
Happy reading!
.
***
Tiga hari waktu yang sangat lama bagi Silver untuk menunggu kesiapan Profesor Caesar. Lelaki tua itu sudah bisa mengidentifikasi formula racun yang masuk ke dalam mata Sue, memungkinkannya untuk bisa mengembalikan mata kuning itu seperti semula.
"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang," ucap Silver menenangkan istrinya yang tampak cemas.
Sue merasa tegang mendengar dirinya akan berbaring di ruang operasi. Selama ini dia belum pernah mengalami hal berat hingga berujung di meja operasi, dan ini sungguh mendebarkan lebih dari debaran jatuh cinta pada Silver.
"Aku dan anak-anak mendoakanmu, kau harus bekerja sama dengan baik. Setelah operasi berjanjilah untuk baik-baik saja." Silver mencium kening Sue lama, menyalurkan rasa aman untuk istrinya.
Seseorang yang sedang duduk di sofa sambil memasang lego berdehem melihat Silver hendak mencium bibir Sue.
"Uncle, maaf, anak di bawah umur," ucapnya menyeringai saat mata tajam Silver hendak membunuhnya.
Sue yang mendengar itu langsung mendorong dada Silver, dia rasa pipinya memanas. Sudah pasti memerah.
"Sil, kau selalu tidak tahu tempat," bisiknya pelan dan mencubit perut yang sangat liat itu.
Wajah datarnya terus memandang tidak suka pada Diego. Dan Diego dengan tampang tidak berdosanya membalas tatapan itu.
"Biarkan saja, tidak ada yang melarang. Kau istriku, untuk apa malu?"
Sue menggeleng. "Ini tidak baik dilihat anak-anak."
"Tutup matamu, D'antonio!"
Diego mengerucut, menghentikan pemasangan pada lego yang hampir selesai dan pergi ke ruangan kecil tempatnya menyendiri.
Di dalam kamar itu, Diego kembali merenung. Ada hal yang tidak dibicarakannya pada Sue. Dia tidak ingin wanita yang menyayanginya itu tidak fokus pada operasinya.
Kepergiannya mungkin akan membuat wanita itu sedih, tapi ini adalah janji yang sudah dibuat. Diingkari akan merugikannya sendiri, Bertha pasti tidak akan melepas begitu saja.
"Maaf, Moon," gumamnya.
Sementara itu, Sue yang merasa gerah di tempat tidur mendorong Silver yang selalu mendekat.
"Aku ingin mandi, Sil. Tolong biarkan Martha masuk."
Silver merasa kesal, dia mengangkat Sue membuat wanita itu refleks melingkarkan tangannya di leher Silver.
"Aaaa ... apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!"
"Diamlah, aku tidak mengizinkan siapapun melihatmu. Kau selalu menolak untuk mandi bersamaku."
Sue terpojok. Dia tidak memiliki alasan lagi untuk menolak. Silver sudah menurunkannya di dalam bak mandi, membuka pakaiannya dan mengisi bak itu dengan air hangat.
"Sil, aku pasien sekarang. Jangan macam-macam padaku!" Sue waspada saat tangan Silver mengelus tengkuknya dengan menggoda, membuat dia menggigit bibir bawahnya.
"Aku hanya ingin mengikat rambutmu, Sayang. Apa yang kau pikirkan?" Silver benar-benar mengikat rambutnya, tapi dengan tangan yang masih sedikit nakal.
"Sil!"
"Itu tidak sengaja."
Sue mengerucut, dia mendorong Silver setelah mengikat rambutnya. "Aku sudah bisa melakukannya sekarang. Kau pergilah."
"Baiklah, aku di luar kalau kau sudah selesai."
"Hm."
***
Jadwal operasi sudah ditetapkan. Pagi ini, dokter Noah sudah siap di ruang operasi.
Mendengar fakta itu, Sue gemetar. Tangannya terasa lemas, tak bertenaga. Sue cemas, dia pernah mendengar kabar ada yang tidak bisa selamat di meja operasi.
Pikirannya langsung berkeliaran ke mana-mana. Overthinking terhadap sesuatu yang benar-benar menakutkan.
Tahu ada yang mengganggu pikiran istrinya, Silver menggenggam tangannya erat.
Silver mendekatkan Alita dan membiarkan Sue menyentuh putri kecilnya.
"Moon, kami di sini mendoakanmu," ucap Diego dan mengecup pipi Sue. Mungkin ini ciuman terakhir, Moon.
Diego tersenyum tipis saat tatapannya beradu dengan Silver.
Sue berusaha tersenyum, menyentuh kepala Alita dan mencium pipi bayi kecilnya.
"Moon akan baik-bajk saja."
Kedatangan suster memisahkan mereka. Silver duduk dengan cemas di kursi tunggu, memangku Alita dan Diego di sampingnya. Membiarkan Sue dibawa masuk oleh mereka ke dalam.
"Dad, apa kau akan membenciku? Ini benar-benar di luar dugaanku," cicit Diego takut-takut tatkala melihat lampu di ruang operasi sudah menyala.
Silver sudah mendapat kabar dari Bertha dan itu membuat Silver tidak banyak berbicara pada Diego.
"Aku berpikir itu yang terbaik untukmu, Shaun."
Anak laki-laki itu menegang. Tidak menyangka Silver mengetahui identitasnya yang lain, yang sengaja disembunyikan dari publik demi keamanan.
"Kau ... kau mengetahuinya?"
Silver terkekeh pelan, kepalanya menunduk untuk memerhatikan Alita yang bersandar di dadanya.
"Tidak banyak. Kau harus baik-baik saja di sana. Aku dengar, Bertha tidak akan ikut?"
Dia bisa melihat wajah Diego yang berubah murung, tidak seceria biasanya.
"Kau tahu alasannya, Uncle."
"Masih memanggilku begitu?"
"Sorry." Diego terkekeh kecil. "Bisakah aku datang setiap lima tahun sekali? Aku akan datang saat ulang tahun Mona Elle."
Tanpa menoleh, Silver mendengus kesal. "Kau anggap rumahku penjara yang harus meminta izin untuk memasukinya? Jika kau tidak mau, tidak usah datang!"
Anak kecil itu tergelak. "Kau lucu, Uncle. Aku benar-benar akan datang dan membawa 'pacarku' pergi saat tiba waktunya nanti."
Saat itu Silver menoleh dengan tatapan iblisnya. "Apa yang kau katakan?! Membawa pergi?!"
Dengan polosnya, Diego mengangguk. "Aku sudah mengatakannya dulu, Uncle."
"Kau tidak boleh! Dia putriku!"
Mendengar nada bicara Silver naik, Alita menangis keras. Membuatnya menimang putri kecilnya untuk meredakan tangisnya.
"Aku sudah mengatakannya dan aku tidak akan mengingkari janjiku, Uncle."
Berhasil menenangkan Alita, Silver mendelik ke arah Diego yang acuh tak acuh di tempat duduknya.
"Dan masih memanggilku 'Uncle'?"
Diego menyengir, dengan jahil dia mendekat. "Tunggu saatnya tiba baru aku dengan bangga memanggilmu 'papa mertua'. Sekarang kau sudah menyetujuinya 'kan, Dad?"
"Menyetujui kepala kalengmu?! Kau harus sukses baru bisa menjamin aku menyetujui atau menentangmu, D'antonio!"
Bangun dari tempat duduknya, Diego bersorak. "Yesss! Kau yang terbaik, Dad. Aku akan pulang setelah Moon selesai operasi."
"Secepat itu?"
"Mommy sudah mengurus segalanya untukku."
.
---
Love,
Xie Lu♡