
Happy reading!😊😘
.
*****
Sue terbangun saat fajar telah menyingsing. Ia meraba sekitarnya, berharap pria yang bersikap aneh padanya semalam masih ada.
"Syukurlah, dia sudah pergi."
Sue bangun dan merapikan tempat tidurnya yang acak-acakan. Saat sedang merapikan spring bed, matanya tanpa sengaja melihat sebuah benda kecil di sana.
"Nona Paula...."
Selembar foto Paula berukuran 2×3 sedang tersenyum manis di sana. Melihat itu, hati Sue merasakan sedikit perih, sakit yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud melakukannya," lirihnya sambil menitikkan air mata.
Ia mengingat bagaimana perlakuan Silver padanya, bahkan saat Paula masih hidup. Lelaki itu menidurinya, memuaskan hasrat dan melakukan kekerasan fisik padanya.
Sue merasa bersalah pada Paula. Ia telah menodai cinta yang tulus milik keduanya. Andai ia bisa menghentikan perbuatan Silver waktu itu, semuanya tidak akan terjadi. Malaikat di perutnya tidak akan pernah hadir.
"Maafkan saya, Nona...."
*****
"Kau pingsan?"
"Tidak!"
"Ayolah, Sil. Hugo mengatakannya."
"Dia berbohong!"
"Kau yang berbohong. Katakan kalau kau takut harga dirimu yang tinggi itu terluka."
"Sialan kau, Rod. Aku tidak pingsan aku hanya mengantuk!"
"Oh, kau baru saja mengatakannya, Dominique!"
"Enyahlah! Jangan muncul di hadapanku lagi!"
Rodrigo tertawa terbahak-bahak. Ia mendapat satu senjata baru agar bisa mengalahkan Silver saat sedang mengejeknya.
"Kau pingsan, Sil."
"Pergi!"
Silver yang tidak menerima dirinya yang dikatakan pingsan terus-menerus, memerintahkan dokter yang baru saja mengganti perban di tubuhnya itu mengusir Rodrigo.
"Oke, aku akan pergi setelah mengatakan ini!"
"Cepat katakan! Kemudian enyahlah dari hadapanku!"
"Come on, Sil. Jangan marah-marah. Kau bisa tua sebelum anakmu lahir."
Rodrigo langsung menghentikan ocehannya saat merasa mulutnya telah kelepasan bicara.
"Anak? Anak siapa?"
"Tidak, tidak. Maksudku, kau bisa saja menjadi tua sebelum punya anak."
"Aku tidak akan setua itu, sialan!"
"Kau terus marah-marah, Sil."
"Kau yang memulainya."
"Kau yang pingsan. Hugo mengatakannya!"
"Pergi! Jangan katakan apapun lagi!"
"Ya, ya, jangan mengusirku terus-menerus. Aku sahabatmu."
"Pengkhianat lebih tepatnya."
"Jaga bicaramu, Sil."
"Aku mengatakan kebenaran!"
"Ya, terserah kau saja. Yang penting aku tidak membunuhmu."
"Ck, bicaramu aneh. Pergi, sebelum aku meledakkan kepalamu!"
Rodrigo tertawa lagi, ia mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Menggunakan apa? Pistol kecil milikmu? Hahaha... aku menyembunyikannya, Sil."
Silver terus saja menggerutu, bergumam tidak jelas, mengumpat dan mengutuk Rodrigo.
"Dengarkan aku, Sil!" Pinta Rodrigo bersungguh-sungguh, tidak ada keraguan di matanya. Nampaknya itu hal serius yang membuat Silver menyuruh dokter yang sedari tadi berdiri di sana pergi.
"Katakan!"
Lama Rodrigo terdiam, lalu menjentikkan jarinya. "Ah, sudah ingat!"
Silver sontak memukul kepalanya.
"Jangan memukul kepalaku, Sil. Ini berharga!"
"Katakan apa yang ingin kau katakan! Jangan membuat aku mati penasaran di sini. Apa kau ingin aku membunuhmu? Lagipula kepala merahmu itu seperti benda menjijikkan."
"Ck, kau membuatku melupakan itu lagi."
"Pelupa," sinis Silver, lalu memukul lagi kepala Rodrigo. "Enyahlah, kau membuat tidurku terganggu."
Silver menarik selimut putih itu menutupi seluruh badannya.
"Apa kau pingsan lagi?" ledek Rodrigo memegang kepalanya yang merasa sakit karena pukulan Silver.
"Pergi, Delore!"
"Oke, baiklah. Tapi kau harus mendengarkanku dulu."
"Sudahlah, aku sudah tidak ingin mendengarkanmu!"
"Aku hanya ingin mengatakan ini tadi." Ia mendekat ke arah bangkar itu dan berbisik pada Silver.
"Sialan! Enyah dari sini!"
"Hahahahaha.... Kau akan pingsan lagi, Sil!"
Sebelum Silver melemparinya dengan meja dan kursi yang ada di ruangan itu, Rodrigo lari terbirit-birit dan menutup pintu kamar VVIP itu.
"Aku akan membunuhmu, Delore!"
Silver terus mengutuk dan mengumpat, mengeluarkan kekesalannya karena Rodrigo terus meledeknya.
"Aku tidak pingsan, aku hanya tertidur, sialan!"
Nyatanya, Silver memang pingsan karena udara yang sangat dingin di hutan itu. Untung, Hugo yang mengekorinya dari kejauhan segera membawanya ke rumah sakit.
"Hugo sialan!"
*****
"Dimana Silver?"
"Bukankah kau terus siaga di rumah ini selama 24 jam, José?"
"Saya hanya menjalankan tugas saya dan tidak mencampuri urusan Tuan Silver, Nona."
"Apa dia tidak mengatakan sesuatu sebelum dia pergi?"
"Tidak."
Peyton berdecak sebal, sedari tadi ia mencari keberadaan Silver di mansion itu. Tetapi, pria itu tidak menampakkan batang hidungnya.
"Kau bersembunyi dariku, sayang."
Lalu ia menyusuri semua kamar di lantai dasar itu. Matanya tak henti menelisik saat sampai di sebuah kamar yang sangat dibencinya.
"J*l*ng itu pasti menyembunyikan kekasihku."
Ia membuka pintu itu dengan kasar sehingga pemilik kamar itu terkejut.
"Nona...."
Peyton langsung menjambak rambut Sue dan menamparnya berkali-kali.
"Kau hanya pelayan rendahan dan tidak pantas bersanding dengan Silver-ku."
Peyton menarik Sue keluar dengan tangan yang tidak lepas dari rambut panjang milik Sue.
"Lepaskan saya, Nona...."
"Shut up, b*tch!"
Peyton membawanya ke halaman luas mansion itu dan mendorongnya kasar sehingga terduduk di hamparan rumput hijau di sana.
Sue meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya karena kuku Peyton mengulitinya.
"Kau wanita rendahan! Ingat statusmu, j*l*ng. Jangan pernah bermimpi untuk bisa menyaingiku, karena aku wanita yang pantas bersanding dengan Silver."
Sue terdiam, tanpa disuruhpun ia sadar posisinya. Tanpa sadar, ia memegang perutnya dan Peyton menyadari hal itu.
Gadis keriting itu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Sue. Ia menarik kasar dagu Sue agar menatap wajahnya.
"Apa kau merayu kekasihku? Tenang saja, kau tidak akan memiliki anak dengannya."
Peyton hendak menendang perutnya saat Carissa datang dan menarik gadis keriting itu sehingga terhuyung.
Para maid yang melihat itu hanya terdiam, karena itulah tugas mereka. Digaji dengan fantastis, tentu saja untuk membungkam mulut mereka dari apa yang terjadi di mansion.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Peyton. Ia tersenyum sinis sebelum mengambil sebuah pistol dari balik jaketnya.
"Kau harus mendapatkan bagianmu sendiri, j*l*ng!"
Satu peluru menembus paha Carissa membuatnya ambruk di atas rumput itu.
Peyton tertawa puas, merasa bahwa dirinya hari ini akan menang. Ia kembali menghadap Sue dan menodongkan pistol itu di dada Sue.
"Sesama pelayanmu sudah mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Dan... sekarang giliranmu!"
Sue memejamkan matanya, bersiap menerima apapun yang akan dilakukan Peyton. Namun, baru saja beberapa menit ia mendengar suara Peyton yang kesakitan.
"Aw... Carissa...."
"Tenanglah, aku tidak akan mati!"
"I-itu...."
"Dia hanya pingsan."
Sue bergidik melihat Peyton ambruk dengan darah segar keluar dari bahunya. Dan Carissa memegang sebilah pisau yang telah ternodai darah.
"A-apa dia baik-baik saja?"
"Tenanglah, aku tidak akan membunuhnya, Sue. Dia harus berhadapan dengan kemarahan Tuanku karena telah menyakitimu."
"Ta--"
"Berhenti berbicara! Apa kau tidak ingin bangkit dari sana?"
"Um... baiklah. Kau tidak apa-apa bukan?"
"Sudah aku bilang tidak apa-apa. Bangunlah!"
"Ya."
*****
"Aku baik-baik saja, Paman. Jangan khawatir!"
"Lukamu dalam, Sil. Tidak mengenai organ dalammu?"
"Tidak."
Alfonso menghembuskan napas lega mendengarnya. Mendengar Silver masuk rumah sakit, ia bergegas.
"Oh, dua j*l*ngmu baru saja melakukan aksi menakjubkan."
"Benarkah?"
Silver antusias mendengarnya. Membayangkan adanya adegan jambak-manjambak membuatnya tersenyum tipis.
"Ya, kau lihatlah!" Alfonso menyodorkan sebuah hasil rekaman CCTV di ponselnya.
Senyuman di bibirnya langsung pudar melihat Peyton menjambak Sue dan menariknya keluar mansion. Amarah tampak jelas di matanya saat beberapa tamparan dilayangkan Peyton di wajah Sue.
Namun, itu hanya berlangsung beberapa saat. Senyumannya kembali merekah saat ada adegan Carissa menusuk Peyton di bahunya.
"Apa kau yakin di benar-benar pelayanmu, Dom?"
"Hm?"
"Yang menjatuhkan keriting itu."
"Jangan khawatir paman, pelayanku semuanya bersih. Tidak ada pengkhianat!"
Alfonso mengangguk.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada anak pembunuh itu?"
Silver terdiam sejenak kemudian bertanya, "Paman punya saran?"
Alfonso menipiskan bibirnya, mengetuk-ketuk meja di hadapannya.
"Biarkan dia menjadi urusanku!"
"Paman yakin?"
"Ya, asalkan kau menyetujuinya."
"Aku tidak keberatan."
.
*****
Love,
Xie Lu♡