
Happy reading!😊😘
*****
Hari yang baru, semangat yang baru, itulah prinsip semua orang saat menghadapi hari baru yang penuh misteri. Tetapi tidak bagi perempuan pemilik manik kuning itu.
Kelopak matanya bengkak, rambut blondenya acak-acakan. Tatapannya kosong, memandangi luar mansion itu lewat celah jendela. Kejadian semalam mengubah seluruh tujuan hidupnya. Tidak ada lagi tenaga untuk menyambut mentari yang sudah menepati janjinya untuk menyinari bumi.
"Kau hanya pelayanku dan aku tuanmu. Apapun yang aku lakukan semua atas keinginanku dan kau tidak berhak melarang sedikitpun."
Kalimat panjang berisi penghinaan itu mengoyak seluruh harga dirinya.
Benar, aku hanya pelayan tetapi aku punya harga diri, Jerk.
Kisahnya kini berakhir dengan kata andai.
Andai ia punya keberanian untuk berkata seperti itu, andai ia tidak adu nyali untuk mengintip ruang rahasia itu, andai ia mendengarkan perkataan Carissa waktu itu, andai ia punya kekuatan melawan pria bermanik abu yang merampas toko bunganya waktu itu.
Butiran kristal itu kembali jatuh, menenggelamkannya dalam kenyataan pahit.
"Papa, bagaimana kabar papa di sana? Sue takut di sini. Tolong bawa Sue pergi."
Keheningan itu terbuyarkan ketika ponselnya berbunyi. Nama Zamora tertera di sana.
"Aku akan pulang ke Amerika besok. Kau baik-baik di sana ya!" Suara Zamora terdengar sangat ceria. Sepertinya ia sangat bahagia pulang ke negara asalnya.
Sue tersenyum kecut. Baik-baik? Dunianya sekarang hancur. Namun, untuk meyakinkan Zamora agar tidak khawatir, ia akan berusaha.
Ia berdehem kecil. "Oh ya, baguslah. Jangan lupakan aku ya," pintanya sambil terkekeh.
"Apa kau baik-baik saja? Suaramu serak, apa kau sakit?"
Sue gelagapan. Ternyata kepekaan Zamora masih melekat sempurna dalam indra pendengaran. "Hei, ayolah. Aku tidak mungkin sakit. Aku baru saja bangun tidur."
"Oh baiklah. Jangan sembunyikan apapun dariku, ok?"
Ia tersenyum tipis, temannya itu berhati malaikat. "Kalau tidak lupa."
"Hei! Jangan membuatku kesal, Sue."
"Aku akan berusaha, tapi tidak janji."
"Ck, itu sama saja. Bagaimana dengan idolamu itu?"
Sue kembali mengingat peristiwa semalam. Dimana orang yang ia banggakan, orang yang ia dukung merenggut paksa mahkotanya. Namun sialnya, ia tak bisa membenci Silver sedikitpun.
"Apanya yang bagaimana?"
"Astaga, Suelita. Kau benar-benar menguras energiku. Maksudku, apa kau bisa dekat dengannya? Seperti .... Ya, kau tahu maksduku. Antara fans dan idola."
Menghela napas kasar, antara jujur atau tidak, Sue bingung.
"Antara langit dan bumi, menurutmu apakah langit akan memuja bumi? Mustahil!"
Terdengar kekehan dari seberang sana. "Semoga kau berhasil."
"Apa?"
"Dia tipe pria idamanmu."
"Sekarang tidak lagi."
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada."
*****
"Kau tahu pelakunya?"
"Aku tidak mungkin se-frustasi ini kalau aku mendapatkan informasi dari wanita tua itu semalam."
"Lalu, bagaimana dengan pesan itu? Apa Barbara mendapatkan sesuatu?"
"Ayolah, Rod. Jangan membuatku kesal dengan pertanyaanmu itu. Aku sedang bernasib sial hari ini."
"Yang benar saja." Rodrigo bersungut sebal.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pemusatan latihan. Ya, beberapa minggu ke depan akan diadakan pertandingan Liga Eropa. BrazillÃa, tim negara Brazil itu termasuk di dalamnya setelah berhasil menaklukan tim negara Spanyol dua minggu lalu.
Silver bersandar di jok sambil menutup matanya. Senyum iblis tercetak di bibirnya.
Dasar tikus tidak berguna.
Pikirannya berkelana pada kejadian semalam. Gadis itu menangis, meronta ingin melepaskan diri darinya. Hingga akhirnya ia lelah dan memasrahkan diri.
"Aku baru saja mulai dan kau sudah menagis, tikus kecil. Bagaimana kalau aku membiarkanmu melihat darah ayahmu tumpah di bawah kakimu sendiri?" gumamnya yang tidak didengar Rodrigo.
"Apa?"
📩Lorenzo
~Nona Johanna benar-benar dinyatakan mempunyai hubungan asmara dengan atlet bulutangkis itu, Tuan.~
"B*tch, dasar wanita murahan." Ia mencengkram kuat kemudi itu. Wanita yang dipujanya bermain api di belakangnya. Ia tidak akan memaafkan perbuatan wanita itu kali ini. "I'll kill you both, Jerk."
Silver yang hampir ketiduran di sampingnya menoleh. Keningnya berkerut. "Kenapa kau mengumpat? Ada masalah apa?"
"J*l*ng itu berulah lagi."
Silver terkekeh. "Habislah kau. Aku sudah memperingatkanmu. Jangan bermain api kalau kau takut terbakar."
Rodrigo memicingkan matanya. "Bagaimana denganmu? Bukankah kau sama saja? Paula terlalu buta tidak menyadari kekasihnya adalah pria brengs*k."
Silver tiba-tiba mengingat kejadian semalam. Ia telah mengkhianati kekasihnya, wanitanya, cintanya.
"Dia berbeda. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku akan membunuhnya bila perlu."
Silver terkekeh lagi. "Benarkah? Aku menantikan hari itu. Hari dimana seorang pemuja wanita mengakhiri hidup kekasihnya sendiri. Siapa lagi lawanmu sekarang?"
"Atlet Bulutangkis Denmark yang terkenal itu."
"How pity you are. Dia lebih tampan dan lebih kaya darimu. Maklum saja kalau Johanna memilih berpaling."
"Sialan."
"Hahaha .... Aku bahagia kalau orang lain menderita." Ia tertawa sampai air matanya keluar.
"Kau bukan temanku, Sil."
Silver mengedikkan bahu. "Kau benar. Tergantung dari pemilihan waktunya."
"Kau membalasku rupanya."
"Jangan lupa, kau yang memulai."
*****
Di bawah sinar mentari pagi yang penuh keceriaan, segerombolan anak manusia sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Para goalkeeper menjalani training centernya bersama pelatih khusus yang menangani bagian gawang. Sedangkan pemain tengah yang bertugas menahan serangan dan bertugas menyerang berada di bawah pengawasan pelatih kepala dan beberapa asistennya.
Jangan lupakan, petugas medis dan ambulans berjejer di pinggir lapangan dengan kotak putih andalan.
Kilatan cahaya dari kamera berlensa menyilaukan mata. Ada yang sekadar memotret para atlet yang sedang menjalani pemusatan latihan, adapula yang sengaja meluangkan waktu untuk memantau perkembangan para atlet agar menjadi hot news bagi penggemar setia.
Silver sedang melatih pergelangan kakinya di antara puluhan benda bulat berisi udara itu. Sesekali ia menggiring, meliuk-liuk di antara kubu berwarna kuning, dan menendangnya ke arah gawang yang dengan sigap ditangkap oleh penjaga gawang.
"Kau belum berhasil, Sil," teriak penjaga gawang yang berhasil menangkap bola itu.
Ia tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Tanpa aba-aba, ia menendang lagi dan berhasil menbobol gawang itu.
Sontak semua yang menyaksikan itu tertawa melihat mimik kecewa penjaga gawang itu.
"Aku telah mengalahkanmu, Da Costa," teriaknya sambil terkekeh.
"Hanya sekali. Lagi!"
Semua yang menyaksikan itu berteriak saat Silver menendang bola dengan kaki andalannya. Sebastian Da Costa, penjaga gawang itu siaga dengan jantung berdebar-debar. Saking gugupnya, ia tidak menyadari bola itu sudah mendarat di perutnya.
"Hahahaha...."
Teriakan histeris kebahagiaan dan kasihan bersahut-sahutan.
"Desole (Maaf), aku tidak sengaja." Silver berlari mendekat dan mengulurkan tangannya membantu Sebastian yang terjatuh.
"Merci. (Terima kasih)."
Seorang petugas medis langsung mendekat, tapi dihalau oleh Sebastian. "Aku baik-baik saja."
Latihan itu berakhir ketika cahaya lembayung dari ufuk barat menyapa mereka.
Silver segera mengganti pakaiannya dan mengecek ponselnya. Banyak panggilan tidak terjawab dari Barbara. Satu pesan singkat membuatnya penasaran. Ia membukanya dan terkejut dengan isi pesan itu.
"Ada hasil?" tanya Rodrigo yang melihat mimik aneh Silver.
Rahang Silver mengeras, tangannya mengepal dan matanya tajam memperhatikan pesan itu.
"Mafia sialan!" Ia meninju tembok ruang ganti itu.
*****
Love,
Ig : @xie_lu13