Devil Side Of The Athlete

Devil Side Of The Athlete
After Marriage 4



Happy reading!😊😘


.


***


"Jangan menyentuh anakku, D'antonio!"


Diego tidak menghiraukan teriakan Silver yang menggema di telinganya. Ia sibuk pada aktifitasnya saja.


"Hei! Beraninya kau menciumnya!"


Dengan senyuman tengilnya, Diego menjawab, "Dia akan menjadi milikku, Uncle!"


"Aku sudah mengatakannya, kau tidak akan mendapatkan apapun, D'antonio!"


"Aku akan berusaha. Kita lihat saja nanti, Uncle, siapa yang akan menang taruhan itu."


"Aku tidak menyetujui taruhanmu!"


Diego tersenyum aneh, membuat Silver bersiaga satu.


"Kau melupakannya, Uncle!"


Bisikan di telinganya membuat Silver menyentil jidat anak kecil itu.


"Sakit, Uncle!" teriaknya berlari menjauh seraya menjulurkan lidahnya pada Silver yang terpaku melihat Alita sedang tertidur pulas di pangkuan ibunya.


Sepulang dari rumah sakit, Diego terus menempel pada Sue dan berakhir di rumahnya. Bertha, sang ibu, tidak kuasa menolak keinginan Diego untuk ikut bersama.


"Apa kau terganggu dengan kehadirannya?"


Sue menggeleng, senyuman di bibirnya membuat Silver menghembuskan napas pasrah.


"Dia mengacaukan hariku, Lita. Aku tidak menyukai anak kecil itu. Kemampuannya tidak seperti anak-anak seumurannya, dia berbeda."


"Aku menyukainya karena itu. Kau iri?"


Silver mendengus tidak suka. "Aku bukan tipe pria seperti itu."


Sue terkekeh, ia berusaha melepaskan tangan Silver yang menyentuh bagian tubuhnya.


"Kau minder mengatakannya, Sil. Katakan saja demikian, aku selalu melihat ada tatapan cemburu di matamu saat Diego mencium Alita."


"Astaga, aku hanya tidak suka dia menyebut anakku miliknya."


"Dan kau iri."


Sue tergelak melihat mata Silver meredup seolah mengiyakan perkataannya.


"Jangan khawatir, Diego hanya anak kecil. Semuanya akan berubah saat dia dewasa."


Silver menghempaskan dirinya di ranjang dan memeluk Sue dari belakang. Pikirannya menerawang jauh. Entah apa yang dipikirkannya, hanya seringai di bibirnya yang terlihat jika ia sedang merencanakan sesuatu.


Tangannya kini mencubit pelan pinggang istrinya dan sesekali menciumnya mesra.


"Ini seksi," bisiknya.


"Sil!"


"Aku hanya mengatakannya, Sayang. Apa yang kau pikirkan?"


"Astaga, Sil!" Sue balas mencubit paha Silver karena gigitan sang suami mengganggu konsentrasinya.


"Uncle!" Diego mendekat dan melihat Silver menyembunyikan wajahnya di pinggang Sue. "Ck, kau seperti bayi badak, Uncle."


"Apa?! Beraninya kau mengataiku seperti itu!"


Ia bangun, ketika ia hendak menarik Diego, tangan anak kecil itu sudah mencubit pipi Alita dengan gemas dan mencium pipi bayi mungil itu.


"D'antonio!"


"Kau cemburu, Uncle!"


"D'antonio!"


"Apa?!"


"D'antonio!"


"Berhenti berteriak, Uncle, kau membangunkan My Angel!"


Setiap Silver menyebutkan namanya, sebanyak itu pula Diego mencium Alita. Hingga Alita benar-benar terbangun oleh perdebatan keduanya.


"Kau benar-benar melakukannya, Uncle!"


Sue segera menepuk-nepuk pantat anak kecil itu, mengalihkan perhatiannya agar kembali tertidur. Namun, yang terjadi malah Alita tersenyum lebar melihat Diego.


"Jangan tersenyum padanya, Sayang," tutur Silver dengan mata tajamnya menatap Diego yang menyengir di tempatnya.


Alita yang tidak henti tersenyum itu membuat Sue terkikik geli melihat wajah masam suaminya.


"Kau jelek dengan wajah seperti itu, Sil."


"Dia memang jelek, Aunty. Aku heran bagaimana Aunty bisa menyukainya."


Mata Silver mendelik sempurna. Ia bangkit berniat mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja, tapi Diego menarik tangannya dan berbisik.


"Kau lihat 'kan? My Angel tersenyum padaku."


"Kebetulan."


"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Uncle. This is a destiny."


"Kau?!"


"Aku mengatakan kebenaran, Uncle."


"Never mind, kau membuatku kesal."


Ia berlalu menjawab panggilan di ponselnya.


***


"Sesuatu terjadi?"


"Hanya tentang pembangunan itu."


"Kau terlihat tidak baik-baik saja, Sil."


"Hm, jangan dipikirkan. Aku baik-baik saja."


Sue mengerucutkan bibirnya yang langsung dicium oleh suaminya.


"Dimana Diego?"


"Di kamar Alita."


"Apa?! Kenapa kau membiarkannya di sana? Dia akan mengganggu anakku."


Sue berdecak, sampai segitu kesalnya Silver pada Diego. Ia berjalan masuk ke kamar mandi diikuti oleh Silver.


"Jangan terlalu membencinya, Sil. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan."


"Dia menyebalkan, Sayang. Kau mengenalnya, bukan? Anak kecil yang terlalu pandai bermain senjata membuatku khawatir."


"Waktu pasti akan mengubahnya, percayalah. Tengoklah ke belakang juga, Sil. Pertemuan kita tidak secara baik-baik. Adakalanya kita harus belajar dari masa lalu untuk menilai seseorang."


"Kita berbeda." Tangannya bergerak membuka kancing piyama sang istri dan menyalakan shower. "Kau malaikat yang berhasil menembus pertahanan diriku. Yang selalu kucari disaat kegelapan menutup mataku."


Sue mendengus mendengar gombalan itu.


"Kalau begitu, anggaplah putrimu seorang malaikat untuk seseorang di masa depan."


"Bukan untuknya."


"Sensitif sekali," cibir Sue.


Ritual mandi itu berlalu dengan perdebatan keduanya. Kini, Sue tidak lagi takut pada tatapan tajam sang suami. Apa yang bisa dibantah, ia akan melakukannya dan berakhir dengan Silver yang selalu mengalah karena Sue akan terus merajuk jika ia tidak melakukannya.


Setelah selesai, mereka masuk ke dalam walk in closet dengan Sue dalam gendongan sang suami. Memilah gaun yang akan dipakaipun, Sue harus mendapat izin dari Silver.


"Jangan pakai yang itu! Terlalu seksi!"


Sue memilih gaun yang lain.


"Itu terlalu terbuka."


Lagi.


"Tidak ada lengan. Ganti!"


Sue berdecak malas. Ia memilih lagi.


"Terlalu pendek."


Menghadapi keposesifan Silver harus menyediakan stok kesabaran yang tidak bisa terkuras. Sue menghembuskan napasnya.


"Hei, apa yang kau lakukan? Jangan menggodaku dengan merah seksi itu!"


Karena kesal, Sue membuka lagi gaun itu dan memilih yang lain.


"Kerahnya terbuka, jangan!"


"Astaga, aku bisa mati kesal di sini," omel Sue dan terus mencari gaun yang menurutnya cocok dengan syarat dari Silver.


"Warnanya sangat mencolok. Mataku sakit!"


"Huh, alasan tidak masuk akal."


Ia memilih lagi.


"Punggungnya memiliki ventilasi, jangan coba-coba memakainya! Ganti!"


Habis sudah stok kesabaran Sue. Dengan wajah memerah karena menahan kesal, ia mengeluarkan semua pakaiannya dari gantungan dan membiarkannya teronggok di lantai.


"Pilihlah untukku. Aku sudah kelelahan, anakmu akan kelaparan nanti."


Dengan senyuman devilnya, Silver memeluk istrinya yang sedang merajuk itu.


"Jangan memelukku. Kau membuatku kesal."


Rontaan Sue tidak seberapa, apalagi ketika Silver menggigit kecil leher jenjangnya dan meninggalkan jejak di sana.


"Aku suka melihatmu tanpa baju seperti ini," bisiknya dengan suara parau.


"Silver! Bagaimana kalau Bertha melihatnya? Astaga, ini benar-benar gila."


Ia melihat warna merah di lehernya sangat banyak. Wajahnya kini merona malu dengan tangan yang terus mencubit perut Silver.


"Aku memang ingin dia melihatnya. Indah, bukan?"


"Indah kepalamu! Cepat pilih baju untukku!"


"Biarkan saja seperti ini."


"Sil! Anakmu masih membutuhkanku."


Silver tidak peduli. "Aku juga membutuhkanmu, Sayang. Biarkan seperti ini sesaat."


Hingga suara tangisan Alita terdengar dari kamar sebelah. Terburu-buru, Sue mengambil salah satu gaun teratas dan memakainya. Ia berlari meninggalkan Silver yang melotot sempurna.


"Jangan memakai itu, Sayang! Lita! Lita! Oh astaga, dia pasti ingin menggodaku dengan warna merah itu." Ia menghembuskan napas pasrah. "Sabar, ini tidak akan lama. Hanya lima minggu," ucapnya seraya mengelus dadanya.


Ia keluar dari sana dan tepat berpapasan dengan Julie.


"Tolong rapikan pakaian istriku, Julie."


"Baik, Tuan."


***


.


Love,


Xie Lu♡