Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
Extra Part 1



Happy reading!


.


***


"Daddy, lihatlah, Lele berhasil membuat pesawat!"


Kaki kecil dan mungil itu berlari kecil, memegang sebuah benda di tangannya dengan bersorak. Karya pertama harus diperlihatkan pada Daddy, begitu ajaran Silver padanya.


"Siapa yang mengajarkan ini, Sayang?"


"Ms. Bronze bilang ini bisa membawa Lele bertemu Diego."


Silver tersenyum dan menerima pesawat kertas yang dibuat putrinya. Alita dipanggil Lele, begitu yang diinginkan anak kecil itu. Bukan Alita, ataupun Elle seperti yang sering dipanggil Diego.


"Kapan Lele bisa bertemu Diego, Daddy?"


Bibir mungilnya mengunyah camilan dan membuat pipinya bergoyang menggemaskan. Tidak tahan dengan itu, Silver menciumnya.


"Kau tidak bisa pergi dengan pesawat kertas ini, Little Bunny. Ini akan hanyut kalau terkena air."


Bibir mungil itu mengerucut dengan mata yang mulai memerah. Bayi kecilnya yang dulu dia timang dengan satu tangan telah tumbuh menjadi anak gadis kecil yang menyenangkan. Umur lima tahun membuatnya begitu menggemaskan dengan semua tingkahnya, mulai belajar dan mengenal hal-hal baru yang membuatnya lebih ceria. Tapi akan menjadi rewel dan manja kalau argumennya ditolak. Seperti sekarang.


"Kenapa Daddy mengatakan itu? Aku ingin bertemu Diego, Daddy! Huaaaaa ... Daddy jahat."


Tangisan anak perempuannya membuat Silver tergelak. Seringkali dia melakukan itu pada putrinya yang berakhir dengan perdebatannya dengan Sue.


Untuk kali ini, mungkin Silver berhasil selamat. Dia membekap mulut Alita agar anak perempuannya berhenti menangis. Tapi yang terjadi, tangis Alita makin keras.


"Daddy, huammmphhh ... Daddy jahatttt ...."


Karena tidak tahan dengan sikap menggemaskan itu, Silver tergelak kencang hingga Alita tercengang dan berhenti menangis.


"Daddy, jangan menertawakanku!"


"No, Baby, Daddy hanya senang melihat pesawatmu ini. Sangat cantik," ucapnya menenangkan sang buah hati. Dan berhasil membuat Alita tersenyum lagi.


"Jadi, kapan aku bisa bertemu Diego, Daddy?"


Pertanyaan itu kembali meluncur dari bibir mungilnya, membuat Silver mengambil ponsel dan melakukan panggilan video dengan anak laki-laki yang jauh di benua seberang. Kebiasaan yang menjadi hobi disaat putrinya merengek untuk menemui Diego.


"Halo, Dad. Di mana princess-ku?"


"Kapan kau datang bermain denganku? Aku sudah bisa membuat pesawat." Dia menunjukkan benda yang dibuatnya pada Diego, dan anak remaja di seberang terkekeh. Dan mendapat pujian dari Diego.


"Asalkan kau tidak menangis lagi, Princess. Katakan padaku, berapa kali kau menangis hari ini?"


Alita menggeleng pelan. "Hanya sekali. Apa itu artinya kau tidak akan datang bermain denganku?"


"Aku harus sekolah di sini, Lele. Kau juga harus belajar, bukan? Tidak baik kalau kau mendapat nilai buruk di sekolah."


"Apa itu artinya Lele bodoh?" Pertanyaan yang membuat Silver mengernyit pasrah. Dan seseorang di seberang sana kembali terkekeh.


"No, Lele tidak bodoh. Tapi tidak akan disayangi Ms. Bronze lagi."


Dan tangisan menjadi penutup. "Huaaaa .... Daddy, Diego jahattt ...."


Silver yang kadang tidak mengerti dengan sikap anaknya itu menghela napas. Tapi dia tak kehilangan akal untuk membujuk.


"Oke, oke, berhenti menangis, Sayang. Kau mau Diego datang di rumah kita 'kan?"


Anggukannya secepat kilat, membuat Silver terkekeh hambar. Apa yang terjadi, begitu pikirnya.


"Lele harus rajin belajar dan berhenti menangis. Bisa 'kan?"


Silver bisa melihat, putrinya sedikit enggan. "Dan Daddy akan membelikan baaanyaaak mainan untuk Lele."


"Tapi Daddy bilang harus rajin belajar. Bagaimana aku belajar kalau dibelikan banyak mainan, Daddy?"


Karena kenyataanya, anak perempuannya akan lupa waktu jika berhadapan dengan mainan yang disukai.


.


---


Sorry sedikit, bakal ditambahin lagi nantiπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Jan lirik trus lah, Dek. Udah meleleh hati akakπŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’



Cocoklah ya jadi Alita😊