
Happy reading!😊😘
.
*****
Perempuan berambut putih itu menutup mulutnya tidak percaya, berharap pendengarannya bermasalah. Seseorang yang sudah ia anggap penyelamatnya adalah dalang di balik kecelakaan yang dialami kedua orang tuanya.
"Sialan kau, Greg. Je te deteste, tu es meurtrier. (Aku membencimu, kau pembunuh)."
Ia berusaha lari sekuat tenaga dari balik pintu tempatnya berdiri tadi sambil mendengarkan percakapan yang tidak boleh didengarnya, namun suara Gregor menahan langkahnya.
"Itu sebuah cara untuk memudahkan jalan kita, sayang."
Zamora berhenti dan menoleh, ia mengusap air matanya kasar dan menyentak tangan Gregor yang mencekalnya. "Jalan mudah kau bilang?! Kita bisa merayu mereka agar kita mendapatkan restu dan bisa menikah tanpa membunuh. Kau manusia berkelakuan iblis, Greg." Manik birunya menatap penuh kebencian, rasa marah dan kecewa tergambar jelas di sana. "Kau menciptakan neraka bagiku, sialan! Kau tidak akan merasakan kebahagiaan seumur hidupmu, kau manusia terkutuk. Pergilah ke neraka dan jangan pernah berharap aku mengampunimu!"
Gregor terkekeh, ia menarik tubuh mungil Zamora mendekat. Tangan kekarnya menangkup pipi chubby yang selalu membuatnya berdebar. "Neraka tidak akan menampung pria sepertiku, Eleanor. Percayalah, hanya hatimu neraka yang akan menyiksaku."
Zamora menepis kasar tangan Gregor dan menampar pipinya keras. Ia merasakan tangannya perih ketika tamparan keras itu ia layangkan. "Kau pantas mati. Iblis sepertimu tidak pantas mendapatkan hatiku, pergilah ke neraka yang seharusnya!"
Napasnya terengah-engah menahan kobaran amarah yang menggebu di dalam dadanya. Bulir air matanya kembali jatuh, tapi ia segera menghapusnya kasar. Hatinya terkoyak, seakan ada tangan tak kasat mata meremasnya.
"Kau telah menghancurkan duniaku, kau melenyapkan surgaku, membunuh seluruh rasa yang ada di dalam dadaku. Menetaplah di neraka, kau dan aku tidak akan berada di tempat yang sama."
Air matanya tumpah, mengalir dan membanjiri lahan kering di pipinya. Ia berbalik hendak pergi sejauh mungkin, tetapi lagi-lagi tangan Gregor menahannya.
"Apa kau tidak tertarik dengan apa yang baru saja terjadi di dalam sana?"
"Tidak, kalian semua adalah iblis!" teriaknya. "Kau dan keluargamu adalah pembunuh. Sayang sekali aku hampir masuk ke dalam sarang pembunuh. Daddyku mungkin tahu tentang keluargamu makanya dia tidak merestui hubungan kita." Tanpa sengaja, netranya menangkap sesosok pria paruh baya yang diangkat dalam keadaan tak bernyawa ke arah berlawanan dengannya.
Manik abu yang semula menatapnya penuh puja kini berubah tajam, rahangnya mengeras. Tangan yang tadi menggenggamnya halus berubah menjadi cengkraman kasar yang menyakitkan di pundaknya. "Kau tidak mengenal keluargaku, Zamora. Jangan menghina mereka dengan mulut sialanmu itu kalau kau masih ingin melihat surgamu di dunia ini."
Zamora tersenyum miris. Membahas tentang keluarga Gregor rupanya mengganggu pria itu. "Oh, kau ingin membunuhku? Astaga, aku sangat takut." Ia mendekat sehingga jarak di antara mereka menipis. Kekuatannya untuk melawan bangkit dengan sendirinya saat merasakan amarah Gregor. "Jangan salah, Greg. Surgaku bersama-sama dengan orang yang kusayangi."
"Kau menantangku, huh?!" Gregor mencengkram pundaknya. "Hanya karena aku berbaik hati selama ini padamu bukan berarti aku tidak bisa menyakitimu, Zamora. Jangan membuat kesabaranku menipis!"
Rasa takut dan kehilangan itu menghilang entah ke mana, Zamora kini lebih berani. Meskipun mata tajam milik Gregor seakan membelah tubuhnya, ia tidak merasa terintimidasi. Ia bersedekap. "Oh iya, itu ayahmu, bukan? Yang baru saja keluar dari ruangan itu dengan darah di tangannya? Ck, aku baru sadar bahwa kalian sama, memiliki mata abu dan senyuman iblis yang mengerikan."
Habis sudah kesabaran Gregor, ia mencengkram dagu Zamora dan menarik tangannya menjauh dari tempat itu. "Kau akan mendapatkan apa yang sudah kau minta, sayang," desisnya penuh amarah.
*****
"Apa kau tidak ingin meminta maaf pada kekasihmu, Salmonetta? Dia baru saja membunuh seseorang untuk melampiaskan amarahnya."
Maria yang mendapat kabar dari seseorang tentang pembunuhan di mansion milik Silver berusaha membujuk Paula agar menghentikan tindakan yang menurutnya konyol. Bagaimana tidak, berita tentang hubungan palsu yang direkayasa oleh Paula antara dirinya dan dokter Jannis semakin mencuat. Ia khawatir akan banyak korban yang menjadi mayat akibat kobaran amarah Silver karena ia telah mengenal Silver seperti mengenal Paula.
"Minta maaf?" Paula memicingkan matanya, melirik sinis pada Maria. "Kau pikir mudah merayu dokter Jannis agar bisa berpura-pura? Dia bahkan benar-benar hampir menikahiku."
Seketika tawa Maria pecah, sampai ia menyemburkan kopi yang baru saja dicicipinya. "Benarkah? Hahaha, kau sangat beruntung, Netta. Seorang dokter tampan ingin menikahimu ditambah lagi dengan seorang putri kecil yang sangat manis." Seketika tawanya reda digantikan oleh keheningan yang membentang. "Tidak seperti--"
"Hentikan, Maria. Aku ingin istirahat, semalam aku kurang tidur. Aku harus menyiapkan diri untuk menerima kekalahanku."
Maria mengangguk, ia membantu Paula merebahkan dirinya di ranjang. "Jangan memikirkan apa-apa lagi. Kalau kau ingin sandiwaramu berjalan lancar, kau harus meyakinkannya dengan wajah ceria dan tidak sepucat ini."
*****
Kepalanya terasa pecah, sudah beberapa botol minuman beralkohol dihabisinya dalam sekejab. Tatapan tajam milik Gregor sungguh membuat kepalanya berdenyut sakit.
Kau juga tidak lebih dari dia yang baru saja kau bunuh, Dominique.
Baru kali ini Gregor menyentuh dirinya, bahkan memukulnya dengan penuh amarah.
Setelah habis meneguk sebotol alkohol itu, Silver memukulkan botol kaca itu di meja sehingga pecah.
"Kau belum pernah merasakan kehilangan, saudaraku. Kedua orang tuaku dibunuh olehnya, apa aku juga tidak boleh merasakan kebahagiaan sesaat?"
Ia bangkit dari bar mini miliknya, berjalan sempoyongan ke arah ranjang dan menghempaskan dirinya. "Sayang, kau mengkhianatiku. Padahal dulu kau sudah berjanji akan menemaniku selamanya." Ia meracau seakan guling yang dipeluknya adalah Paula.
"Aku mencintaimu dengan seluruh ragaku, memberikan seluruh cintaku untukmu. Kau cintaku, pemilik seluruh tubuhku." Ia mencium guling itu dan memeluknya erat. "Kau tahu kalau aku hanya bermain dengan mereka. Percuma aku menghabiskan uangku untuk membayar mereka kalau tidak bisa kucicipi."
Racauannya semakin tidak jelas sampai ia kelelahan dan tertidur.
*****
Rodrigo bergegas masuk ke dalam mansion besar itu, mendengar kabar bahwa Silver telah membunuh Jerome dan menyiksa Suelita membuatnya khawatir dan merasa bersalah. "Ini tidak benar, kau telah menjatuhkan dirimu ke dalam jurang kegelapan, Sil," desisnya sambil mempercepat langkahnya masuk ke kamar Silver.
"Sial, aku harus menunda ini lagi." Ia turun lagi ke bawah, menuju penjara bawah tanah milik Silver saat ia melihat Silver terlelap dalam tidurnya
Melihat banyaknya CCTV di sana membuat Rodrigo harus nekad. "Sial," desisnya. Ia mengambil sebuah pistol dari saku jaketnya dan menembak ke arah kamera.
Seorang penjaga menahan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya tidak suka.
"Tuan Silver melarang siapapun masuk ke area ini, Tuan."
Rodrigo menembak penjaga itu sampai tidak bernyawa. "Jangan pernah menghalangiku, sialan."
Beberapa penjaga yang melihat itu hendak mengepungnya, tetapi sekali tarikan pelatuk membuat mereka terjatuh.
"Kalian terlalu lemah."
Dengan langkah cepat ia membuka pintu penjara tempat Sue tetapi sayangnya pintu tersebut dikunci.
Ia tidak kehilangan akal, ditembaknya pintu itu sehingga terbuka lebar.
"Sial, kau benar-benar telah dibutakan oleh pria tua itu, Sil."
Ia mengangkat tubuh Sue yang penuh luka keluar dari tempat itu. "Maafkan aku, Suelita. Aku terlambat. Bertahanlah!"
Rodrigo setengah berlari sambil menggendong Sue yang kehilangan kesadarannya. Ia mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan.
"Sinari dia dengan cahaya cintamu, aku tahu kau gadis yang pantas menyinari kegelapan di dalam gelapnya hati Dominique, Suelita."
.
*****
Ig : @xie_lu13