Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 10



Happy reading!😊😘


*****


Beberapa hari ini Paula jarang mendatangi mansion Silver, membuat pria itu merindukan kekasihnya. Dalam sekejab, ia sudah berada di apartemen Paula. Ia memasukkan password apartemen itu dan langsung masuk ke dalam kamar kekasihnya.


Paula sudah bergelung di balik selimutnya ketika Silver menghempaskan diri di sampingnya, kemudian memeluknya.


"Selamat malam, Sayang."


Ia menyingkapkan selimut yang membungkus kulit perempuan itu. "Kau sudah tidur?"


Tidak ada jawaban. Silver mulai mengecup ringan daun telinga Paula dan meniup-niupnya. Merasa yang yang mengganggu tidurnya, perempuan itu menggeliat. Ia berusaha mengembalikan kesadarannya dan tersenyum ketika menyadari bahwa Silver pelakunya.


"Sudah lama?"


"Baru saja." Silver terus melakukan aktivitasnya. "Apa aku mengganggumu?"


"Kau selalu menggangguku, Sil."


Silver terkekeh. "Tapi kau suka, bukan?" Ia menggigit kecil hidung mungil perempuan itu.


"Aww .... Stop. Kau menyakitiku."


Ia tersenyum dan memberikan tanda kepemilikan di leher jenjang milik Paula. "Aku tidak akan minta maaf, kau menggemaskan."


Paula memukul lengan yang terus merangkulnya. "Ada masalah apa?"


Silver tidak menjawab, ia serius memperhatikan hasil karya yang baru saja ia buat. "Kenapa warnanya berbeda?"


Paula berusaha mengendalikan ketakutannya. "Kau yang jarang memperhatikannya, Sayang. Warna awalnya memang selalu seperti itu, tapi akan berubah setelah beberapa jam." Ia mengusap rambut silver milik pria itu, menguatkan hatinya dan berharap Silver mempercayainya.


Silver kembali mengecup wanitanya, memberikan tanda yang sama di beberapa tempat favoritnya, sampai ia tidak bisa menahan pusat dirinya yang bereaksi.


"Sayang ...."


Mengerti dengan panggilan memuja seperti itu, Paula mengangguk pasrah.


Berulang kali mereka melakukannya hingga tengah malam tiba barulah Silver menghentikan aksinya. Ia mengecup kening wanitanya dengan sayang. Ia merapikan pakaiannya yang berantakan dan pamit.


Tanpa ia sadari, wanita itu menitikkan air mata. Merasa bersalah karena menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.


*****


Langkah kaki Silver terasa ringan bersentuhan dengan lantai marmer bercorak merah itu. Manik hijaunya menatap tajam lorong tanpa cahaya itu menuju ke suatu tempat. Hanya keheningan yang menyelimuti. Ia menuruni tangga yang menghubungkan dengan lantai bawah tanah, tempat ia menampung banyak pengkhianat dan musuh-musuhnya.


Seorang penjaga yang melihatnya datang segera membuka pintu.


"Dimana dia?"


"Di kamar itu, Tuan." Penjaga itu menunjuk pada sebuah kamar kecil, lalu berbalik menjaga pintu lagi.


Saat Silver membuka pintu itu, seorang wanita tua sedang tidur meringkuk di atas kasur kecil di lantai, tanpa sehelai kain membungkus kulitnya. Wanita itu terbangun dan duduk.


"Akhirnya kau datang. Lepaskan aku dari sini, mereka memborgol kaki dan tanganku, memenjarakan aku di tempat buruk ini. Katanya, setelah kau datang, aku bisa keluar dari sini." Ia menyodorkan tangannya yang diborgol itu, namun ditepis kasar oleh Silver.


"Siapa namamu?"


"Lepaskan saja aku, namaku tidak pantas untuk kau ketahui."


"Akan aku lepaskan kalau kau beri aku alasan kenapa mereka menyekapmu di sini."


"Aku tidak tahu. Mereka datang dan menuduhku melakukan sesuatu yang tidak aku lakukan, memukulku dan membiarkan aku tidur di sini."


Silver terkekeh, ia mengambil pistol kecil dari saku jasnya. "Kau tidak keberatan bukan kalau aku mengirimmu kembali dalam keadaan tak bernyawa? Seperti yang telah mereka lakukan."


"Kau pandai bersilat lidah, Wanita tua. Tapi perlu kau tahu, aku orang yang pandai melakukan aksi tanpa banyak bicara. Kau hampir saja membunuhku."


"Hei, lepaskan saja aku. Aku tidak sekuat itu untuk membunuh anak muda sepertimu. Kau melihat dengan mata kepalamu kalau aku sudah tua. Sepertinya ibumu juga seumuran denganku, kau tega membiarkanku menderita? Anakku seumuran denganmu juga, tapi malangnya anakku ... auuuwww .... Apa kau gila?"


Silver menembak telapak kaki wanita itu saat ia mendengar kata 'ibumu'. Darahnya mendidih saat itu juga.


"Kau tidak sama dengan malaikatku, Wanita gila. Dia malaikatku, duniaku, matahariku. Kau hanyalah kotoran menjijikkan yang kebetulan ada di dunia ini. Jangan membandingkan dirimu yang hina itu dengannya!"


Wanita tua itu tertawa keras seperti orang kerasukan, seakan lupa dengan sakit di telapak kakinya. "Aku bilang kami seumuran bukan mengatakan kalau kami itu sama. Yang benar saja kami itu setara, aku lebih berharga dari barang yang sudah tidak ada di bumi ini."


Saat itu juga, mata Silver berkabut oleh amarah. Ia mencekik leher wanita itu sampai tubuhnya lemah. Lalu membenturkan kepalanya ke dinding.


"Malaikatku lebih berharga. Kau binatang menjijikkan, Jal*ng!" Ia menedang tubuh yang lemah itu sampai terkapar dengan darah di lantai berkeramik putih itu. "Kau tidak sama dengan matahariku, kau wanita rendahan, sampah menjijikkan. Kau seharusnya tidak ada di dunia ini."


"Aku akan bermain-main sampai puas sebelum mengirimmu ke neraka yang seharusnya."


Manik wanita itu terbuka perlahan. Rupanya, ia masih sadar. "Ka ... kau ... ak ... kan ... ma ... ti ...."


"Tidak sebelum aku mengirimmu ke neraka, J*l*ng." Satu tarikan pelatuk membuat wanita tua itu tidak sadarkan diri.


*****


Tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Silver pembunuh?


Selama ini Sue mengira semua yang dikatakan para maid itu hanyalah lelucon. Lelucon untuk menakutinya agar ia mau melakukan apa saja. Carissa menyuruhnya pergi, apa mungkin ini alasannya?


Sendi-sendi tubuhnya seolah terlepas dari tempatnya. Kakinya lemas, tangannya bergetar, jangtungnya pun tak kalah berdebar.


Ia masih berdiri di lorong gelap itu, melihat dari celah kecil, menyaksikan bagaimana Silver menganiaya seorang wanita tua sebelum membuatnya tak sadarkan diri.


Air matanya turun tanpa ia sadari, rasa kecewa menyelimuti kalbunya. Rasanya ia ingin pergi saja dari tempat itu, tapi kakinya tak bisa digerakkan. Ia kecewa telah mengidolakan pria itu, ia marah pada dirinya yang tidak mengetahui hal-hal besar tentang idolanya. Semua yang ia anggap lelucon, kenyataannya benar adanya.


"Kau mengintip, Tikus kecil."


Suara itu membuatnya terkejut setengah mati. Jantung yang tadinya hanya sebatas debar tak karuan, sekarang hendak melompat keluar. Kakinya lemas tak bertenaga.


"Kau melihatnya bukan?"


Sue diam seribu bahasa. Tubuhnya bergetar.


"Sekarang giliranmu."


Silver segera menarik tangannya, melangkah cepat menelusuri lorong gelap itu.


Ketakutan menyelimuti Sue, bukan takut tamparan ataupun cekikan yang pernah ia alami. Tapi, saat Silver menariknya ke dalam kamarnya.


Di ranjang kecilnya, ia dihempaskan dengan kasar.


"Buka pakaianmu!"


Sue memegang erat kancing kemejanya, menunduk dengan air mata bercucuran.


"Buka bajumu, J*l*ng. Sadari posisimu di tempat ini, kau hanya pelayanku."


Bagai tertampar benda keras, Sue hanya menangis dan menuruti kemauan sang tuan. Ia sadar posisinya sekarang hanyalah seorang pelayan, yang berhutang banyak pada tuannya.


Sue hina, dia telah ternoda. Darah segar yang keluar dari pusat tubuhnya menjadi saksi bisu, kenyataan menyakitkan menimpa kehidupannya. Ia tak punya harapan lagi untuk masa depannya. Sue telah hancur.


Hanya saja, lelaki yang masih menikmati tubuhnya tidak berhenti. Waktu masih akan menjadikan Sue tawanan dalam dekapan Silver.


*****


Ig : @xie_lu13