
Happy reading!๐๐
.
*****
Manik hijau itu terbuka, mengerjap pelan menyesuaikan cahaya redup yang masuk ke kelopaknya. Hingga siulet seorang perempuan yang sedang duduk sambil tersenyum memudarkan rasa ingin tahunya.
"Kau sudah bangun, Tuan," ucap Sue senang.
"Kenapa kau di sini?" Silver mencabut semua jarum dan peralatan medis yang menempel di tubuhnya dan beranjak dari ranjangnya.
"Eh? Tuan...."
"Apa kau gagap? Aku tidak sakit, kalian yang berlebihan."
"A-aku dijemput Kris dari apartemen, Tuan."
Mata hijaunya menatap tajam yang membuat Sue menudarkan senyumnya.
"Pergi dari kamarku!"
"Tu-tuan...."
"Enyahlah!"
Sue terdiam. Dia merasa terkejut dengan suasana seperti ini. Silver tiba-tiba mengusirnya. Dan yang lebih menegangkan lagi, ada darah yang keluar dari bekas jarum infus.
"Tenanglah, Tuan. Aku tidak akan kemana-mana."
"Kau ingin pergi, bukan? Sekaranglah waktunya. Aku sudah tidak peduli lagi pada anak yang kau kandung!"
Sue menengang. Perkataan tajam dan pedas itu menghentikan semua kalimat yang hendak keluar dari mulutnya. Matanya mulai berkaca-kaca tetapi senyuman di bibir diusahakannya tetap terpancar.
"Aku tidak akan pergi, Tuan. Dia membutuhkanmu."
Sue mengambil tangan Silver dan meletakkannya di perutnya. Hal itu membuat Silver menatapnya tajam seakan ingin membunuhnya.
"Buang saja jika menyusahkan!" ketusnya seraya menarik tangannya.
Sue terpejam menahan semua rasa sakit yang menancap di hatinya. Ini lebih sakit dari pada dipukul dan ditendang oleh Silver. Mudah sekali bagi pria itu mengatakannya. Tidak mengetahui perjuangan Sue mempertahankannya dari kematian.
Tanpa disadari, air matanya jatuh. Dalam diam, Sue menangis. Karena tidak ingin membuat Silver semakin marah, dia memilih tak mengeluarkan isakannya dan meredamnya dalam tundukan.
"Maaf...."
"Enyahlah kau bersama anakmu! Aku tidak menginginkannya lagi!"
Tidak banyak yang bisa dilakukannya, Sue memberanikan diri menatap manik hijau itu.
"Kenapa kau mengatakan itu, Tuan? Bukankah kau tertembak karena ingin menyelamatkannya malam itu? Kemana kepedulianmu sekarang?"
Silver menghempaskan tangan Sue yang hendak menyentuh tangannya.
"Aku mungkin kerasukan hingga tidak memerhatikan keselamatanku sendiri. Sekarang aku sudah menyesalinya. Pergi dari hadapanku!"
Sue menggeleng dengan suara tercekat. "Kau menginginkannya, Tuan. Jangan menyangkal isi hatimu!"
"Apa yang kau tahu tentangku, j*l*ng! Itu anakmu. Mungkin kau mendapatkannya dari hubunganmu dengan pria lain."
Sue terkejut, tidak menyangka apa yang ada di dalam hati Silver adalah dugaan seperti itu. Dia mengepalkan tangannya menahan amarah. Jika saja Silver sekarang tidak sakit dan sedang dirawat, sudah dipastikan tangannya akan mendarat di pipi pria itu. Pria yang menghamilinya dan sekarang menuduhnya pergi dengan lelaki lain. Salahkah ia jika mengumpat dalam hati?
"Anda salah, Tuan. Saya tidak pernah bisa keluar dari mansion ini setelah anda melakukannya!"
Silver tersenyum sinis. "Oh ya? Bagaimana dengan Hawaii? Bukankah kau pergi lebih jauh dari yang terlihat?"
Sue ingat. Bukan keinginannya untuk ke sana, tetapi Rodrigo yang menipunya hingga dia berakhir di sana bersama pria itu.
"Anda salah paham, Tuan. Saya tidak melakukannya bersama Rodrigo."
"Apa yang tidak mungkin jika pasangan muda yang normal hidup bersama?"
"Aku dan Rodrigo buktinya. Aku tidak serendah itu, Tuan. Kau menyebutku j*l*ng dan pelayan rendahan, bagaimana denganmu? Meniduri perempuan yang kau sebut j*l*ng dan menghamilinya, bukankah itu termasuk perbuatan bejat? Kau menginginkan tubuhku dan tidak menerima hasil dari benih yang kau tabur. Kau jahat, Tuan...."
Tidak bisa menahan perasaannya, Sue akhirnya berucap, "Aku memaafkan semua kesalahan yang kau buat padaku dan papaku, tetapi tidak untuk anakku. Aku tidak ingin dia melihat dan mengetahui siapa ayah yang sudah tidak menginginkannya. Aku membencimu, Tuan...."
Dengan segala amarah dan kekecewaannya, Sue berangsur pergi dari kamar itu dengan air mata yang terus mengalir. Kehadirannya di sini tidak diinginkan. Tanpa belas kasihan Silver telah mengusirnya, menyuruhnya membuang anak yang masih sangat rapuh itu.
Sue tidak menginginkan itu. Meskipun dia masih sangat muda dalam urusan itu, dia tidak ingin menyia-nyiakan berkat yang sudah Tuhan berikan. Malaikatnya adalah segalanya. Sue tidak ingin kehilangan momennya menjadi seorang ibu.
Sue masih ingat dengan jelas bagaimana kasih sayang Marcelin yang dicurahkan padanya. Jadi, anak kecil yang tidak berdosa itu juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Sue akan membesarkannya seorang diri jika itu yang diinginkan Silver.
*****
"Apa yang terjadi, sayang? Kenapa kau menangis? Sil baik-baik saja, bukan?"
Diberondong pertanyaan sebanyak itu mendadak Sue jadi diam. Gregoria nampak panik di hadapannya. Sejak tadi, wanita paruh baya itu tidak pulang. Dia menunggu di mansion itu.
"D-dia baik-baik saja, Mom."
"Kenapa kau menangis? Apa dia menyakitimu?"
Sue menggeleng. Bahasa tubuhnya berbohong tetapi matanya tidak demikian membuat Gregoria menaruh curiga.
"Dia membentakmu? Atau kembali memukulmu?"
"Tidak, Mommy."
"Jangan berbohong, sayang. Aku mengenal anak nakal itu. Apa dia sedang lapar?"
"Tidak tahu, Mommy. Dia melepas infusnya."
"Dia melampiaskannya kepadamu," gumam Gregoria. "Kau bisa memasak?"
"Hah?!"
" Jangan bengong. Anak nakal itu pasti lapar, cepat buatkan dia makanan."
"A-apa? Mom, dia mencabut infusnya. Apa tidak masalah?"
"Ayo ke dapur!"
Belum sempat Sue menolak, Gregoria sudah menarik tangannya. Memaksanya melakukan sesuatu di dapur dan mengusir semua pelayan yang berada di sana.
"Buatkan makanan yang manis, jangan yang pedas karena kemarahannya lebih menyeramkan dari malaikat pencabut nyawa."
"Apa maksudmu, Mommy? Bukankah dia suka makanan pedas?"
"Tidak, dia suka makanan manis."
"Tapi dia memakan habis Vatapa yang ku buat kemarin," gumam Sue.
"Apa? Dia menghabiskannya? Astaga, Sue, dia bahkan tidak pernah menyentuh makanan itu sedikitpun. Dia pasti menghargai usahamu. Dan mungkin juga mencintaimu."
"Tidak mungkin!" pekik Sue. Ia terkejut sendiri dengan suaranya yang meninggi. "Maaf, Mommy!"
"Aku tahu kau tersanjung. Cepat masak sesuatu sebelum dia ******* habis tulang kita!"
"Apa separah itu kemarahannya jika lapar?" tanya Sue polos.
"Mommy!"
"Ya, dia akan memakanmu di ranjang."
Sue mengerucutkan bibirnya. "Aku serius, Mommy."
"Aku bahkan lebih serius."
"Cepat lakukan pekerjaanmu. Buatkan makanan yang enak, ok!"
"Mommy mau ke mana?" tanya Sue saat Gregoria berbalik pergi.
"Menelpon pria tua yang sedang menyiksa diri!"
"Siapa?"
"Kau akan tahu sendiri!"
Kesendiriannya di dapur membuat Sue dejavu, mengingat kapan pertama kali dia melihat amarah Silver. Dan penyebabnya adalah Paula.
Dengan tangan gemetar, Sue memulai kegiatan menguras keringat di dapur. Keningnya bercucuran butiran halus dan ia menyekanya dengan ujung lengan gaun yang diapakainya.
Tidak butuh waktu lama, semua makanan sudah tersedia.
"Mommy!"
Tidak ada sahutan. "Mommy!"
"Ya, aku di sini!"
Sue pergi ke arah suara. Dia terkejut melihat Gregor sedang memeluk ibunya, menangis pilu di bahu ibunya.
"Mom...."
"Pria tua ini menginginkan pelukan, Sue."
"Jadi, dia pria tua yang dimaksud mommy?"
"Kau mengenalnya, Sue. Dia sudah tua tapi belum memberiku cucu."
"Mommy, kau tahu aku sudah punya kekasih."
"Aku tidak menyukainya, Greg."
"Dia yang terbaik buatku, Mom."
"Tapi tidak menurut Mommy!"
Seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana mendengar lagi percakapan antara ibu dan anak itu. Air matanya kembali jatuh. Bukan kali ini saja Zamora mendengar pengakuan seperti itu, tetapi berkali-kali bahkan di depan matanya sendiri.
"Mommy...." Zamora mendekat.
Suara itu tentu saja membuat Sue terkejut bukan main. "Kau?!"
Zamora tersenyum hambar. "Ya, aku kekasihnya, Sue."
"Bagaimana mungkin?"
"Kau mengenalnya, Sue?"
"Mora temanku, Mommy."
"Oh ya? Maaf mommy tidak tahu. Mommy memang tidak menyukainya karena dia terlalu muda bagi anakku yang sudah tua ini. Dia pedofil, Sue."
"Mom!"
"Kau memang pedofil, pria tua!"
"Astaga, mom. Aku dan Ele saling mencintai."
"Baiklah, terserah kau saja. Asalkan kalian segera memberiku cucu yang tampan, bermata biru seperti milik gadis Amerika ini. Dan wajahnya harus sama persis sepertiku!"
Gregor memutar bola matanya. Permintaan ibunya sangat aneh. Bagaimana membuat anak dengan ciri-ciri seperti itu?
"Mom! Dia harus sama dengan wajahku dan Ele."
"Buatlah seperti itu jika aku ingin mengusirmu dari rumah!"
"Astaga."
"Sudahlah, Greg. Kita pasti bisa membuatnya 'kan?" Zamora mengedipkan matanya ke arah Gregor membuat Gregoria mendelik sebal.
"Menjijikkan. Pergilah buat cucu untukku!"
"Terima kasih, Mommy," ucap Zamora seraya memeluk Gregoria.
"Lakukan yang terbaik untuk menjaga pria tua yang jahat itu. Kau harus bisa membuatnya minta maaf pada Sil."
Zamora tersenyum mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada Gregoria.
"Sue, hidangkan makanan itu! Ayo makan bersama!"
Tak lama setelahnya, Silver turun dan memberikan tatapan tajam pada Sue.
"Enyahlah dari sini, j*l*ng!"
.
.
.
.
Author : rame banget ya tagar di rumah aja, nah tetangga gue semuanya negatif korona tapi positif dua garis merah
Netizen : makan tidur makan tidur gitu seterusnya, olahraga ya harus di rumah aja kali. emang apa yang mau dikerjain selain olahraga๐
Author : iya, kayanya emang gitu๐
Netizen : iyalah lu aja yang kaga peka
Author : terseraah...
.
*****
Yang lagi marah tetapi diduga sedang kelaparan
Cewek gapeka