, Dax! jangan mengganggu nya!!" sahut Siena tegas.


" Baiklah - baiklah," sahut Daxon pasrah.


Inka hanya terkekeh saat Siena memperingati Daxon untuk tak mengganggu nya dulu.


Dan dia paham dengan hal itu.


.


.


Kini Daxon dan Inka sudah ada di dalam kamar yang ada di lantai bawah. Kamar itu sudah di hias dengan beberapa bunga layaknya kamar pengantin baru.


" Siapa yang menghias kamar ini?" tanya Inka sambil mengedarkan pandangannya di kamar itu.


" Pelayan, aku yang menyuruh nya."


Daxon berhenti tepat di samping ranjang.


Dia berjalan dan duduk di ranjang yang tepat ada di hadapan Inka.


Pria itu memang tangan Inka dan mencium punggung tangannya.


" Aku tidak akan memaksa mu, dan aku tak akan melakukannya malam ini," kata Daxon lirih.


Inka masih setia menatapnya.


" Kau masih belum cukup pulih untuk ku hajar beberapa ronde, jadi aku memutuskan untuk menunggu mu pulih," lanjut Daxon.


Inka tersenyum dan dia mengulurkan kedua tangannya pada pria itu.


" Terimakasih atas segalanya. Kau mau mengerti aku, dan aku berjanji akan segera pulih agar aku bisa melayani mu beberapa ronde," kata Inka saat Daxon memeluknya.