
" WHATT!!! Dari mana ibu tahu?" teriak Inka terkejut.
Semua tampak melihat kearah nya yang tengah mendengarkan pembicaraan seseorang dari seberang telepon.
" Iya, Mom. bye."
Panggilan pun terputus. Inka berbalik dan duduk kembali ke kursinya dengan wajah yang terlihat menekuk.
Semua tampak saling menatap dengan penuh tanda tanya. Daxon hanya mengangkat kedua bahunya tanda dia tak tahu menahu.
Lalu Er memegang bahu Inka.
" Ada apa? katakan pada kami. Apa adik mu sakit lagi?" tanya Er dengan hati-hati.
Inka menggelengkan kepalanya. Dia mengangkat wajahnya yang tertunduk dan melihat kearah Er.
Tiba-tiba air matanya menetes dan Er langsung memeluk sahabatnya itu.
" Cerita pada ku. Ada apa?" tanya Er sambil mengusap punggung Inka.
" Ibu ku sudah tahu tentang rencana pernikahan itu, Er. Mereka sudah menghubungi ibuku dan langsung meminta persetujuan dari ibu," kata Inka dengan Isak tangisnya.
Er masih tetap memeluk nya. Er dan Arga menatap kearah Daxon.
" See ... perkataan ku benar. Momy dan daddy sudah bertindak. Dan bisa jadi ibunya akan di jemput sebentar lagi," sahut Daxon yang sudah sangat tahu sifat kedua orang tuanya.
Inka melepaskan pelukan Er dan mengusap air matanya.
" Bisakah kau membatalkan semua ini? aku akan mengatakan segalanya bahwa kita hanya bersandiwara," kata Inka.
" Kau pikir Mom and Dad ku akan percaya begitu saja?" sahut Daxon.
" Bukankah orang tua mu mempunyai kekuasaan? aku yakin mereka sudah tahu kalau kita sedang bersandiwara," sahut Inka.
" Ya. Itu pasti, tapi satu yang mereka tangkap. Aku berani mengenalkan seorang wanita pada mereka dan mengatakan ingin menikahinya. Itulah yang mereka pegang dari perkataan ku," kata Daxon sambil menyalakan cerutu nya.
Inka menghela nafas panjang. Pikirannya benar-benar buntu dan sudah penuh dengan masalah pernikahan ini.
Lalu dia melihat kearah Erlina.
" Sekarang aku tahu bagaimana perasaan mu waktu itu," kata Inka yang membuat Er dan Ar tertawa.
" Memang apa yang kau rasakan waktu itu, Beby?" tanya Arga pada Er.
" Aku merasa stres memikir kan bagaimana caranya agar bisa membatalkan pernikahan itu," sahut Erlina sambil tertawa.
" WHATT!!! Jadi kalian juga sama dengan ku? nikah karena terpaksa?" tanya Daxon terkejut.
" Ya. Tapi bedanya kita sudah kenal sejak kecil dan orang tua kita menjodohkan kita," sahut Arga.
" Dan sekarang kau tampak sangat bucin dengan istri mu itu," sahut Daxon.
" Ya. Karena ternyata aku sudah mencintai nya, apa lagi setelah kita bercinta."
Inka langsung menatap tajam kearah Daxon yang tengah tertawa.
" Iiiiishh ... amit amit."
Inka mengetuk tangan dan kepala nya secara bergantian.
Sementara Daxon hanya tersenyum miring sambil menghisap cerutu nya.
" Serahkan ini pada takdir. Jika dia memang takdir mu ya sudah, di terima saja," kata Erlina.
" Tidak. Aku tidak mau," sahut Inka kekeh.
" Jalani saja, Inka. Siapa tahu dia bisa taubat dan tak lagi meniduri setiap wanita yang dia temui," sahut Arga sambil tertawa.
Daxon melempar kan puntung rokok yang sudah mati pada Arga.
" Kau malah membuat ku terlihat sangat buruk di depan calon istri ku," celetuk Daxon.
" Aku bukan calon istri mu!!" tegas Inka.
" Kau calon istri ku sejak kau menyetujui sandiwara kita tadi," sahut Daxon.
Inka tampak hanya membuang muka dari Daxon. Dia sangat malas berbicara dengan pria yang akan menjadi suami nya itu.
Mereka melanjutkan obrolan mereka sampai larut malam. Dan mereka memutuskan untuk menginap di resort itu yang ternyata adalah milik Daxon.
.
.
Drt drt drt
Ponsel Inka kembali berbunyi saat dirinya tengah tertidur pulas. Dia mengambil ponselnya dan melihat nama ibunya disana.
" Ya ibu," kata Inka dengan suara seraknya.
" Ibu sudah di jemput oleh keluarga calon suami mu. Dan sekarang ibu sedang dalam perjalanan menuju bandara."
" WHAT!!!" Inka terkejut sampai terduduk.
" Ya. Kau tahu, calon mertua mu itu sangat kaya. Dan ibu di jemput oleh mobil mewah gratis, dan pesawat nya pun gratis tanpa biaya sepeserpun," kata Rinda, ibu Inka.
" Bu ... apa yang sudah mereka katakan pada mu?" tanya Inka kepo.
" Mereka mengatakan akan melakukan pertunangan mu dan anaknya yang bernama Daxon. Dan Minggu depan pernikahan nya."
" WHAT!!! MINGGU DEPAN?" teriak Inka kembali terkejut.
" Bisakah kau tak berteriak, Inka?" sahut Rinda.
" Apa ibu mengatakan sudah merestui hubungan ini pada mereka?" tanya Inka.
" Ya iyalah. Ini kesempatan emas, Inka. Kau di lamar oleh orang kaya dan mertua mu sangat baik dan dermawan. Lalu apa alasan ibu untuk tak merestui pernikahan itu," kata Rinda senang.
Inka tampak menepuk keningnya sendiri. Dia sudah mengira ini yang akan di putus kan oleh ibunya tanpa mengenal pria nya terlebih dahulu.