Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
The Athlete 44



Happy reading!😊😘


.


*****


Mendapat kabar mengejutkan tentang Silver membuat Sue semakin khawatir. Pasalnya, bukan hanya terluka tetapi keadaannya cukup memprihatinkan.


"Tolong lebih cepat lagi, Kris."


"Ini sudah lebih dari batas kecepatan maksimum, Nona."


"Astaga, apa sudah dekat?"


"Maafkan saya, Nona."


"Baiklah, menyetir dengan hati-hati."


Sue menyandarkan kepalanya di kursi mobil, mencoba memejamkan matanya agar tidak gelisah. Nyatanya, semuanya tidak berlalu dari pikirannya. Bayang-bayang menyeramkan terlintas di benaknya.


"Astaga, aku bisa gila."


"Anda baik-baik saja, Nona?"


"Aku baik-baik saja."


Selama sisa perjalanan dini hari itu, Sue hanya memejamkan matanya sesaat. Hingga mobil yang membawanya sampai di mansion megah tempat yang menjadi saksi bisu dirinya disiksa.


"Kita sampai, Nona."


"O-oh, tolong antarkan aku ke sana."


"José akan membawamu ke sana!"


"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih, Kris."


"Sama-sama, Nona."


José yang bersiaga di pintu utama itu segera membawa Sue ke tempat Silver berbaring.


"Bagaimana keadaannya, José?"


"Kau akan melihatnya sendiri, Nona."


"Jangan memanggilku seperti itu, José!"


"Kau sudah menjadi wanita Tuan Silver, Nona. Kami harus menjaga kesopanan kami."


"Tetap panggil aku seperti biasanya."


"Tuan yang memerintahkan kami, Nona."


"Astaga, kau membuatku pusing, José. Pergilah, beritahu aku dimana kamarnya."


José tersenyum, kemudian menunjuk ke kamar Silver.


"Di sana?" Sue memelototkan matanya.


"Kau bisa masuk sekarang."


"T-tapi, bukankah pintunya menggunakan sidik jari?"


"Kau bisa melihatnya sendiri, Nona."


Sue memutar bola matanya lalu berlalu meninggalkan José.


"Bagaimana aku membukanya kalau pintu ini saja menggunakan sidik jari untuk akses masuk?" gerutu Sue sambil menyentuh pintu itu.


"Astaga, ini ajaib," gumamnya saat pintu itu tiba-tiba terbuka. "Bagaimana bisa terbuka? Ini aneh!"


Sue melihat sekeliling ruangan itu. Meski hampir pagi, lampu-lampu di sana masih menyala. Rupanya pemilik kamar itu tidak mematikan lampunya.


Seorang dokter langsung menyapanya saat Sue masih berdiri mengagumi kamar utama sang Tuan.


"Nona."


"Oh astaga, kau mengagetkanku. Apa dia baik-baik saja?"


"Maafkan saya, Nona. Anda bisa melihatnya sendiri. Tuan berada di ranjangnya."


"Baiklah, aku ke sana."


"Saya permisi, Nona."


Kamar pribadi Silver dibatasi sekat berupa kaca pembatas yang tidak tembus pandang. Karena itu, Sue ragu-ragu untuk melangkah lebih jauh. Ini pertama kali dirinya melangkah lebih jauh di mansion ini. Tetapi, mengingat Silver yang sedang terbaring lemah di sana, dia menguatkan hatinya.


"Tuan...."


Hening. Hanya bunyi monitor yang menjawab.


Sue duduk di bibir ranjang. Memegang tangan Silver dan menaruh di perutnya.


"Kau ingin memeluknya, bukan? Bangunlah, Tuan. Dia merindukan, Daddynya."


Hampa.


"Aku sudah tidak mual lagi. Kau bisa memelukku sepuasmu, Tuan."


Air mata Sue terjatuh melihat Silver berbaring lemah dengan bantuan kantong udara untuk pernapasannya.


"Bangun, Tuan. Dia membutuhkan, Daddynya."


Sue terus memegang tangannya, menangkupnya di pipinya. "Kau harus memelukku di sisa malam ini, Tuan, sebelum matahari terbit."


Dengan air mata yang terus menetes, Sue menyangga kepalanya di samping ranjang yang kosong dan memeluk Silver.


"Bangunlah, Tuan. Kau harus memelukku sekarang!"


*****


"Nona! Nona!"


Sue menggeliat merasakan seseorang yang menyentuh pundaknya.


"Nona, kami harus mengganti perban Tuan."


Dengan mengucek matanya, Sue terbangun. "Hm, maafkan aku. Aku ketiduran di sini."


Ketika keluar dari kamar itu, Sue bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang sedang duduk dan menunduk sedih di ruang tamu. Sue mendekat, membuat wanita itu mendongak.


"Apa kau kekasihnya Sil?"


Sue terdiam. Dia tidak tahu makna hubungannya yang sekarang. Silver menyebutnya sebagai kekasihnya tetapi tidak ada pernyataan istimewa.


"Sa-saya bukan kekasih Tuan Silver, Nyonya."


"Panggil aku Mommy seperti yang dilakukan Silver."


"A-apa?"


"Jangan berlagak bodoh. Kau hamil, bukan? Anak Sil?"


Sue mengangguk.


Sue tersedak air liurnya sendiri. Siapa wanita paruh baya ini sampai dia mengatakan hal-hal menakutkan seperti ini.


"Apa kau mendengarku, Suelita?"


"Y-ya, Nyo---"


"Mommy, Suelita. Berhenti memanggilku seperti itu."


"Tapi...."


"Ya, aku bukan mama kandungnya Silver. Kau mengenal suamiku? Alfonso Di Vaio."


Lidah Sue mendadak kelu mendengar nama yang sangat tidak asing itu. Orang yang hampir saja membunuhnya.


"Dia yang menyebabkan semuanya terjadi, nak. Dia yang membunuh Jerome, menyiksamu dan hampir saja membuat kedua anakku saling membunuh."


Gregoria menangis tersedu-sedu, menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menghentikan suaminya.


"Dia penjahat sebenarnya! Dia pembunuh itu, Sue."


Meski Sue membenci Alfonso, tetapi hatinya tergerak oleh rasa simpati pada Gregoria. Dia mendekat dan memeluk wanita itu.


"Tenanglah, Mommy. Semuanya akan baik-baik saja. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang lebih besar dari pada kekuatan kita."


"Ini kesalahanku, nak. Aku yang tidak bisa menghentikannya."


"Tenanglah, Mommy. Kau harus kuat untuk menuntun dan memperbaiki jalan mereka yang telah salah."


Sue mengusap punggung Gregoria yang bergetar. "Semuanya akan baik-baik saja, mommy. Mungkin ini cara Tuhan untuk memperkenalkan kita kepada kasihNya."


Gregoria mengusap air matanya dan menatap dalam manik kuning yang memancarkan keceriaan itu.


"Kau malaikat, Sue. Pantas saja iblis itu kalah."


Sue terkekeh pelan. "Aku hanya berbicara kenyataannya, Mommy. Aku juga manusia yang pernah salah."


"Ya, ya, kau benar, tetapi dia manusia titisan iblis, Sue. Dia memutarbalikkan fakta dan menuduh orang yang salah."


"Aku sudah melupakannya, Mommy. Tuan Silver memberikanku malaikat pelindung."


Gregoria berbinar, dia menyentuh perut Sue. "Sudah berapa bulan?"


"Memasuki usia sembilan minggu, Mommy."


"Kau harus menjaganya dengan baik. Dia segalanya buat Silver, sayang."


"Dia selalu memeluknya, Mom."


Seketika, air mata Sue kembali terjatuh. "Semalam dia masih memeluknya."


"Maafkan aku, sayang," ucap Gregoria sambil mendekap tubuh mungil Sue.


"Bukan salahmu, Mommy." Sue balik memeluknya. "Harusnya aku tidak memancing amarahnya kemarin."


"Apa kalian punya masalah?"


"Bukan sesuatu yang besar."


"Kau bisa menceritakannya padaku jika terjadi sesuatu padamu."


Sue mengangguk. "Akan ku lakukan."


*****


Tidak ada keinginannya untuk melukai saudaranya, tetapi rasa kesal karena Silver membuat ayahnya terpuruk di tempat yang buruk membuat Gregor harus melangkah sedikit ke depan.


Rasa penyesalan melandanya saat dia melihat air mata Gregoria yang menangisi semua kejadian itu.


Gregor juga tidak berniat untuk membuat anak yang dikandung Sue harus kehilangan ayahnya.


Dengan pikiran yang tak karuan, dia menghabiskan harinya di kelab malam. Berjudi dan mabuk-mabukkan.


"Kau ingin ditemani, Tuan?" tanya seorang wanita yang berpakaian seksi padanya.


"Aku tidak menginginkanmu sekarang! Pergilah!"


Tetapi wanita itu tidak menyerah, dia menyentuh tubuh atletis milik Gregor. "Tapi, aku mengiginkanmu, Tuan."


Gregor menepis tangan nakal itu dan mencengkram dagu wanita itu. "Pergi kau, j*l*ng!"


Disaat itulah Zamora datang. Dia langsung menjambak rambut wanita itu dan menamparnya.


"Jangan menggoda kekasihku! Enyahlah!"


Melihat kemarahan Zamora, Gregor terkekeh. "Akhirnya kau datang, pengkhianat kecil."


"Ayo pulang, Greg. Kau harus bangun dari lubang penyesalanmu."


"Kau tidak tahu apapun tentang aku, Ele. Sil pasti akan membenciku karena telah membuat Mommy menangis."


"Bangun!"


Zamora coba mengangkat tubuh kekar dan tinggi itu. "Awww.... Sakit...."


Dia meringis saat sakit di betisnya menyerang.


Gregor melihat itu dan terkekeh. "Kau mengkhianati temanmu sendiri, Ele. Itu akibatnya. Dan sekarang aku harus menjalani karma yang diperuntukkan bagiku."


Bersamaan dengan itu, ponsel Gregor berbunyi.


"Mommy?"


"Cepat pulang, sesuatu terjadi pada Silver!"


.


.


.


.


.


iklan**


.


Author : apasih obat buat penyakit malas nulis. gue kalo penyakit malasnya kambuh selalu mageran😑


Netizen : lu salah nanya sama gue singkong. mana gue tau ada penyakit begituan. gue kan cuma baca doang trus komen next


Author : yakali aja lu pernah ngalamin. nulis surat buat doi misalnya😏


Netizen : buat abang Silver ga perlu surat😂. dia selalu ada dalam mimpi gue


Author : astaga, katanya kemarin mau sama Rodrigo. gampang banget lu berpaling Juleha🙁


Netizen : kalo buat yang tampan mah gapapa


Author : 😑😑😑