
Happy reading!😊😘
.
*****
Pertandingan berlangsung antarklub Brazilia dengan klub terpopuler dari negara Inggris yang dijuluki The Gunners. Stadion Allianz Parque dipenuhi ribuan penonton. Berteriak bersahut-sahutan menyerukan nama klub kesayangannya.
"Silver, ke sini!"
Silver segera mengoper bola tersebut ke arah rekannya yang langsung ditendang ke arah gawang.
"Gol!!!"
Sekali lagi, balasan untuk poin yang bertambah bagi mereka. Masih menyisakan beberapa menit pertandingan, tetapi mereka seakan masih sangat kuat. Berkali-kali memutar dengan bola yang terus menempel di antara telapak kaki.
Mark, selaku striker yang menggantikan posisi Rodrigo melakukan selebrasi setelah berhasil mencetak gol. Ia memeluk Silver.
"Assist yang akurat."
"Kau mengenalku, Mark."
"Ya, kau benar. Semangat, tinggal satu balasan kemenangan berada di pihak kita."
"Sekali lagi sebelum peluit si Botak itu berbunyi."
Keduanya terkekeh sebelum melepaskan pelukan. Disambut oleh beberapa rekan yang lainnya.
"Vamos!"
"Once more!"
"Yaaa...."
Bola kembali diletakkan di pusat lapangan, lalu dioper di antara kesebelasan pemain. Saat Silver kembali melakukan tipuan yang menegangkan penonton, seorang lawan menghadangnya.
"Oh, L'homme caméléon," sapanya dengan logat khas Inggrisnya.
Silver menegang, ada yang mengenalnya di lapangan ini. Tanpa menghiraukan perkataan pria berkulit putih itu, Silver terus meliuk-liuk mencoba keluar dari hadangannya.
"Enyahlah, kau menggangguku."
"Hell, ini daerahku."
Dia kembali berlari menyusuri garis lapangan itu dan terus dihadang pria Inggris itu.
"Kau tidak penasaran bagaimana aku mengenalmu?"
"Aku populer di antara semua pemain bola di Brazil."
Dengan napas terengah-engah, Silver mengoper bola itu ke arah rekannya. Membuat pria Inggris itu menyeringai.
"Kau sedikit tertipu."
Setelah mengucapkan itu, terdengar suara gemuruh penonton yang mendukung The Gunners.
"Kita imbang, Bunglon Hijau."
"Waktunya belum berakhir, Tuan Smith," tawanya pada pria Inggris yang bernama Brodie Smith itu. "Aku tidak terkalahkan."
"Kita lihat saja!"
"Aku akan membuktikannya."
"Aku menunggunya."
Bukan pembuktian tentang tidak terkalahkan yang terjadi, bahkan sampai detik terakhir additonal time, kesebelasan itu tidak berhasil menambahkan angka yang tertera di papan skor.
Mereka sama-sama kuat bertahan demi menjaga area sendiri dan berusaha menerjang gawang lawan yang sama kuatnya.
Saat kembali menyalami lawannya, Brodie membisikkan sesuatu di telinga Silver yang membuatnya menahan gejolak emosi.
"Sampai jumpa, Silver," ujarnya seraya tersenyum manis.
Demi keprofesionalannya, Silver terpaksa tersenyum dan menerima pelukan maut dari Brodie.
"Ya, aku menunggu waktu itu."
Salam keduanya terlihat alami dari arah kursi penonton, sehingga para penonton yang melihat itu langsung histeris.
"Silver...."
"Smith...."
Richard menyenggol lengan Silver.
"Kalian akan menjadi trending topic besok pagi. Mungkin dengan judul 'Dua Atlet Penakluk Liga Eropa Saling Menyayangi'."
*****
"Berikan aku setangkai bunga itu, Nyonya," tunjuk Silver pada setangkai bunga.
Ia mampir ke sebuah toko bunga yang masih buka.
"Kau akan mendapatkannya, Tuan."
Wanita tua penjual bunga itu mengambil salah satu bunga yang ditunjuk Silver dan menyerahkannya.
"Kau pasti sangat mencintai istrimu, Monsieur."
"Ya, melebihi apapun," jawabnya sambil menghirup aroma memabukkan dari tulip putih itu.
"Lalu, kenapa wajah Anda sedih? Apa sesuatu terjadi?"
"Aku berbuat kesalahan yang tidak bisa dimaafkan."
"Seperti?"
"Menghentikan aliran udara di dalam hidung seseorang."
"Astaga, semoga Tuhan mengampunimu."
"Aku tidak mengharapkannya."
"Dimana istrimu?"
"Di tanah lapang di sekitar hutan Parque Guarapiranga."
"Astaga, maafkan aku. Aku turut berdukacita padamu."
"Merci. Berapa harga ini?"
"Gratis untukmu, Monsieur."
"Tidak, aku tidak akan mengambil sesuatu dengan percuma."
"Tidak, berikan itu sebagai hadiah dariku untuknya."
Silver terus memaksa sampai wanita tua itu terpaksa mengalah. Dan menambahkan beberapa tangkai lagi bunga tulip putih dan merah.
"Merci, Monsieur. Semoga Tuhan mengampunimu."
"Kembaliannya untukmu saja."
Silver berbalik dan melambaikan tangannya seraya melangkah pergi. Ia masuk ke mobil dan mencium lagi tangkai bunga itu.
Ia melajukan mobilnya ke sebuah tempat. Ia menyusuri jalan yang dipenuhi semak dan rerumputan liar yang menjulang tinggi.
Suara jangkrik dan daun bergesekan di malam hari menjadi lagu sendu pengantarnya ke tempat itu. Sebuah tempat yang baru dikunjunginya setelah beberapa hari ditinggalkan.
"Aku datang, Sayang."
Ia meletakkan tangkai bunga di atas kuburan itu dan membersihkan dedaunan kering yang jatuh di atas kuburan
"Maaf, aku baru menjengukmu."
Lama ia berdiam di sana sambil mengungkapkan penyesalannya. Sampai sebuah pesan mengalihkan perhatiannya.
"Mafia sialan."
"Apa yang kau inginkan?"
"Wow.... Calm down, Caméléon. Aku tahu kau lelah menghadapi The Gunners."
"Katakan apa yang kau inginkan, sialan!"
Terdengar suara tawa keras dari seberang. "Aku belum memberikan hadiah menarik untukmu, Caméléon. Ya, aku ingin bermain lari-larian denganmu sambil menendang bola. Kau tidak lupa janjiku, bukan? Satu bulan ke depan? Inilah bulannya, tunggulah kejutanmu karena kau berani mengganggu milikku."
Silver mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apa maksudmu?"
"Keluargamu yang melakukannya, lebih tepatnya orang yang paling kau percayai."
"Sialan, bicaralah yang benar!"
"Oh, jadi mereka tidak memberitahumu? Wow, sungguh menakjubkan. Aku baru tahu ada bawahan yang tidak menghargai atasannya. Sudah dulu, aku akan memberikan videonya padamu."
Sambungan langsung terputus membuat Silver mengumpat. Amarahnya memuncak, mafia itu pintar membuat darahnya mendidih.
Sebuah pesan masuk. Berisi video yang baru saja dibahas oleh Max. Silver menyeringai saat mendapati Alfonso memegang Kimber Warrior 1911 dan membuka pintu ruangan perempuan yang dibencinya.
"Aku sudah menduganya, Paman. Kau akan bergerak lebih dulu."
Tanpa menontonnya lebih lanjut, Silver menelpon seseorang.
"Jangan biarkan mangsa kita lolos."
Ia kembali mengecup nisan yang bertuliskan nama kekasihnya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku belum bisa memastikan kapan aku berhenti melakukannya. Aku harus menuntaskan semua yang telah ku mulai."
Ia berdiri dan melangkah pergi dari sana.
"Sampai jumpa, Del Montaña."
*****
"Dimana dia?"
"Di kamarnya, Tuan."
"Jangan biarkan siapapun masuk ke sini, José."
"Aku mengerti, Tuan."
"Pergilah!"
José berbalik, tetapi Silver kembali menahannya.
"Bagaimana keadaan pamanku?"
"Dia baik-baik saja, Tuan."
Silver pergi ke kamar yang dimaksud. José memerhatikannya sampai ia menghilang di belokan.
"Kau tidak akan menyakitinya saat kau tahu yang sebenarnya, Tuan."
*****
"Bangunlah, pengerat!"
Silver menepuk pipi empuk dan lembut itu, memaksa manik kuningnya terbuka.
"Aku tahu kau belum tidur."
Tapi, Sue tak kunjung membuka matanya. Silver menyeringai, akal iblisnya berkuasa.
"Aku akan memakanmu."
Ia menyentuh pelan piyama tidur Sue, bermaksud membuka kancing piyama itu.
"Jangan menyentuhku!"
"Wow, kau bangun, tikus kecil."
Sue mengusap matanya berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang masuk.
"Tu-tuan...."
"Kau mengenalku."
Sue ketakutan saat Silver mendekat ke arahnya dan hendak menindihnya.
"Ja-jangan...."
"Berani mengaturku!"
Silver mencengkram pundaknya, memaksa manik kuningnya menatap mata zamrud sang tuan.
"Ma-maaf...."
Silver menyeringai saat Sue menatap matanya. Terlihat jelas ketakutan di mata yang selalu berbinar itu.
Silver perlahan menempelkan bibir mereka. Ia tersenyum saat Sue menegang karena penyatuan bibir mereka.
"Kau mengingatku, Suelita!"
Ketakutan Sue kembali melanda. Silver mengetahui bahwa ingatannya telah kembali. Namun, ia berusaha rileks agar Silver tidak mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Tu--mmpphh...."
Ia mencoba berbicara, tapi mulutnya dibungkam oleh Silver. Semakin lama ciuman itu semakin panas. Sue kembali menegang saat tangan Silver menyentuh perutnya. Ketakutannya menjadi-jadi. Ia tidak ingin hartanya direbut dan dibuang paksa oleh Silver.
"Sil!"
Pintu dibuka paksa dan nampaklah wajah penuh amarah Peyton. Ia mendekat dan menarik paksa Silver yang masih menyentuh Sue.
"J*l*ng!" teriaknya dan menampar pipi Sue. "Beraninya kau menggoda kekasihku! Aku akan mengirimmu ke neraka!"
Sue yang terkejut oleh tamparan itu menatap datar ke arah keduanya.
"Aku akan membunuhmu!"
"Berhenti! Kau tidak berhak menyentuh milikku, Python!"
"Dia milikku juga!"
"Python!"
"Kau bahkan tidak pernah menciumku!"
.
.
.
.
Epilog :
Sue terjepit di antara pintu dan tembok saat Alfonso membuka pintu. Kepalnya terantuk sehingga terjatuh.
"Nona!" teriak salah satu bodyguard.
Saat Alfonso menarik pelatuknya, bodyguard itu menghalangi tubuh kecil Sue dan timah panas itu bersarang di dadanya. Untungnya, bodyguard itu memakai rompi anti peluru.
Alfonso terjatuh saat pria itu memukulnya.
"Beraninya kau memyentuh barang milik Tuanku."
*****
Love,
Xie Lu♡